Filosofi Ātmanastya
Palangka Raya, 29.9.2025
Oleh I Ketut Subagiasta
Sangat penting diuraikan mengenai filosofi Ātmanastya (bunuh diri). Mari dipahami ajaran dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra, sloka V.89 tentang bunuh diri dikaji secara ekoteologi yang mengandung nilai pendidikan Hindu, dikutip sebagai berikut:
“वृथासंकर जातानां प्र व्रज्यासु च तिष्ठताम्
आत्मनस्त्य् आगिनां चैव निर्वर्तेत् ओदक क्रिया”
vṛthāsaṁkara jātānāṁ pra vrajyāsu ca tiṣṭhatām
ātmanastya āgināṁ caiva nirvartet odaka kriyā
Terjemahan:
Air pensucian tidak bisa diberikan kepada mereka yang tidak menghiraukan upacara-upacara yang telah ditentukan sehingga dapat dianggap kelahiran mereka itu sia-sia belaka, tidak pula dapat diberikan kepada mereka yang lahir dari perkawinan campuran kasta secara tidak resmi, kepada mereka yang menjadi pertapa dari golongan murtad, dan pada mereka yang meninggal karena bunuh diri.
Adapun makna filosofi Ātmanastya dikaji secara ekoteologi yang bernilai pendidikan Hindu berikut ini:
- Odaka Kriyā (air pensucian).
Maknanya bahwa ajaran suci yang mengajarkan air pensucian tidak bermakna jika diberikan kepada orang yang meninggal karena bunuh diri. Air pensucian pantas diberikan kepada yang meninggal tanpa membunuh diri. Orang yang sengaja membunuh diri tergolong ngulah pati (bunuh diri). Perbuatan itu misalnya menceburkan diri ke jurang, minum racun, gantung diri, menusuk diri, atau cara lain yang dilakukan sendiri hingga mati. Semua itu tergolong Ātmanastya. Karena itu, odaka kriyā tidak berlaku bagi si mati. Ajaran Hindu melarang perilaku Ātmanastya, bunuh diri adalah dosa berat. - Catur Āśrama (empat tahapan hidup).
Maknanya bahwa secara pendidikan Hindu, setiap orang mesti melalui tahapan hidup: masa muda belajar menekuni Brahmacarya; kemudian membina rumah tangga (Gṛhastha); lalu masa penguatan kerohanian (Vānaprastha); dan akhirnya masa kesucian diri (Bhikṣuka/Sannyāsa) melalui dīkṣā untuk mencapai dvija (kelahiran rohani kedua). Jika semua ini dilakoni dengan sempurna, maka kematian (mṛtyu) yang datang adalah wajar, bukan karena Ātmanastya. - Mṛtyu (kematian).
Maknanya proses hidup sejak lahir (jāta), menjadi bayi (śiśu), anak-anak (kumāra/kumārī), remaja (tāruṇa/tāruṇī), dewasa (proudha), hingga usia tua (vṛddha). Semua itu adalah proses alami. Dalam perjalanan hidup, manusia menghadapi suka (sukha), duka (duḥkha), sakit (rogya), masalah (saṁasya), dan tantangan (vighna). Semua mestinya dihadapi dengan damai (śānta), bukan dengan jalan Ātmanastya. Perbuatan bunuh diri adalah dosa terberat yang oleh Yama Rāja dihukum di narakaloka. Karena itu, seberat apapun penderitaan, jangan ambil jalan pintas Ātmanastya.
Intinya, Ātmanastya (bunuh diri) merupakan dosa yang tidak terampuni. Siapapun yang melakukannya akan dijebloskan ke narakaloka oleh Yama Rāja atas kuasa Śiva. Maka, umat Hindu hendaknya sadar, jangan sampai menjadi pelaku Ātmanastya. Segala kesalahan masih bisa diampuni di jagat raya melalui doa, upacara, dan introspeksi diri. Dengan tekun melaksanakan Tri Sandhyā dan memohon ampunan (kṣamā), segala susah, salah, dan derita masih bisa diperbaiki.
Mari kita maknai filosofi Ātmanastya sebagaimana diajarkan pustaka suci Weda: air pensucian (odaka kriyā) tidak berlaku bagi orang yang bunuh diri. Semoga umat Hindu memahami dan menghindari perbuatan Ātmanastya.
Rahayu. Svāhā. Kṣamā ca Kṣami.
