Filosofi Satyavākyam
Diuraikan topik Satyavākyam, artinya teguh kepada kebenaran. Mari dipahami ajaran luhur dalam pustaka suci Śiva Purāṇa 1.7.31 yang dikutip sebagai berikut:
ईश्वर उवाच ।
वत्सप्रसन्नोऽस्मि हरे यतस्त्वमीशत्वमिच्छन्नपि सत्यवाक्यम् ।
ब्रूयास्ततस्ते भविता जनेषु साम्यं मया सत्कृतिरप्यलप्थाः ॥ ३१ ॥īśvara uvāca
vatsaprasanno’smi hare yatastvam īśatvam icchann api satyavākyam |
brūyās tataste bhavitā janeṣu sāmyam mayā satkṛtir apyalapthāḥ ॥ 31 ॥
Terjemahan:
Īśvara berkata: “Wahai Hari yang terkasih, Aku senang denganmu, karena engkau tetap berpegang teguh kepada kebenaran walaupun engkau berkeinginan untuk menjadi penguasa. Oleh karena itu, di antara masyarakat umum engkau akan memiliki kedudukan yang sama dengan-Ku. Engkau juga akan dihormati.”
Makna filosofi Satyavākyam adalah suatu ajaran luhur yang sangat terkait dengan perayaan suci Pagerwesi. Pager bermakna pagar atau keteguhan, sedangkan wesi bermakna kekuatan diri, keteguhan lahir dan batin.
Spirit Pagerwesi berawal dari ketekunan menuntut ilmu dengan memuja Dewi Saraswati yang menganugerahkan pangeweruh atau banyu pinaruh, membawa kemakmuran melimpah (Soma Ribek), serta kesejahteraan materi yang cukup (Sabuh Mas). Semua ini berkat kemahakuasaan Sang Īśwara, Sang Hyang Śiva, atau Sang Hyang Paramesti Guru sebagai guru sejati.
Guru tidak boleh dipandang sebelah mata. Guru adalah sumber kecerdasan, pengetahuan, kebijaksanaan, dan kekuatan yang teguh pada kebenaran. Saat hari suci Pagerwesi, Sang Paramesti Guru dimuliakan sebagai guru niskala. Durhaka kepada guru berisiko menimbulkan kekacauan (alpaka guru). Sebaliknya, Guru Susrusa—memuja dan menghormati Guru Niskala secara tulus—akan membuahkan kecerdasan, kebijaksanaan, kewibawaan, kemuliaan, hingga kedudukan terhormat.
Umat Hindu Nusantara hendaknya tetap teguh membela kebenaran. Cintai kebenaran, cintai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa besar adalah bangsa yang menjunjung kebenaran. Maknai Pagerwesi untuk memperkokoh diri. Cintai Sang Hyang Paramesti Guru agar menjadi umat Hindu panutan, bertekad kokoh menegakkan kebenaran di Indonesia tercinta. Mari pererat kekuatan diri dan kebersamaan dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai luhur Pagerwesi.
Intinya, Satyavākyam adalah wujud keteguhan dalam kebenaran, kebaikan, dan kebajikan terhadap Sang Hyang Paramesti Guru sebagai guru niskala. Secara sakala, umat Hindu berguru kepada guru rupaka di keluarga, kepada ācarya di sekolah, serta menghormati pemerintah sebagai guru wisesa penuntun masyarakat. Tiga guru sakala jangan dipandang sebelah mata.
Tegakkan kebenaran melalui tiga guru di jagat raya. Guru niskala, khususnya pada hari Pagerwesi, dimuliakan oleh seluruh umat Hindu Nusantara dengan memuja Sang Paramesti Guru. Semoga umat Hindu tampil berdaya saing secara positif tanpa kesombongan, menjadi sajjana dan gunamantha sejati tanpa ahaṅkāra.
Jadilah umat Hindu yang konsisten di segala zaman. Mari maknai perayaan Pagerwesi hari ini, Budha Kliwon Sinta, dengan memuja Sang Paramesti Guru di tempat suci melalui Guru Susrusa.
Semoga selalu teguh membela kebenaran, Satyavākyam.
Rahayu. Svaha. Kṣama ca Kṣami.
Palangka Raya, 10/09/2025
Oleh: I Ketut Subagiasta
