PREMA: Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang

Mutiara Weda
Yogyakarta, 02/05/2025

Umat se-dharma,

Ajaran Prema merupakan ajaran kedamaian dalam kitab suci agama Hindu yang mengajarkan atau membimbing umat Hindu untuk saling mengasihi dan saling menyayangi dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, baik kepada sesama manusia, binatang/hewan, maupun kepada tanaman/tumbuhan, serta kepada Sang Pencipta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dikenal dalam falsafah Hindu Tri Hita Karana.

Dalam mengarungi kehidupan di dunia maya ini tak bisa lepas dari Rwa Bhineda. Demikian pula, pengaruh sifat-sifat negatif selalu menghantui jiwa umat manusia dan perlu dikendalikan: seperti sifat dengki, iri hati atau Matsarya, yaitu sifat yang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Jadikanlah rasa kasih sayang sebagai benteng dalam membangun kedamaian dan keharmonisan terhadap sesama.

Manakala batin selalu diselimuti oleh rasa iri hati, dengki pada sesama (Matsarya) ketika melihat orang lain memiliki kelebihan, sesungguhnya orang seperti inilah yang paling menderita dan sengsara di muka bumi ini, dan amat sulit untuk disembuhkan.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, jauhkan diri dari rasa dengki dan iri hati dengan menampakkan rasa kasih sayang (Prema) dan sifat pemaaf (Ksama), serta melakukan pengekangan dan pengendalian diri (Yama dan Nyama Brata) terhadap Panca Indriya. Niscaya akan dapat menjalani hidup dengan damai, rukun, dan harmonis.
(S.S.89–91)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU.

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bhakti: Landasan Dalam Mekarma

    Mutiara WedaYogyakarta, 30/06/2025 Umat Sedharma,Jika direnungkan, dalam sastra tersurat bahwa dalam menjalankan Tri Kaya Sandhi, perbuatan atau persembahan janganlah semata-mata hanya karena mengharapkan hasilnya atau pahalanya. Memang terasa sulit didapat di zaman ini, melakukan perbuatan tanpa dilandasi keinginan atau harapan akan pahala. Demikian juga halnya dengan ajaran-ajaran Weda yang dipelajari untuk disadari, seringkali karena adanya…

  • Filosofi Vāyuh

    Disajikan sebuah sajian dengan topik Filosofi Vāyuh, artinya angin. Mari dimaknai dan disimak ajaran luhur tentang Vāyuh pada pustaka suci Bhagavad Gītā IX-6 yang dikutip sebagai berikut ini: “यथाकाशस्थितो नित्यं वायुः सर्वत्रगो महान् Iतथा सर्वाणि भूतानि मत्स्थानीत्युपधारय ॥ ९-६॥yathākāśa-sthito nityaṁ vāyuḥ sarvatra-go mahān,tathā sarvāṇi bhūtāni mat-sthānīty upadhāraya. Artinya:“Laksana angin yang kuat selalu ada dan bertiup…

  • Amāvāsyāyam (Chāndogya Upaniṣad V.2.4)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Selasa, 12 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Amāvāsyāyam (Chāndogya Upaniṣad V.2.4) Amāvāsyāyam adalah Tilem, yaitu saat bulan gelap atau malam tanpa cahaya bulan. Sebaliknya, Pūrṇimā atau Purnama adalah saat bulan terang. Amāvāsyā dan Pūrṇimā merupakan hari yang baik untuk melaksanakan dīkṣā atau penyucian diri, melakukan melukat, mandi suci, atau snānam. Prati…

  • Menabur Kebajikan sebagai Bentuk Yadnya Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 22 Agustus 2026 Umat se-Dharma, ketika seseorang selalu menabur kebencian, suatu pertanda bahwa di dalam dirinya hanya ada kebencian. Akan tetapi, orang yang memiliki kebajikan/Dharma dapat dipastikan akan memancarkan ajaran kebenaran/Dharma Vahini dalam kehidupannya. Hanya orang yang sejuk di dalam hatinya yang dapat menemukan kesejukan, kedamaian, dan keharmonisan di luar dirinya. Sulit membayangkan…

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara WedaJogjakarta, 07/05/2026 Umat Sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu, yaitu Citta Vṛtti Nirodha, menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra ini. Orang yang dapat mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria atau hawa nafsunya bagaikan seekor penyu yang sedang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang…