Filosofi Pùjayitvà Grhasthah

Oleh I Ketut Subagiaata

Disajikan sebuah uraian dengan Pùjayitvà Grhasthah, artinya kewajiban kepala rumah tangga melakukan pemujaan suci berupa panca yajña. Mari dimaknai dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suci
MĀNAVADHARMAŚĀSTRA – SLOKA III-117, yang dikutip sebagai berikut:

“देवानृषीन् मनुष्यांश्च पितन् गृह्याश्च देवताः
पूजयित्वा ततः पश्चाद् गृहस्थः शेषभुग्भवेत्”

devānṛṣīn manuṣyāṁśca pitan gṛhyāśca devatāḥ
pūjayitvā tataḥ paścād gṛhasthaḥ śeṣabhugbhavet

Artinya:
Setelah menghormati para Dewa, para Ṛṣi, para leluhur, dan para Dewa penjaga rumah, tuan rumah akan makan kemudian atas apa yang tinggal.

Adapun makna mengenai Pùjayitvà Grhasthah dapat diuraikan secara sederhana sebagai berikut ini:

  1. Devān artinya Dewa Yajña. Maknanya bahwa kepala rumah tangga memiliki kewajiban untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, memuja dewa-dewi, bhakti terhadap bhatara-bhatari, serta bhakti terhadap sarqa dewata dengan tulus suci nirmala dengan menghaturkan persembahan suci.
  2. Ṛṣīn artinya Rsi Yajña. Maknanya bahwa kepala keluarga bersama seluruh warga rumah tangga hormat kepada resi, guru, pengajar, pendidik, terlebih lagi kepada guru rupaka. Hindari alpakaguru. Hormatilah guru. Hormat dan berguru, tekun menimba ilmu pengetahuan.
  3. Manuṣyāṁśca artinya Manusa Yajña. Maknanya bahwa kepala rumah tangga wajib untuk menghormati sesama keluarga, sesama sanak family, hormat terhadap sesama manusia secara perikemanusiaan. Dilarang melakukan KDRT terhadap anak kecil, perempuan atau istri, orang tua, maupun menyiksa warga keluarga. Era digital banyak terjadi KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga. Stop KDRT.
  4. Pitan artinya Pitra Yajña. Maknanya bahwa kepala rumah tangga serta semua anggota keluarga memiliki kewajiban untuk menghormati dan memuja pitara-pitari, leluhur, dan atma sidha dewata. Secara sekala bahwa orang tua wajib dihormati, dilayani, diperlakukan secara terhormat.
  5. Gṛhyāśca Devatāḥ artinya Bhuta Yajña. Maknanya bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa memiliki murti atau kekuatan untuk menjaga rumah tangga yang bersthana pada penunggun karang. Deva ya Bhuta ya yang maknanya penunggun karang sebagai penjaga rumah tangga. Lumrah disebut Tugu posisi teben karang (kelod kauh atau kaja kauh). Saat Buda Kliwon Ugu, umat Hindu untuk memuja Hyang Bhuta Ya Dewa Ya yang bertugas for secure rumah tangga. Segala kekuatan bhuta somya menjadi Dewata untuk memberikan perlindungan dan keamanan rumah tangga.

Intinya, bahwa kepala rumah tangga wajib melakukan panca yajña. Sisa persembahan atau yajñasesa dinikmati bersama sebagai bentuk terima kasih, agayubhagya, dan wujud kerukunan dan kedamaian segenap keluarga yang sukhinah.
Semoga semua keluarga rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 15.7.2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Jangan Pelihara Rasa Dengki dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 09/08/2026 Umat Sedharma, menjauhkan diri dari rasa dengki dan iri hati (mātsarya) merupakan kewajiban dasar dalam membangun tatanan kehidupan umat Hindu yang Satyam, Śivam, dan Sundaram. Kuatkan perbuatan, perasaan hati, serta cinta kasih kepada sesama melalui Prema Vahini. Jangan biarkan sifat iri hati dan dengki terlalu lama bercokol dalam diri. Manakala batin selalu…

  • Mohanya Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/11/2025 Umat sedharma, hukum karma mengatur dinamika kehidupan semua makhluk hidup di alam semesta, yang mengakibatkan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi), baik kelahiran di sorga maupun kelahiran di neraka, dengan Karma-veśanā (jejak karmic/impuls karma) sebagai pengikut setianya. Ketidakmampuan mengendalikan nafsu indriya (indra) sebagai Mohanya Karma menyebabkan kaburnya kesadaran umat manusia. Hal ini dapat…

  • Asatyam (BG XVI.8)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)1 Agustus 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Asatyam (BG XVI.8) Asatyam berarti ketidakjujuran, yaitu tidak jujur, tidak berintegritas, tidak nyata, tidak faktual, tidak benar, berbohong, dan tidak dapat dipercaya. Idep asatyam adalah pikiran yang dilandasi kebohongan. Sabda asatyam adalah perkataan yang tidak jujur. Bayu asatyam adalah perilaku yang dilandasi kebohongan. Sifat…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 27 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam susastra tersurat bahwa manusia yang terlahir ke dunia tetapi mengingkari pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi, serta dipenuhi sifat tamak, disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, kesempatan menjelma menjadi manusia merupakan anugerah yang sangat utama untuk memperbaiki dan membenahi diri….

  • Belajar Mengenali Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 21/08/2026 Umat Sedharma, jika direnungkan, Bunga Seroja demikian harum dan indah, namun memiliki kelemahan pada tangkainya yang berbulu dan dapat menimbulkan rasa gatal. Demikian pula Gunung Himalaya yang menjulang tinggi dan sangat mempesona, ternyata memiliki kelemahan karena sering tertutup salju. Sesungguhnya, menjelma menjadi manusia di dunia ini penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Tidak…

  • Perkuat Nurani dengan Nilai Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 20 Juni 2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: “Hendaknya seseorang mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang lain.” Perkuatlah hati nurani dengan memperkuat nilai-nilai kebenaran, yaitu Satyam. Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran semu yang menyakitkan, dan jangan pula mengucapkan kebohongan yang menyenangkan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat…