Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

Mutiara Weda
Yogyakarta, 04/01/2026

Umat se-dharma,
pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu—citta-vṛtti-nirodhaḥ (penghentian gelombang-gelombang pikiran)—menjadi faktor penting dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, di alam saṃsāra (lingkaran kelahiran dan penderitaan).

Orang yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh indria dan hawa nafsu bagaikan seekor penyu yang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Pribadi seperti ini sesungguhnya adalah orang yang stabil dan seimbang di dalam diri, memiliki keteguhan serta kekuatan hati, disertai kuatnya rasa śukra/śukṛta (syukur) dan angayubagya (kebahagiaan lahir batin). Ia tidak larut dalam kesedihan saat menghadapi cobaan hidup, dan tidak pula berlebihan dalam kegembiraan ketika memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai umat Hindu membangun keseimbangan di dalam diri—baik secara lahir maupun batin—dengan memusatkan serta mengendalikan pikiran dari pengaruh-pengaruh indria. Dengan demikian, pikiran menjadi terpusat melalui citta-vṛtti-nirodhaḥ, terhindar dari cengkeraman unsur-unsur Ṣaḍ Ripu (enam musuh dalam diri) dan Sapta Timira (tujuh kegelapan pikiran), sehingga mampu bersikap netral dan seimbang terhadap apa pun yang dialami.

Niscaya, dengan jalan ini akan terbangun kualitas umat Hindu yang memiliki mental rohani yang stabil dan kuat, serta ketahanan mental yang prima di dalam diri.
(Sarasamuccaya II.51–56)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Badan Penyiaran Hindu (BPH) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Rajasi (BG XVIII.31)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)23 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Rajasi (BG XVIII.31) Rajasi adalah orang yang dikuasai sifat rajas, yaitu pribadi yang keliru dalam memandang dan memahami kehidupan. Orang yang bersifat rajasi tidak mampu membedakan dharmam dan adharmam, yakni antara yang benar dan yang salah. Ia juga tidak mampu membedakan kebijaksanaan dan kebodohan…

  • Purwagama Sesana

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/06/2025 Umat Se-dharma,Umat Hindu dalam menjalankan Dharmaning hidup memiliki kewajiban suci yang disebut Dharmaning Agama, yaitu berkewajiban untuk mempelajari, memahami, dan memancarkan isi kitab suci Weda Dharma Vahini serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci Andrayuga atau Vruh ring sarva Jnana sehingga dapat menjalankan Wiweka dengan baik. Umat Hindu dalam berpikir, bertutur kata, serta…

  • Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) 25 Juni 2026 Oleh I Ketut Subagiasta Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30) Martyasya Rakṣa berarti “selamatkanlah semuanya”. Tekunlah melestarikan lagu-lagu suci keagamaan dan rajin melaksanakan yajña. Hindarkan sikap ego atau ahaṅkāra (keangkuhan diri), serta jauhilah sikap kekerasan dalam hidup atau hiṁsā karma (perbuatan menyakiti). Bagikan ke:

  • Ketulusan Landasan dalam Mekarma

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/03/2026 Umat sedharma, jika direnungkan dalam susastra tersurat bahwa dalam menjalankan Tri Kaya Sandhi (tiga penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan), perbuatan atau persembahan janganlah semata-mata hanya karena mengharapkan hasil atau pahalanya. Memang terasa sulit didapati di zaman ini melakukan perbuatan tanpa dilandasi keinginan akan pahala. Demikian pula halnya dengan ajaran-ajaran Veda yang dipelajari…

  • Kesucian Pangkal dari Kebenaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/08/2026 Umat Sedharma, Seva atau pengabdian merupakan bagian dari kerja atau Karma. Melalui pengabdian tersebut, akan terbangun kesucian dalam diri yang menjadi fondasi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian diri (Śauca) akan lahir kemuliaan. Dari kemuliaan akan tumbuh kehormatan, dan dari kehormatan pula akan diperoleh kebenaran atau Satya. Oleh karena itu, marilah…

  • Widvāṅga

    Mutiara WedaYogyakarta, 31 Mei 2026 Umat sedharma, jika dilihat dari dinamika kehidupan pada zaman ini, artha atau uang serta kekayaan seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlap artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan serta sangat dihargai pada zaman ini oleh sebagian umat manusia. Dunia seakan-akan…