Sejarah Singkat Gita Santih Nusantara

Peralihan pola hidup masyarakat saat ini berlangsung begitu cepat. Berbagai aspek kehidupan telah beralih menjadi sesuatu yang serba instan, cepat, mudah, dan tanpa batas jarak. Hal yang paling mendasar dalam era digital saat ini adalah bagaimana kemajuan teknologi informasi mampu melahirkan kedamaian bagi dunia dan segenap isinya.

Kedamaian merupakan situasi damai atau perasaan tenteram di dalam diri manusia yang lahir dari kesadaran akan pentingnya perdamaian. Hal ini sejalan dengan proses evolusi manusia yang tidak hanya berlangsung pada tataran fisik, tetapi juga pada tingkat kesadaran spiritual.

Dalam konsep ajaran Dharma dikenal istilah Tri Hita Karana, yaitu tiga sumber kesejahteraan dan keharmonisan kehidupan. Dalam konsep ini, rasa bakti yang tulus kepada Sang Pencipta akan menumbuhkan rasa cinta kasih sejati kepada-Nya, sehingga manusia dapat merasakan kehadiran-Nya di dalam jiwa.

Salah satu bentuk pemujaan kepada Tuhan Sang Pencipta adalah melalui kirtanam, yaitu memuja keagungan Tuhan dengan melantunkan kidung-kidung suci. Salah satu bentuknya adalah Gita Santih, yaitu senandung atau nyanyian kedamaian.

Dengan melantunkan Gita Santih, diharapkan nilai-nilai Satyam (kebenaran), Sivam (kesucian), dan Sundaram (keharmonisan dan keindahan) senantiasa terpelihara. Kegiatan Gita Santih dalam berbagai bentuk diharapkan dapat membantu menciptakan suasana hening dan khusyuk yang dipenuhi getaran kesucian, sehingga pada akhirnya melahirkan kedamaian.

Kedamaian sebagai perwujudan kecintaan terhadap semesta dan seluruh isinya merupakan upaya yang patut dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Upaya tersebut menjadi bagian dari perjuangan untuk mewujudkan cita-cita perdamaian.

Senandungkanlah nyanyian perdamaian di dalam hati dan jiwa masing-masing. Pada gilirannya, hal tersebut akan mengantarkan manusia menuju sifat kedewataan (Madhawa) dan menjauhkan diri dari sifat keraksasaan (Danawa). Sifat demikian merupakan hakikat keseimbangan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Gita Santih di dalam jiwa manusia.

Berdasarkan uraian tersebut, Gita Santih Nusantara, yang disingkat GSN, berdiri pada tanggal 11 Juli 2020 atas prakarsa Ida Bhawati Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, SpPD-KR, yang menetap di Yogyakarta, dan Dr. I Gede Adiputra, M.M., yang berdomisili di Jakarta.

Visi

“Membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berkepribadian luhur.”

Misi

“Melalui senandung kedamaian menuju pikiran yang harmonis dan kesehatan jasmani untuk mewujudkan perdamaian dunia.”

Tujuan

Organisasi yang berbentuk perkumpulan ini mempunyai tujuan:

  1. Sebagai perwujudan hak warga negara Indonesia untuk berserikat dan berkumpul.

  2. Mempererat hubungan antaranggotanya melalui semangat kekeluargaan dan kebersamaan dalam keberagaman lintas iman, ras, dan golongan.

  3. Memperjuangkan hak-hak anggota.

  4. Melakukan advokasi dan memberikan perlindungan kepada anggota.

  5. Meningkatkan profesionalisme anggota.

  6. Meningkatkan peran serta anggota dalam berbagai kegiatan, mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional.


Bagikan ke:

Similar Posts