Filosofi Sukham

Palangka Raya, 23.10.2025

Disajikan topik filosofi Sukham, artinya kebahagiaan. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā II.66 yang dikutip sebagai berikut:

“नास्ति बुद्धिरयुक्तस्य न चायुक्तस्य भावना ।
न चाभावयतः शान्तिरशान्तस्य कुतः सुखम् ॥ २-६६॥
nāsti buddhir ayuktāsya na cāyuktāsya bhāvanā
na cābhāvayatah śāntir aśāntasya kutaḥ sukham
“
Artinya:
Tak ada kebijaksanaan pada pikiran yang tak terkendalikan, dan juga tak ada konsentrasi yang dapat dilakukan; tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusat, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebahagiaan?

Makna filosofi Sukham dalam masa Wanaprastha adalah sebagai berikut:

  1. Buddhi – artinya kecerdasan. Masa Wanaprastha harus memiliki kecerdasan luhur dan berjiwa mulia.
  2. Bhāvanā – artinya konsentrasi atau pemusatan pikiran. Masa Wanaprastha wajib tetap terkendali dan fokus.
  3. Sāntiḥ – artinya damai. Masa Wanaprastha harus tampil damai, rukun, dan harmonis, serta menghindari aśānti (ketidakedamaian).
  4. Sukham – artinya kebahagiaan. Masa Wanaprastha wajib bahagia, tenang, dan prasanta (tenang lahir dan batin).

Intinya, masa Wanaprastha harus mengutamakan:

  • Buddhi (intelek/cerdas)
  • Bhāvanā (konsentrasi pikiran)
  • Sāntiḥ (hidup damai)
  • Sukham (hidup bahagia dan tenang)

Semoga masa Wanaprastha tercapai dengan rahayu, dan dapat melanjutkan kehidupan sebagai Bhiksuka.
Rahayu, damai, dan bahagia.
Svāhā. Kṣamā ca kṣami.

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Subhāsubha (BG XII.17)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)21 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Subhāsubha (BG XII.17) Subhāsubha adalah kebaikan dan kebatilan. Dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan maupun kebatilan. Demikian pula, rasa senang dan sedih selalu menyertai kehidupan. Pujian dapat menimbulkan rasa senang, sedangkan kebencian dapat menghadirkan kesedihan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mampu melepaskan…

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….

  • Filosofi Āpah Prakṛti

    Palangka Raya, 13.9.2025 Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Āpah Prakṛti, artinya sifat alami air, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā. Artinya:Tanah, air, api,…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/11/2025 Umat Sedharma, di dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan (jñāna), dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat (kāma durbhāva). Demikian juga, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib (daiva) karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melakukan perbuatan baik (śubha karma)…

  • Ahaṅkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2026 Umat sedharma, jika direnungkan, manah (pikiran) sesungguhnya merupakan penyebab dari penderitaan dan kesengsaraan tatkala pikiran dicemari oleh hawa nafsu serta berbagai kekotoran Ahaṅkāra Jñāna. Apabila pikiran itu bersih dan suci, tidak dihinggapi kekacauan, tidak dibelenggu oleh hawa nafsu serta berbagai kecemaran, melainkan dipenuhi Sāttvika Vidyā (pengetahuan yang suci), itulah sesungguhnya hakikat kedamaian…

  • Bangun Pura dalam Diri

    Mutiara Weda22/03/2026 Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi sesama, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi. Apabila ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar untuk memamerkan diri (rājasika), maka…