Filosofi Indriya

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan bahwa filosofi indriya berarti indra. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra II.96 sebagai berikut:

idānīm indriya-saṃyamopāya mahaḥ, na tathā etāni śakyante saṃniyamantum asevayā; viṣayeṣu prajuṣṭāni, tathā jñānena nityaśaḥ.

Terjemahan: “Indra yang sangat tertambat oleh benda-benda jasmani yang memberi kepuasan itu tidak akan dapat dikendalikan dengan baik hanya melalui pengekangan nafsu saja, melainkan juga dengan mengejar ilmu pengetahuan kebenaran.”

Makna indriya adalah bahwa indra diri sering terikat oleh benda-benda material (artha), hal-hal fisik yang membuat diri tidak terkontrol. Karena itu, indra wajib dikendalikan dengan sungguh-sungguh dan tetap terjaga keseimbangannya. Benda material sering membangkitkan kecenderungan negatif dalam diri. Pada masa vānaprastha, seseorang mudah tergoda oleh hal-hal material tersebut. Cara pengendalian indra yang utama adalah dengan mempelajari pengetahuan kebenaran, yaitu jñānena nityaśaḥ (senantiasa dilandasi ilmu pengetahuan).

Mari cermat dalam menjalani masa vānaprastha, agar mampu mengendalikan diri, terutama dalam menguasai indra melalui jñānena nityaśaḥ — pengetahuan kebenaran yang berkesinambungan. Semoga masa vānaprastha tercapai secara mulia. Masa vānaprastha adalah masa menyepi diri sebagai tapasya (pertapaan suci) yang nirmala. Wajib menahan godaan material dan segala bentuk kemelekatan.

Rahayu. Svāhā. Kṣamā ca kṣami.

Palangka Raya, 18.10.2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Membangun Kedamaian dalam Diri

    Mutiara Weda Yogyakarta, 3 Juni 2026 Umat Se-dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kaliyuga, musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri akibat ketidakmampuan menyinergikan unsur Tri Guṇa, yaitu sattva, rajas, dan tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (kṣamā) merupakan sifat bijak dan mulia yang harus tertanam serta terjaga pada diri…

  • Belajar Mengenali Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 21/08/2026 Umat Sedharma, jika direnungkan, Bunga Seroja demikian harum dan indah, namun memiliki kelemahan pada tangkainya yang berbulu dan dapat menimbulkan rasa gatal. Demikian pula Gunung Himalaya yang menjulang tinggi dan sangat mempesona, ternyata memiliki kelemahan karena sering tertutup salju. Sesungguhnya, menjelma menjadi manusia di dunia ini penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Tidak…

  • Yajñākṣapitakalmaṣāḥ (BG. IV.40)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)23 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Yajñākṣapitakalmaṣāḥ artinya yajña yang melebur dosa-dosa. Ada aneka jenis yajña atau yajñavidah. Ada daun (patram), bunga (puṣpam), buah (phalam), air (toyam/tīrtha), api (agni), dan mantra (mantram). Semua jenis sarana yajña (yajñavidah) merupakan bentuk persembahan yang berfungsi untuk melebur dosa-dosa umat Hindu. Mari kita maknai filosofi…

  • Sang Yatha Sakti Kayika Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/09/2025 Umat se-dharma, ajaran agama Hindu memiliki konsep jenjang kehidupan yang sangat jelas dan tersusun secara sistematis yang dikenal dengan nama Catur Āśrama, yaitu empat tahapan hidup yang wajib dilalui oleh setiap umat manusia (Brahmacārī, Gṛhastha, Wānaprastha, dan Bhikṣuka). Pada tahapan kedua, Gṛhastha Āśrama, merupakan tahapan sebagai ujian yang sebenarnya, di mana seseorang…

  • Gunawan (SS 21)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)28 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Gunawan (SS 21) Gunawan berarti bajik, bijak, dan bijaksana. Keutamaan manusia terletak pada kemampuannya membangun peradaban yang bajik, bijak, dan penuh kebijaksanaan. Dalam kehidupan, setiap persoalan atau prati samasya hendaknya dimusyawarahkan secara bijaksana melalui tarka-vitarka gunawan untuk memperoleh solusi terbaik atau sarvottama samādhāna. Dengan…

  • Jadikan Ketulusan dan Keuletan sebagai Roh Kehidupan

    Rahajeng Rahina Penampahan Kuningan Mutiara Weda Yogyakarta, 26 Juni 2026 Umat sedharma, perlu direnungkan bahwa selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpa, sehingga seseorang tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Sebaliknya, apabila ketulusan hati (Ārjava) dijadikan dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berbuat, maka seseorang…