Filosofi Tyàgi
Palangka Raya, 5.6.2025
Oleh I Ketut Subagiasta
Disajikan topik Tyàgi, artinya orang yang meninggalkan pahala perbuatannya. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.11 yang dikutip sebagai berikut:
“न हि देहभृता शक्यं त्यक्तुं कर्माण्यशेषतः ।
यस्तु कर्मफलत्यागी स त्यागीत्यभिधीयते ॥ १८-११॥
na hi deha-bhṛtā śakyaṁ tyaktuṁ karmāṇy aśeṣataḥ,
yas tu karma-phala-tyāgī sa tyāgīty abhidhīyate.Artinya:
Sesungguhnya, tak mungkin bagi keberadaan berwujud untuk melepaskan kegiatan kerja sama sekali, tetapi dia yang melepaskan pahala kerja dianggap sebagai yang telah menjadi tyāgī.”
Adapun makna Tyàgi secara ekoteologi adalah bahwa manusia, dalam berbuat (karmani), sering kali antara perbuatan baik dan buruknya tidak seimbang. Secara ekoteologi, manusia cenderung lebih banyak memetik, menebang, menikmati, menjual, dan membuat lahan menjadi gersang dan tandus. Bandingkan dengan orang yang lebih banyak menanam, memelihara, merawat, menghijaukan lingkungan, serta berbuat kebaikan dan kebajikan.
Setelah saatnya meninggal, ternyata dosanya lebih banyak ditinggalkan, buruknya banyak tersisa, dan pahala jeleknya bertaburan. Hutangnya menumpuk, kesalahan ada di mana-mana, termasuk menjual warisan leluhur. Orang demikian itu juga disebut Tyàgi.
Intinya, Tyàgi adalah orang yang tidak bisa melepaskan karmanya saat meninggal dunia karena terlalu banyak dosa yang tertinggal. Hindarilah menjadi orang Tyàgi.
Svaha. Ksama ca ksami.
