Filosofi Asakta Buddhih

Palangka Raya, 21/09/2025


Diuraikan sebuah sajian konteks ekoteologi yakni Asakta Buddhih, artinya kecerdasan yang tidak terikat di mana saja. Mari dimaknai ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.49 yang dikutip berikut ini:

असक्तबुद्धिः सर्वत्र जितात्मा विगतस्पृहः ।
नैष्कर्म्यसिद्धिं परमां संन्यासेनाधिगच्छति ॥ १८-४९॥

asakta-buddhiḥ sarvatra jitātmā vigata-spṛhaḥ,
naiṣkarmya-siddhiṁ paramāṁ sannyāsenādhigacchati

Artinya:
“Orang yang kecerdasannya tak terikat di mana saja, telah menguasai dirinya dan melepaskan keinginannya; dengan penyangkalan ia mencapai tingkat tertinggi dari kebebasan atas kegiatan kerja.”

Makna mulia Asakta Buddhih dalam konteks ekoteologi adalah bahwa Tuhan Yang Maha Esa menganugerahi umat manusia kecerdasan yang tidak terikat ruang dan tempat. Seorang ilmuwan atau akademisi tidak hanya mengikatkan diri pada satu fokus tertentu, tetapi di manapun berada tetap memiliki peluang luhur untuk menyumbangkan ide dan gagasan mulia kepada masyarakat luas secara terbuka, dengan menaati kode etik, bersikap positif, dan disiplin dalam bidang keilmuannya.

Ada beberapa poin makna luhur Asakta Buddhih sebagai berikut:

a) Sarvatra artinya di mana-mana.
Maknanya, ide luhur wajib diinformasikan di manapun untuk memuliakan masyarakat luas. Hindari ulah anarkis, intoleransi, atau menciptakan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat.

b) Jitātmā artinya menang atas diri sendiri.
Maknanya, seorang vidvān (ilmuwan) mampu menahan diri, menggembleng diri, serta tidak vulgar dalam menyampaikan ide kerohanian. Ia menciptakan kesejukan, kondisi masyarakat yang kondusif, serta mengajak umat hidup damai dan rukun dalam kebinekaan.

c) Vigata-spṛhaḥ artinya melepaskan keinginan.
Maknanya, hanya keinginan baik yang patut dikembangkan. Keinginan destruktif dan sikap negatif harus dijauhkan dari kehidupan bersama.

d) Naiṣkarmya-siddhim artinya kesempurnaan dalam kebebasan atas kegiatan kerja.
Maknanya, mari motivasi umat agar giat berkarma, rajin berkarya, ulet, dan tekun beragama Hindu, serta membangun persatuan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan bersama.

e) Paramām artinya tertinggi.
Maknanya, setiap umat Hindu wajib bergotong-royong atas dasar kesadaran mulia, tanpa intimidasi dan tanpa tekanan yang memecah belah. Persatuan tertinggi harus diwujudkan bagi seluruh rakyat Indonesia dengan penuh cinta tanah air.

f) Saṁnyāsena artinya dengan penyangkalan.
Maknanya, mari hentikan segala ulah negatif, hindari propaganda yang menyesatkan, dan bangkit bersama merawat persatuan bangsa.

g) Adhigacchati artinya mencapai.
Maknanya, seluruh rakyat Indonesia hendaknya mengeratkan persatuan untuk mencapai cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Intinya, Asakta Buddhih berarti kecerdasan yang tidak terikat motif, dihormati di manapun berada, serta tidak larut dalam isu-isu palsu (hoax). Tampillah sebagai vidvān yang moderat dan tegakkan nilai dharmika.

Semoga semua rahayu. Svaha.
Kṣama ca Kṣami.

Oleh: I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Dharmaning Hidup

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/06/2025 Umat Se-Dharma, Umat Hindu dalam menjalankan Dharmaning Hidup memiliki kewajiban suci yang disebut Dharmaning Agama, yaitu berkewajiban untuk mempelajari, memahami, mengamalkan, dan mengamankan pustaka suci Weda serta memancarkannya melalui Dharma Vāhinī. Setiap umat Hindu berkewajiban untuk mempelajari dan memahami berbagai ilmu pengetahuan suci Andrayuga atau Vruh ring Sarva Jñāna, sehingga dapat menjalankan…

  • Bersahabatlah dengan Kesabaran

    Mutiara Weda Yogyakarta, 08/05/2026 Umat se-dharma, jika dicermati, hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini ibarat cakra manggilingan yang terus berputar silih berganti; terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah, penuh dengan berbagai cobaan dan tantangan hidup. Ibarat seorang peselancar di samudera luas, tanpa adanya ombak yang ganas, ia tidak akan pernah mengetahui…

  • Musuh Utama Ada di Dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 12 Juli 2026 Umat Se-Dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kaliyuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri sebagai akibat dari ketidakmampuan mensinergiskan unsur Tri Guna, yaitu Satvam, Rajas, dan Tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (Ksama) merupakan sifat-sifat yang bijaksana dan mulia yang harus tertanam serta…

  • Filosofi Indriya

    Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan bahwa filosofi indriya berarti indra. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra II.96 sebagai berikut: “idānīm indriya-saṃyamopāya mahaḥ, na tathā etāni śakyante saṃniyamantum asevayā; viṣayeṣu prajuṣṭāni, tathā jñānena nityaśaḥ.” Terjemahan: “Indra yang sangat tertambat oleh benda-benda jasmani yang memberi kepuasan itu tidak akan dapat dikendalikan dengan baik…

  • Kṛtakṛtya–Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/06/2026 Umat sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan bahwa dalam mengarungi kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (ātmarati), seseorang tidak dapat melepaskan diri dari penerapan nilai-nilai ajaran Dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma dalam diri sendiri sebagai jalan menuju Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sādhana atau Catur Dharma Sādhana, yang merupakan…