Janādhipāḥ (BG II.12)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
4 Agustus 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Janādhipāḥ (BG II.12)

Janādhipāḥ berarti penguasa manusia. Sarvabhūteṣu, yakni seluruh makhluk hidup di jagat raya, berada di bawah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semua ciptaan pada hakikatnya tetap ada, meskipun telah mengalami kematian (mṛtyu) atau peleburan (pralina). Yang mengalami kematian hanyalah śarīra (badan jasmani), sedangkan jīva tetap ada dan pada akhirnya kembali menyatu dengan Brahman.

Manusia sesungguhnya berada di bawah kuasa Brahman. Pada waktunya, jīva akan mengalami punarjanma atau menjelma kembali sesuai dengan hukum karmanya atas kehendak Brahman. Kelahiran kembali (numitis) merupakan kesempatan untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan diri.

Marilah menyadari bahwa diri kita berada dalam kuasa Brahman, baik selama hidup (jīvan) maupun setelah mengalami kematian (mṛtyu atau pralina). Filosofi Janādhipāḥ mengajarkan bahwa hidup dan mati manusia senantiasa berada dalam kuasa Brahman.

Svaha.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kṛtakṛtya–Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/11/2025 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (ātmarati), seseorang tidak dapat terlepas dari kualitas penerapan nilai-nilai ajaran Dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk menuju Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sādhana, yang menjadi inti sari dalam menjalankan svadharma-niṅ agama…

  • KETULUSAN sebagai Landasan dalam Berbuat

    Mutiara Weda Yogyakarta, 30/10/2025 Umat sedharma, dalam susastra tersirat ajaran:“Kiñcid yadyapi tad dānaṁ śraddhayā sahitaṁ kṛtam…”(Dalam melakukan perbuatan / mekarma (melakukan karma), kesucian pikiran dan ketulusan hati menjadi faktor penting untuk menentukan kualitas karma.) Manakala dalam berbuat dilakukan dengan kesucian pikiran serta ketulusan hati, hal itu akan membawa kebaikan yang tidak terkira, sebagaimana sebuah biji…

  • Filosofi Aśvatthaṁ

    Disajikan sebuah topik Aśvattha, yaitu pohon suci yang disebut sebagai tanaman abadi sejenis pohon beringin, yang akarnya ke atas dan dahannya ke bawah. Pemahaman ini berasal dari ajaran luhur dalam Bhagavad Gītā XV.1, yang dikutip sebagai berikut: श्रीभगवानुवाचऊर्ध्वमूलमधःशाखमश्वत्थं प्राहुरव्ययम् ।छन्दांसि यस्य पर्णानि यस्तं वेद स वेदवित् ॥ १५-१॥ śrī bhagavān uvāca:ūrdhva-mūlam adhaḥ-śākham aśvatthaṁ prāhur avyayam,chandāṁsi…

  • Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/10/2025 Umat sedharma,dalam śāstra diungkapkan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Kesadaran serta kemampuan untuk mengendalikan dan mengekang seluruh indriya akan dapat menghadirkan pengetahuan rohani. Membangun sifat-sifat kedewataan dengan menghapus niat buruk atau niat jahat menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, membangun kekuatan kedewataan dengan menyelaraskan dan menyerasikan antara kepala dan…

  • Jadikan Ketulusan dan Keuletan sebagai Roh Kehidupan

    Rahajeng Rahina Penampahan Kuningan Mutiara Weda Yogyakarta, 26 Juni 2026 Umat sedharma, perlu direnungkan bahwa selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpa, sehingga seseorang tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Sebaliknya, apabila ketulusan hati (Ārjava) dijadikan dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berbuat, maka seseorang…

  • Himsa Karma yang Diperbolehkan

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/12/2025 Umat sedharma, dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa ahiṁsā berarti tidak menyakiti dan tidak membunuh makhluk hidup secara sewenang-wenang. Tindakan menyakiti atau membunuh tanpa alasan yang benar tidak dibenarkan dalam ajaran Hindu. Namun demikian, melakukan hiṁsā karma—perbuatan membunuh dengan tujuan tertentu—diperbolehkan sebagai kewajiban suci apabila dilandasi niat kesucian dan dilaksanakan sesuai…