Bunga Dharma

Mutiara Weda
Yogyakarta, 12/03/2026

Umat se-dharma, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan yang penuh tanpa gangguan akan membawa ātman mencapai kebahagiaan sejati menuju kelahiran yang disebut kelahiran Deva-yoni (kelahiran sebagai makhluk dewa). Keadaan ini disebut sebagai aiśvarya (kemuliaan rohani) dan menjadi buah atau bunga-bunga Dharma.

Demikian pula sebaliknya, manakala pikiran selalu diselimuti oleh bibit adharma (kejahatan) dan menentang Dharma, yaitu avairāgya (ketiadaan pengendalian diri / keterikatan duniawi), serta tidak mengetahui tattva-jñāna (pengetahuan tentang kebenaran hakiki), maka dapat dipastikan hidupnya akan dipenuhi penderitaan. Ia pun dapat mengalami proses reinkarnasi atau lahir kembali menjadi makhluk yang lebih rendah ataupun binatang.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk membangun buah-buah Dharma atau aiśvarya, karena dengan menjalankan ajaran Dharma seseorang dapat mencapai kebahagiaan melalui penguatan pada buah jñāna (pengetahuan suci Weda). Niscaya, pada akhirnya akan tercapai kebahagiaan sejati berupa kelepasan atau mokṣa (pembebasan rohani), yang dalam ajaran disebut janma-vāsanā (kesan-kesan kelahiran yang mengikat jiwa).
(Vṛhaspati Tattva, 29.3)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tiga Siklus Hidup Manusia

    Mutiara Weda Yogyakarta, 19/05/2026 Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya setiap manusia tidak akan pernah lepas dari tiga siklus alur proses kehidupan, yaitu utpatti, sthiti, dan pralina; kelahiran, kehidupan, dan akhirnya menuju kematian atau kembali ke asal. Ketiga hal tersebut merupakan wujud kemahakuasaan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa dalam konsep Tri Kona. Setiap manusia yang hidup…

  • Catur Weda Sebagai Weda Inti

    Umat Se-Dharma,Dalam pustaka suci ada menyebutkan:“Šrutistu vedo vijñeyo dharmaṡāstram tu vai smṛtiáte sarvātheṣva mimāmsye tābhyāṁ dharmohi nirbabhau” Artinya:Yang dimaksud dengan Sruti adalah Veda, dan dengan Smrti adalah Dharmasastram. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya adalah sumber Dharma. Hindu yang membumi dengan kebinekaan bukan berarti memiliki kitab suci yang berbeda-beda atau…

  • Filosofi Suvirùdha Mùlam

    Disajikan topik Suvirùdha Mùlam, yang berarti pohon atau tanaman yang berakar dalam dan kuat. Makna ini mengandung nilai-nilai luhur dalam ajaran ekoteologi Hindu — tentang pelestarian lingkungan dan keberlanjutan alam. Penjelasan ini bersumber dari Bhagavad Gītā XV.3, yang dikutip sebagai berikut: न रूपमस्येह तथोपलभ्यते नान्तो न चादिर्न च सम्प्रतिष्ठा ।अश्वत्थमेनं सुविरूढमूलमसङ्गशस्त्रेण दृढेन छित्त्वा ॥ १५-३॥…

  • Aparājitaḥ (BG I.17)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)20 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Aparājitaḥ (BG I.17) Aparājitaḥ berarti yang tidak terkalahkan. Dalam era kompetisi, siapa pun yang menjadi yang terbaik (śreṣṭha) akan memiliki peluang untuk menjadi yang unggul, yang utama, atau parameśvāsah. Meraih predikat sebagai pribadi yang tidak terkalahkan tentu merupakan hal yang baik. Namun, hendaknya tetap…

  • Vimatsaraḥ (BG IV.22)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Sabtu, 15 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Vimatsaraḥ (BG IV.22) Vimatsaraḥ berarti tanpa rasa permusuhan, iri hati, atau dengki. Dalam menghadapi berbagai keadaan yang berbeda atau dvandvātīta, seperti sukha ca duḥkha (senang dan sedih), lābha ca alābha (untung dan rugi), siddha ca asiddhau (sukses dan gagal), jaya ca ajaya (menang dan…

  • Dharma Sesana

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/07/2026 Dalam pustaka suci Weda Samhita disebutkan: “Satyabrūyāt priyam, priyam ca nānṛtam brūyād eṣa dharma sanātanam.” Hendaknya seseorang mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang lain, dengan ajaran etika Hindu sebagai pijakannya dalam melaksanakan Dharma Sesana. Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran yang semu dan menyakitkan, serta jangan pula…