Filosofi Brahmacārī

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan topik Brahmacārī, artinya pelajar, sesuai ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharma Śāstra Sloka VI-87 yang dikutip sebagai berikut:

“ब्रह्मचारी गृहस्थश् च वानप्रस्थो यतिस् तथा
एते गृहस्थ प्रभावाश् चत्वारः पृथगाश्रमः”

brahmacārī gṛhasthaś ca vānaprastho yatis tathā
ete gṛhastha prabhāvāś catvāraḥ pṛthag-āśramaḥ

Artinya:
“Pelajar, kepala rumah tangga, pertapa di hutan, dan pertapa pengembara—semuanya merupakan empat tahapan yang terpisah, yang semuanya berkembang dari tahapan rumah tangga.”

Makna dari filosofi Brahmacārī adalah pelajar. Masa Brahmacārī adalah masa pelajar, yang disebut Brahmacārin. Pelajar adalah masa untuk memperluas wawasan hidup. Pelajar menambah aneka ilmu pengetahuan, baik parāvidyā dan aparāvidyā, guṇa dan viguṇa, jñāna dan vijñāna, prajñā dan viprajñā, kājñāna dan kāvijñāna.

Masa pelajar Brahmacārin adalah kesempatan emas (golden chance) untuk terus belajar. Masa ini bukan saat untuk hura-hura, karena akan berisiko pada kegagalan studi. Maka, masa belajar harus difokuskan pada study, mengejar knowledge dan skill, demi development of life menuju masa Gṛhastha, Vānaprastha, dan Bhikṣu (pertapa pengembara).

Intinya, masa Brahmacārī adalah pangkal sukses kehidupan berikutnya. Jika sukses sebagai pelajar, maka besar kemungkinan akan sukses pula dalam tahap hidup selanjutnya. Maka, ayo rajin belajar sebagai pelajar. Jangan malas. Jika gagal sebagai pelajar, jangan salahkan orang tua, pita maupun mātā.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 7.7.2025


Bagikan ke:

Similar Posts

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….

  • Filosofi Asta Prakrti

    Disajikan topik filosofi Asta Prakrti artinya delapan sifat alami. Mari dimaknai delapan sifat alami pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव चbhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.“ Artinya:Tanah, air, api, udara, ether, pikiran,…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/01/2026 Umat se-dharma,orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kali Yuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Hal ini terjadi akibat ketidakmampuan manusia mensinergikan unsur Tri Guṇa—sattva (kemurnian/keseimbangan), rajas (dinamika/nafsu), dan tamas (kegelapan/kemalasan)—di dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan kṣamā (sikap memaafkan dan tahan uji) merupakan sifat bijak dan…

  • Kṛtakṛtya-Ātmarati

    Mutiara Weda20/01/2025 Umat Se-dharma, dalam Susastra disebutkan bahwa untuk mengarungi kehidupan yang sempurna (Kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (Ātmarati), penerapan nilai-nilai ajaran Dharma adalah hal yang tidak terpisahkan. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sadhana atau Catur Dharma Sadhana, yang merupakan Sesarining Dharma….

  • Orang Jahat Seluruh Tubuhnya Beracun

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/01/2025 Umat Se-Dharma, Dalam sesanti ada menyebutkan, binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya. Begitu pula binatang ular, memiliki racun berbisa yang terletak di taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat, seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat dipastikan…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/03/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang berkeinginan untuk berbuat tanpa keakuan (ahaṃkāra) akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus diibaratkan seperti air yang mengalir ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak meluap. Demikian pula orang yang berjiwa sabar dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *