Karma & Hukum Yajña

Mutiara Weda

Yogyakarta, 20/05/2026

Umat se-dharma, hakikat hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk bekerja. Bekerja sebagai suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap umat Hindu, sebab tak sekejap pun manusia dapat diam tanpa bekerja. Melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sendiri (svadharma), walaupun tidak sempurna, lebih mulia daripada melaksanakan tugas orang lain.

Melaksanakan tugas dan kewajiban diri sendiri sesuai dengan ajaran agama disebut svadharma, sedangkan melaksanakan tugas dan kewajiban orang lain disebut para dharma.

Maka dari itu, sebagai umat Hindu hendaknya selalu sadar akan tugas dan kewajiban masing-masing (svadharma), serta mengembangkan tatanan kehidupan umat Hindu yang baik dan benar dengan keyakinan bahwa kerja tanpa pamrih (lascarya) merupakan aspek yang lebih tinggi dari Hukum Yajña. Niscaya, umat akan dapat memahami hakikat mekarma yang sesungguhnya, yaitu menjalankan svadharma dengan landasan ketulusan. (BG III.5, 8 & Weda Saṁhitā)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara (PSN)
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)2 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7) Śubhakarma adalah melakukan perbuatan mulia. Ada sembilan yang disebut Nava Śubhakarma, sebagai berikut: Asubhakarma adalah menghindari perbuatan kejam. Ada lima yang disebut Pañca Hiṃsā Karma, sebagai berikut: Pañca Hiṃsā Karma atau Pañca Aśubhakarma adalah lima perbuatan kejam yang tidak boleh dilakukan…

  • Filosofi Sukham

    Palangka Raya, 23.10.2025 Disajikan topik filosofi Sukham, artinya kebahagiaan. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā II.66 yang dikutip sebagai berikut: “नास्ति बुद्धिरयुक्तस्य न चायुक्तस्य भावना ।न चाभावयतः शान्तिरशान्तस्य कुतः सुखम् ॥ २-६६॥nāsti buddhir ayuktāsya na cāyuktāsya bhāvanāna cābhāvayatah śāntir aśāntasya kutaḥ sukham“Artinya:Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan, dan juga tak…

  • Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7) Yadā Yadā Dharmasya Glānir mengandung makna bahwa kapan pun Dharma tidak dipatuhi dan mengalami kemerosotan, Hyang Widhi Wasa senantiasa menegakkan Dharma di jagat raya demi terciptanya ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh kehidupan (jagad hita), sehingga terwujud keadaan yang damai dan harmonis. I KETUT SUBAGIASTA…

  • Kesadaran Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 01/10/2026 Umat Se-Dharma, dalam susastra ada ungkapan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Kesadaran dan kemampuan untuk mengekang serta mengendalikan seluruh Indriya akan menghadirkan pengetahuan rohani. Membangun sifat bijaksana dan sifat-sifat kedewataan dengan menghapus niat buruk serta niat jahat merupakan suatu keharusan dalam kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita sebagai umat Hindu membangun kekuatan…

  • Upalaksana (SS. 140)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)21 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Upalaksana (SS. 140) Upalaksana berarti perbuatan jahat yang dapat menjadi sumber bencana besar. Bencana dapat terjadi akibat ulah jahat manusia itu sendiri. Ibarat seekor kijang yang melahirkan satu anak dan merawatnya dengan baik, sedangkan seekor serigala yang melahirkan enam sampai tujuh anak justru memakan anak-anaknya…