Himsa Karma yang Diperbolehkan

Mutiara Weda
Yogyakarta, 12/12/2025

Umat sedharma, dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa ahiṁsā berarti tidak menyakiti dan tidak membunuh makhluk hidup secara sewenang-wenang. Tindakan menyakiti atau membunuh tanpa alasan yang benar tidak dibenarkan dalam ajaran Hindu. Namun demikian, melakukan hiṁsā karma—perbuatan membunuh dengan tujuan tertentu—diperbolehkan sebagai kewajiban suci apabila dilandasi niat kesucian dan dilaksanakan sesuai petunjuk pustaka suci Weda.

Dalam kitab suci Vṛtti Śāsana tersurat bahwa perbuatan hiṁsā karma, yakni membunuh makhluk hidup dengan tujuan tertentu dan niat-niat suci, dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk sebagai berikut:

  • Deva Pūjā : untuk persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  • Atithi Pūjā : untuk perjamuan para tamu atau Nara Yadnya.
  • Wali Krama Pūjā : untuk keperluan pecaruan (korban suci penyeimbang alam).

Di samping itu, tindakan membunuh yang dilakukan guna mempertahankan dan menyelamatkan diri, maupun membela negara dari berbagai ancaman musuh, juga merupakan suatu kewajiban suci. Hal ini sejalan dengan ajaran ksatria, sebagaimana dinyatakan: saṅ sūra amenangi raṇaṅgaṇa mamukti sukha wibhawa bhoga wīryawan … dan seterusnya.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu, dalam melaksanakan korban suci hiṁsā karma, benar-benar dilandasi niat yang suci serta ketulusan batin, sehingga menghasilkan kualitas Yadnya yang sāttvika, disertai unsur-unsur penyupatan (penyucian) di dalamnya. Niscaya, dengan demikian kualitas pelaksanaan yadnya atau korban suci akan terwujud, sekaligus membangun umat Hindu yang damai, rukun, dan harmonis.
(Nītiśāstra IV.2 dan Ślokāntara, hlm. 195)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU
Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Satya-Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/08/2026 Umat Sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan: Satyam nāsti paro dharmo, nānṛtaṁ pātakaṁ param: tidak ada Dharma atau kewajiban suci yang lebih tinggi daripada kebenaran (Satya), dan tidak ada dosa yang lebih rendah daripada dusta. Di mana ada Satya, di sanalah pasti ada Dharma. Kebenaran dan kebajikan tidak dapat dipisahkan serta senantiasa berdampingan…

  • Subhāsubha (BG XII.17)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)21 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Subhāsubha (BG XII.17) Subhāsubha adalah kebaikan dan kebatilan. Dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan maupun kebatilan. Demikian pula, rasa senang dan sedih selalu menyertai kehidupan. Pujian dapat menimbulkan rasa senang, sedangkan kebencian dapat menghadirkan kesedihan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mampu melepaskan…

  • Mantram Berfungsi sebagai Kavaca

    Mutiara WedaYogyakarta, 11/06/2025 Umat Se-Dharma, Umat Hindu dalam berhubungan dan mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Ida Sang Hyang Parama Kawi tak bisa lepas dari penggunaan doa-doa ataupun mantram Weda yang berfungsi sebagai Kavaca dan Panjara. Pengucapan Weda Mantram dengan fungsi Kavaca mengandung makna sebagai baju atau pakaian, sedangkan Panjara bermakna…

  • Orang Jahat Seluruh Tubuhnya Beracun

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/07/2025 Umat Se-dharma, dalam sesanti ada menyebutkan: binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya, begitu pula binatang ular memiliki racun berbisa yang terletak di taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat — seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat…

  • Ahning Maneb Manah Nira

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/10/2025 Umat Sedharma, dalam susahstra ada disebutkan: “Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate.”Ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan kasar (tan ujar ahala) dan tidak sekali-kali berniat melakukan perbuatan jahat dan tercela. Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada ubahnya seperti membidik…