Menjaga Kesucian Pikiran

Mutiara Weda Yogyakarta, 06/05/2025

Umat Sedharma, dalam susastra ada menyebutkan Dve karmani narah kurvaniha loke mahiyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu:

  1. Tidak sekali-kali mengucapkan perkataan yang kasar (tan ujar ahala).
  2. Tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat dan tercela.

Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada bedanya dengan membidik dan melepaskan anak panah. Setiap orang yang terkena pasti akan merasa sakit yang teramat dalam. Perkataan, jika maksudnya baik dan diucapkan secara baik-baik pula, akan menimbulkan kesenangan. Namun, apabila maksudnya baik tetapi tidak diucapkan dengan baik, justru dapat menimbulkan rasa duka.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, hendaknya selalu berhati-hati dalam perbuatan serta dalam mengeluarkan perkataan. Selalu menampakkan nilai kebajikan, kedamaian, serta berjiwa meneduhkan, menjaga kesucian pikiran (ahning maneb manah nira), dan berjanji pada diri sendiri untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran.

Niscaya, dengan demikian akan terbangun umat Hindu yang damai dan bahagia serta mendapatkan Amṛta dalam kehidupannya.

Made Worda Negara BINROH HINDU TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tata Kṣamā Sarvatra (SS. 93)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Tata Kṣamā Sarvatra (SS. 93) Etika memaafkan dengan penuh kesabaran adalah kekayaan yang paling utama (mahottama) bagi manusia. Kendalikan ego, emosi, kemarahan, dan kedengkian agar tumbuh kesabaran yang tulus untuk saling memaafkan. Memaafkan merupakan kemuliaan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat. I KETUT SUBAGIASTA Bagikan ke:

  • Sejarah Agama Hindu

    Berbicara sejarah Agama Hindu, penting untuk umat Hindu menoleh ke masa lalu, yakni masa atita. Sekilas tentang Asal Usul Agama HinduSebuah lokasi di lembah Sungai Sindhu di negeri India, daerah Jammu Kashmir, merupakan asal mula Agama Hindu. Mengenai asal Agama Hindu, dipercaya sebagai agama tertua di dunia yang bermula di Lembah Indus, India, sekitar tahun…

  • Musuh Utama Ada di Dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 12 Juli 2026 Umat Se-Dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kaliyuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri sebagai akibat dari ketidakmampuan mensinergiskan unsur Tri Guna, yaitu Satvam, Rajas, dan Tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (Ksama) merupakan sifat-sifat yang bijaksana dan mulia yang harus tertanam serta…

  • Nidhanam (BG III.35)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)8 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Nidhanam (BG III.35) Nidhanam berarti kematian. Menjalankan tugas mulia sebagai tugas utama diri sendiri, meskipun belum sempurna, tetap lebih baik daripada menjalankan tugas orang lain dengan lebih baik tetapi penuh bahaya atau bhayāvaha. Marilah memaknai filosofi Nidhanam (kematian) dalam kaitannya dengan Svadharma (tugas sendiri) dan…

  • Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7) Yadā Yadā Dharmasya Glānir mengandung makna bahwa kapan pun Dharma tidak dipatuhi dan mengalami kemerosotan, Hyang Widhi Wasa senantiasa menegakkan Dharma di jagat raya demi terciptanya ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh kehidupan (jagad hita), sehingga terwujud keadaan yang damai dan harmonis. I KETUT SUBAGIASTA…

  • Jalankan Swadharma

    Mutiara Weda Yogyakarta, 7 Juli 2026 Umat Se-dharma, dalam susastra diungkapkan bahwa manakala hidup menjelma menjadi manusia, tetapi ingkar dalam pelaksanaan Dharma, bahkan bingung dengan agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak, orang semacam ini disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk…