Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

Mutiara Weda
Yogyakarta, 25/04/2026

Umat sedharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Tidak ada musuh yang lebih jahat daripada kemarahan (krodha), tidak ada kesengsaraan yang melebihi kerakusan (lobha), dan tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan seseorang dalam melepaskan ikatan nafsu (tyāga).

Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan, terlebih di zaman sekarang. Dalam bekerja, beraktivitas, dan memenuhi kebutuhan hidup, seseorang tetap dapat menjalani semuanya seperti biasa, namun batinnya tidak terikat oleh nafsu dan tidak diliputi kegelisahan.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu menyikapi kehidupan duniawi ini dengan bijaksana: mampu merasakan “hening di tengah keramaian” dan “tenang dalam kesunyian”. Sikap ini akan membawa keseimbangan batin dalam menjalani kehidupan.

Niscaya, kebahagiaan hidup akan dapat dirasakan.
(Ślokāntara 39.54)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Tumpek Wayang

    Ada sumber dalam pustaka suci Siva Purana yang berisi ajaran tentang seni pada sloka 1.6.26, dikutip berikut ini: “वीज्यमानं विशेषजैः स्त्रीजनैस्तीव्रभावनैः ।शस्यमानं सदावेदैरनुगृह्णंतमीश्वरम् ॥ २६ ॥vījyamānaṁ viśeṣajaiḥ strījanaistīvrabhāvanaiḥ |śasyamānaṁ sadāvedairanugṛhṇaṁtamīśvaram || 26 ||” Artinya:Beliau dikipasi oleh para ahli dalam seni yang penuh perhatian. Kitab-kitab Veda memuji-muji Beliau. Tuhan memberkati setiap orang. Maknanya adalah bahwa Hyang…

  • Indrya Mata: Mata Nafsu

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/11/2024 Umat Sedharma,Menjelma menjadi manusia di alam maya pada ini penuh dengan permasalahan, cobaan, dan godaan yang disebabkan oleh kegelapan pikiran Bhaksa Bhuana akibat ketidakmampuan menjaga dan mengolahnya. Kegelapan pikiran itulah yang mempunyai indrya mata, yang disebut mata nafsu. Pikiran yang bermata-nafsu tidak mampu melihat kenyataan hidup yang sebenarnya sehingga cenderung menggunakan keakuan…

  • Brahman Ātman Aikyam

    Mutiara WedaYogyakarta, 07/04/2026 Umat sedharma, mereka yang bahagia sesungguhnya adalah mereka yang percaya pada dirinya sendiri. Demikian pula, dalam mencapai kebebasan, diperlukan landasan ketulusan dan keluhuran buddhi. Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan bersemayam di dalam lubuk hati yang paling dalam, yaitu padma hṛdaya, apabila dilandasi oleh keluhuran buddhi serta hati yang tenang, damai, dan…

  • Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) 25 Juni 2026 Oleh I Ketut Subagiasta Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30) Martyasya Rakṣa berarti “selamatkanlah semuanya”. Tekunlah melestarikan lagu-lagu suci keagamaan dan rajin melaksanakan yajña. Hindarkan sikap ego atau ahaṅkāra (keangkuhan diri), serta jauhilah sikap kekerasan dalam hidup atau hiṁsā karma (perbuatan menyakiti). Bagikan ke:

  • Tri Maṅgalaning Yajña

    Mutiara Weda27/02/2026 Umat sedharma, umat Hindu di dalam melaksanakan yajña tidak bisa lepas dari tiga komponen penting sebagai unsur utama yang menentukan keberhasilan, kesakralan, dan sahnya sebuah pelaksanaan upacara yajña di dalam agama Hindu. Ketiga unsur itu bersifat integral sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, meliputi: Sang Maṅgala Upacara atau Pemuput (pendeta/pinandita), Sang Sārati Banten…

  • Selaras dalam Berpikir

    Mutiara Weda Yogyakarta, 24/01/2026 Umat se-dharma, manah (pikiran) merupakan sinar cahaya yang dapat mengembara ke mana-mana, membimbing dan menuntun seluruh perilaku serta tindakan. Pikiran juga menjadi sumber pengetahuan sekaligus perantara yang paling cepat. Pikiran merupakan penentu baik dan buruknya seseorang. Pikiran sebagai perantara tercepat mengawasi seluruh indriya (alat indra) serta menjadikan niat atau tekad sebagai…