Filosofi Panca Suna Grhasthasya

Palangka Raya, 13.7.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan sebuah ajaran luhur dengan topik utama Panca Suna Grhasthasya, artinya seorang kepala rumah tangga memiliki lima macam penyembelihan, sesuai ajaran luhung pada pustaka suci
MĀNAVADHARMAŚĀSTRA SLOKA III-68, yang dikutip sebagai berikut:

“पञ्च सूना गृहस्थस्य चुल्ली पेषण्यु पस्करः
कण्डनी चोदकुम्भश्च बध्यते यास्तु वाहयन्”

pañca sūnā gṛhasthasya cullī peṣaṇyu paskaraḥ
kaṇḍanī codakumbhaśca badhyate yāstu vāhayan

Artinya:
Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan, yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung dan alunya, tempayan tempat air — dengan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa.

Sebagai kepala rumah tangga, telaten dalam urusan rumah tangga. Syarat menjadi kepala rumah tangga supaya memiliki lima sarana utama dalam rumah tangga. Kelima sarana prasarana disebut Panca Suna Grhasthasya, sebagai berikut ini:

  1. Tempat masak, maknanya kepala rumah tangga wajib memiliki dapur untuk memasak kebutuhan hidup sehari-hari bagi keluarga.
  2. Batu pengasah, maknanya bahwa kepala rumah tangga wajib memiliki alat untuk menumbuk bumbu, mengasah perabot rumah tangga untuk mengolah material konsumsi yang tersedia apik di rumah tangga.
  3. Sapu, maknanya bahwa kepala rumah tangga supaya memiliki sapu untuk sarana kebersihan, merawat kebersihan demi hidup sehat dan hidup dengan lingkungan yang rapi, indah, dan harmonis.
  4. Lesung dan alunya, maknanya bahwa kepala rumah tangga memiliki lesung, ketungan, dan alunya untuk menumbuk gabah menjadi beras. Juga menumbuk ramuan bumbu dan menghaluskan daging sebagai bahan olahan secara rutin. Era baru dengan blender, sehingga umat Hindu mengikuti inovasi perabotan rumah tangga. Sudah ada mesin penyosohan gabah, mesin parut kelapa. Hindu inovatif dan memiliki aparavidya atau ilmu teknologi maju.
  5. Tempayan tempat air, maknanya setiap kepala rumah tangga memiliki gebeh baas, gebeh yeh. Era kini dengan galon, kran, PAM, sumur bor dipompa dengan sanyo, sehingga air tersedia memadai untuk keperluan rumah tangga.

Intinya, bahwa Panca Suna Grhasthasya merupakan lima sarana prasarana rumah tangga yang wajib dimiliki. Era kini sudah maju. Asal ada aliran listrik, dapur diinovasi dengan kompor gas dan magic jar. Sapu diinovasi dengan mesin penyedot debu yang serba mesin. Lesung diinovasi dengan mesin penyosohan, ada mesin parut kelapa, ada blender untuk mengolah material bumbu. Pengasah ada alat inovatif untuk mempertajam perabotan.

Kelima alat rumah tangga tersebut adalah murti dari Panca Dewata, yakni Agni/Brahma, Paupati, Siwa, Wisnu, dan Sang Hyang Vayu. Usai memasak tetap maturan yajña sesa atau saiban untuk melepaskan ikatan noda dan dosa.

Pendidikan keluarga melatih anak rajin ngaturang yajña. Begitulah pendidikan keluarga dalam konteks Panca Suna Grhasthasya.

Semoga rahayu. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Paisunyam (SS.75)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)19.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Paisunyam (SS.75) Paisunyam adalah fitnah. Umat Hindu jangan berkata fitnah atau melakukan Paisunyam (Ujar Pisuna). Fitnah adalah dosa besar. Fitnah adalah berkata dusta. Fitnah adalah berkata yang merusak martabat. Fitnah tidak perlu dibalas dengan dendam atau advesa. Fitnah hendaknya diklarifikasi dengan jujur atau arjawa. Dosa fitnah…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/05/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak bergerak. Demikian pula halnya dengan orang…

  • Filosofi Asta Prakrti

    Disajikan topik filosofi Asta Prakrti artinya delapan sifat alami. Mari dimaknai delapan sifat alami pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव चbhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.“ Artinya:Tanah, air, api, udara, ether, pikiran,…

  • Ketulusan dalam Bhakti

    Mutiara WedaYogyakarta, 28/06/2025 Umat Sedharma,Dalam pustaka suci Weda Samhita disebutkan:“Sata hasta sama hara, sahasrahasta sam kira”,yang mengajarkan umat Hindu untuk menjalankan Punia Bhakti dengan ketulusan hati melalui seribu tangan. Sikap tulus ikhlas, murah hati, dan suka menolong berupa pemberian atau Punia Bhakti merupakan sikap bijak yang perlu dibangun oleh setiap umat manusia sebagai bentuk implementasi…

  • Ahning Maneb Manah Nira

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/05/2026 Umat se-dharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan yang kasar (tan ujar ahala), serta tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat dan tercela. Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada…

  • Pritih (BG. I.36)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA) 14 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Pritih (BG. I.36) Pritih adalah kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan. Setiap perbuatan ada yang mengakibatkan kebahagiaan dan ada pula yang mengakibatkan kesengsaraan atau papam. Keduanya akan dinikmati hasilnya oleh karta atau pelaku. Kebahagiaan dan kesengsaraan (papam) selalu berdampingan sebagai buah dari perbuatan manusia. Oleh karena…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *