Mohanya Karma

Mutiara Weda
Yogyakarta, 24/11/2025

Umat sedharma, hukum karma mengatur dinamika kehidupan semua makhluk hidup di alam semesta, yang mengakibatkan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi), baik kelahiran di sorga maupun kelahiran di neraka, dengan Karma-veśanā (jejak karmic/impuls karma) sebagai pengikut setianya.

Ketidakmampuan mengendalikan nafsu indriya (indra) sebagai Mohanya Karma menyebabkan kaburnya kesadaran umat manusia. Hal ini dapat menghambat peningkatan kualitas kesadaran dan membuat seseorang jatuh ke dalam kegelapan tanpa cahaya, sehingga tidak mampu melihat mana yang baik maupun yang buruk.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu mengendalikan indriya sebagai sumber Mohanya Karma, agar kita terhindar dari karma buruk. Pahamilah bahwa setiap manusia dan semua makhluk hidup sepenuhnya bebas, memiliki kehendak, serta bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri, menjadi penentu dari karma kehidupannya—Svatantrya-kathā (ajaran tentang kehendak bebas).
(Kitab Saṁsāra & Weda Saṁhitā)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU
Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Berperilaku Jahat Tidak Akan Pernah Selamat

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra Hindu diuraikan: tapāṃsi tasmai vṛjināni santu — perbuatan jahat, licik, dan iri hati sarat dengan dosa yang membuat kehidupan menjadi tersiksa. Perbuatan yang dipenuhi kejahatan dan dosa tidak akan pernah berhasil mengarungi kehidupan di alam saṃsāra ini. Kebaikan dan kebajikan tidak pernah bersahabat dengan kejahatan. Demikian pula, Ida…

  • Siklus Samsara

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/05/2025 Umat Se-dharma, lahir kembali menjelma menjadi manusia menjalankan siklus Samsara Punarbhawa sesungguhnya memanfaatkan waktu dan menggunakan kesempatan untuk lahir kembali dengan baik guna memperbaiki diri serta menjadi penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan hidup yaitu Catur Purusa Artha. Jangan sia-siakan waktu & kesempatan dengan melakukan perbuatan hina dan tercela, demikian pulajangan biarkan waktu…

  • Filosofi Yajñàrtham Nidhanam

    Palangka Raya, 24.9.2025Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sajian Yajñàrtha Nidhanam artinya tumbuhan yang dipakai untuk upacara agama, sesuai pustaka suci MĀNAVA DHARMAŚĀSTRA – SLOKA V-40 yang dikutip berikut ini: “ओषध्यः पशवो वृक्षास्तिर् यञ्चः पक्षिणस् तथायज्ञार्थं निधनं प्राप्ताः प्राप्नु वन्त्युच्छ्रितीः पुनःoṣadhyaḥ paśavo vṛkṣāstir yañcaḥ pakṣiṇas tathāyajñārthaṁ nidhanaṁ prāptāḥ prāpnu vantyucchritīḥ punaḥ” Terjemahan:Tumbuh-tumbuhan, semak, pepohonan, ternak, burung-burung…

  • Filosofi Àmbhasā

    Palangka Raya, 8.6.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Àmbhasā, artinya oleh air. Mari dimaknai ajaran luhur tentang Àmbhasā secara ekoteologi dalam pustaka suci Bhagavad Gītā V-10 yang dikutip sebagai berikut: “ब्रह्मण्याधाय कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा करोति यः ।लिप्यते न स पापेन पद्मपत्रमिवाम्भसा ॥ ५-१०॥brahmaṇy ādhāya karmāṇi saṅgaṁ tyaktvā karoti yaḥlipyate na sa pāpena padma-patram ivāmbhasā…

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara WedaJogjakarta, 07/05/2026 Umat Sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu, yaitu Citta Vṛtti Nirodha, menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra ini. Orang yang dapat mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria atau hawa nafsunya bagaikan seekor penyu yang sedang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang…