Karma Wesana Sang Pengikut Setia

Mutiara Weda
22/09/2025

Umat se-dharma, kualitas karma itu sangat menentukan kehidupan umat manusia, baik dalam kehidupan terdahulu (atīta [masa lalu]), kehidupan sekarang (vartamāna [masa kini]) maupun kehidupan yang akan datang (nāgata [masa depan]) dalam Tri Samaya (tiga dimensi waktu). Proses kehidupan yang selalu berputar-putar atau berulang-ulang: lahir (utpatti [kelahiran]), hidup (sthiti [kehidupan]), dan mati (pralīna [kematian]) tiada henti disebut saṁsāra punarbhava (kelahiran kembali yang berulang). Saṁsāra pada dasarnya adalah suatu penderitaan, menderita disebabkan karena doṣa (dosa).

Hidup dalam alam saṁsāra atau punarbhava (kelahiran berulang) ibarat seperti ulat ataupun lintah yang berjalan pada seuntai dedaunan, yang setelah mencapai ujungnya, akan melekukkan badannya ke arah batang baru. Demikian juga halnya sang ātman (jiwa) setelah meninggalkan badan kasar (sthūla-śarīra / badan wadag [jasmani]) akan melekukkan dirinya ke dalam tubuh yang lain atau yang baru dengan disertai karma-veśanā (bekas-bekas karma) sebagai pengikut setianya.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu haruslah memahami secara benar bahwa saṁsāra punarbhava itu terjadi akibat dari pahala atau karma yang belum sempurna semasa manusia hidup. Ketidaksempurnaan karma bersumber pada unsur māyā (ilusi) yang mengikat sang ātman dalam bentuk kenikmatan duniawi. Lepaskan diri dari saṁsāra dengan penguatan pada pengendalian indriya (panca indra) serta memahami bahwa ātman adalah Brahman. Dengan tercapainya tingkatan pengetahuan yang sejati (jñāna [pengetahuan spiritual]) sebagai jalan menuju alam mokṣa (pembebasan), niscaya umat Hindu akan mengerti hakikat karma sebagai penentu kehidupan dalam Tri Samaya: atīta, nāgata lan (dan) vartamāna. (Brhadāraṇyaka Upaniṣad, IV.4.6)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU.

Pinandita Sanggraha Nusantara Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara Weda27/09/2025 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapapun. Melakukan perbuatan baik (Subha Karma) serta mensinergiskan pikiran, perkataan, dan perbuatan, sambil…

  • Filosofi Saraswati, Pañcami Bhavati

    Oleh I Ketut Subagiasta Palangka Raya, 8 Februari 2025 Hari Saniscara Umanis Watugunung adalah hari suci Saraswati, di mana terdapat lima hal yang dihormati. Ajaran luhur ini dapat dimaknai melalui pustaka suci Mānava Dharmaśāstra – Sloka II-136 yang dikutip berikut ini: “वित्तं बन्धुर्वयः कर्म विद्या भवति पञ्चमीएतानि मान्यस्थानानि गरीयो यद् यदुत्तरम्” “Vittaṁ bandhurvayaḥ karma vidyā…

  • Yajña Tiang Penyangga Pura

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: yasyāṃ sadoha vṛdhane yūpo yasyāṃ nimīyate… yang mengandung makna bahwa di tempat suci (pura) tempat dipancangkannya yūpa (tiang upacara yajña), di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan hadir menganugerahkan keselamatan jiwa dan ketenangan batin. Melaksanakan yajña suci, khususnya pañca mahā yajña, merupakan sarana bagi umat Hindu…

  • Sat, Cit, Ānanda Brahman

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/11/2025 Umat se-dharma, dalam pustaka suci Weda diajarkan untuk selalu setia, jujur, dan memegang teguh kebenaran dalam menuju ketenangan serta kedamaian batin (parama śānti). Kebenaran dan kejujuran adalah sifat dan hakikat ke-Tuhanan: Sat, Cit, Ānanda Brahman (ada–kesadaran–kebahagiaan murni), yang menjadi bagian dari dasar keyakinan (śraddhā) dalam ajaran agama Hindu. Kesetiaan dan kejujuran itu…

  • Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 10/05/2026 Umat se-dharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Demikian pula, tidak ada musuh yang lebih jahat daripada kemarahan (krodha), tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan, dan tidak ada kebahagiaan yang melebihi kemampuan seseorang dalam melepaskan ikatan nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu…