Filosofi Janman Śakti

Disajikan sebuah topik mengenai Janman Śakti, artinya kelahiran kuat. Mari dimaknai ajaran luhur dalam konteks Wānnaprastha pada pustaka suci berikut ini, Mānava Dharma Śāstra Sloka IV.21 yang dikutip sebagai berikut:

“ऋषि यज्ञं देवयज्ञं भूतयज्ञम् च सर्वदा
नृयज्ञं पितृयज्ञम् च यथा शक्ति न हापयेत्
ṛṣi yajñaṁ deva yajñaṁ bhūta yajñam ca sarvadā
nṛ yajñaṁ pitṛ yajñaṁ ca yathā śakti na hāpayet”

Artinya:
Hendaknya jangan sampai lupa, jika ia mampu melakukan yajña untuk para pertapa, para dewa, pada unsur-unsur alam, kepada sesama manusia, dan kepada para leluhur.

Makna mulia ajaran Janman Śakti disajikan secara sederhana agar dapat dimaknai oleh para Wānnaprastha, yang terlahir sebagai manusia dengan kekuatan untuk melakoni hidup dan kehidupan secara terkendali, terkontrol, dan diperkuat oleh dirinya sendiri, dengan tekun melakukan lima persembahan suci atau Pañca Yajña berupa suguhan sesuai ketulusan, antara lain diuraikan berikut ini:

  1. Ṛṣi Yajñaṁ artinya persembahan kepada para pertapa atau ṛṣi. Maknanya bahwa pada masa Wānnaprastha, seseorang ingat untuk melakukan persembahan suci kepada para pertapa, para ṛṣi, para dvija, dan para tapasya secara tulus dan nirmala.
  2. Deva Yajñaṁ artinya persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maknanya bahwa pada masa Wānnaprastha, seseorang ingat kepada Sang Hyang Niskala, melakukan bhakti suci tanpa rasa ragu.
  3. Bhūta Yajñaṁ artinya persembahan kepada unsur-unsur alam. Maknanya bahwa seorang Wānnaprastha tetap memperhatikan komponen alam—jagat, bumi, dunia, bhuwana—dengan memberi sesajen yang dilandasi bhakti, kesucian, dan hati yang harmonis, sebagai bentuk kedekatan jati diri dengan kekuatan unsur-unsur alam secara sempurna.
  4. Nṛ Yajñaṁ artinya persembahan kepada sesama manusia. Maknanya bahwa seorang Wānnaprastha tetap menunjukkan bhakti yang didasari oleh kasih dan perhatian tulus kepada sesama manusia tanpa pilih kasih, dengan hati yang senang, suci, dan tulus. Ini menunjukkan bahwa sesama membutuhkan perhatian dan kepedulian dari seorang Wānnaprastha yang mengontrol niat dan bertindak dengan adil untuk memperkuat jati diri.
  5. Pitṛ Yajñaṁ artinya persembahan kepada leluhur. Maknanya bahwa kelahiran seorang Wānnaprastha adalah untuk menunjukkan satya, bhakti, nirmala, puja, dan mayajña terhadap leluhur—pitara, pitari, sesuhunan, nenek moyang, sesepuh, dan atma siddha devata—dengan tulus suci demi kekuatan jati dirinya sebagai Wānnaprastha.

Intinya, kewajiban yajña tersebut tetap dilakukan dengan tekun sejak masa Brahmacārī, Gṛhastha, Wānnaprastha, hingga Bhikṣuka, untuk senantiasa melakoni Pañca Yajña secara suci dan nirmala—yakni Ṛṣi Yajñaṁ, Deva Yajñaṁ, Bhūta Yajñaṁ, Nṛ Yajñaṁ, dan Pitṛ Yajñaṁ—sebagai bentuk kelahiran yang kuat, mantap, dan tangguh, yaitu Janman Śakti.

Rṣyū, Svāhā. Kṣamā ca Kṣamī.

Palangka Raya, 25/07/2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Shishu Màsà

    Disajikan topik Filosofi Shishu Màsà yang artinya masa bayi. Mari dipahami upaya pembelajaran terhadap masa bayi dalam pustaka suci MĀNAVADHARMAŚĀSTRA SLOKA II-34 yang dikutip sebagai berikut ini: “चतुर्थे मासि कर्तव्यं शिशोर्निष्क्रमणं गृहात्षष्ठे ऽन्न प्राशनं मासि यद् वेष्टं मङ्गलं कुलेcaturthe māsi kartavyaṁ śiśor niṣkramaṇaṁ gṛhātṣaṣṭhe ’nna prāśanaṁ māsi yad veṣṭaṁ maṅgalaṁ kule” Artinya:Pada bulan keempat harus…

  • Jangan Pelihara Rasa Dengki dalam Diri

    Mutiara Weda 13/05/2025 Umat Sedharma, menjauhkan diri dari rasa dengki dan rasa iri hati (Matsarya) adalah kewajiban dasar dalam membangun tatanan kehidupan umat Hindu yang Satyam, Sivam, dan Sundaram. Kuatkan perbuatan, perasaan hati, dan cinta kasih kepada sesama (Prema Vahini). Jangan biarkan sifat iri hati dan dengki terlalu lama bercokol dalam diri. Manakala batin selalu…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara Weda15/03/2025 Umat Sedharma, dalam susastra ada ungkapan: orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan mendapatkan kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra—walaupun terus-menerus, namun tetap tenang tak bergerak. Demikian pula halnya dengan orang yang berjiwa sabar dan…

  • Jangan Menjadi Orang Jahat

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/03/2026 Umat sedharma, dalam sesanti disebutkan bahwa binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya. Demikian pula ular memiliki racun yang sangat berbisa pada taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat; seluruh dirinya diliputi oleh “racun” yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (aśubha karma) dapat dipastikan akan…

  • Bangun Pura dalam Diri

    Mutiara Weda22/03/2026 Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi sesama, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi. Apabila ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar untuk memamerkan diri (rājasika), maka…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/03/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang berkeinginan untuk berbuat tanpa keakuan (ahaṃkāra) akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus diibaratkan seperti air yang mengalir ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak meluap. Demikian pula orang yang berjiwa sabar dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *