Tri Guna dalam Tri Sarira

Mutiara Weda
Yogyakarta, 26/10/2025

Umat Se-dharma, jika direnungkan dalam sususastra Hindu, tubuh manusia sebenarnya dibentuk oleh tiga lapisan dan memiliki fungsi serta kualitas berbeda-beda yang disebut Tri Sarira.

Tiga unsur lapisan dalam diri manusia (Tri Sarira) meliputi:

A. Sthūla Sarira / Rāga Sarira
Badan kasar atau jasmani yang terbentuk dari unsur Pañca Mahā Bhūta dan Pañca Māyā Kośa.

B. Sūkṣma Sarira / Liṅga Sarira
Badan halus yang dibentuk oleh Tri Anta Karana (tiga penyebab akhir), terdiri dari:

  • Buddhi: berfungsi untuk menentukan keputusan
  • Manas: berfungsi untuk berpikir dan menjalankan Viveka
  • Ahaṅkāra: berfungsi untuk merasakan dan bertindak

C. Antah Karana Sarira
Badan penyebab atau lapisan paling halus, yaitu Ātman (Jīvatman) sebagai hidupnya hidup.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk memahami inti hakekat dari Tri Sarira, yang menentukan kehidupan umat manusia di dunia ini, selalu dibayangi oleh unsur Tri Guṇa.

Tubuh manusia (Sthūla Sarira) adalah alat dari pikiran (Sūkṣma Sarira), sedangkan Antah Karana Sarira / Ātman menentukan gerak pikiran manusia.

  • Manakala ingatan dipengaruhi oleh Sattva, seseorang akan menjadi bijaksana, pandai, dan pemaaf.
  • Manakala ingatan dipengaruhi oleh Rajas, seseorang menjadi pemarah, pendendam, dan ambisius.
  • Manakala ingatan dipengaruhi oleh Tamas, seseorang menjadi pemalas, serakah, dan rakus.

(MDS I.6 & Kitab Weda Saṃhitā)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dīptam

    Disajikan topik Dīptam, artinya sinar cahaya yang cemerlang. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā XI-24 yang dikutip sebagai berikut: “नभःस्पृशं दीप्तमनेकवर्णं व्यात्ताननं दीप्तविशालनेत्रम् ।दृष्ट्वा हि त्वां प्रव्यथितान्तरात्मा धृतिं न विन्दामि शमं च विष्णो ॥ ११-२४॥nabhaḥ-spṛśaṁ dīptam aneka-varṇaṁ vyāttānanaṁ dīpta-viśāla-netram,dṛṣṭvā hi tvāṁ pravyathitāntar-ātmā dhṛtiṁ na vindāmi śamaṁ ca viṣṇo. Artinya:“Wahai Viṣṇu, setelah melihat…

  • Ngayah – Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 22 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Dalam pustaka suci disebutkan:Kurvan eveha karmāṇi, jijīviṣet śataṁ samāḥ,… dst. Sesungguhnya hakikat hidup sebagai manusia yang terlahir di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja adalah suatu kewajiban dan bentuk kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata-mata karena hasil perbuatan yang diinginkan. Jangan pula pahala menjadi satu-satunya motif….

  • Krta Niscayah (BG.II.37)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)17.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Krta Niscayah (BG.II.37) Krta Niscayah adalah bulatkan tekad, teguhkan pikiran. Bangkit, berjuang, berkarya. Jangan ada keraguan. Bulatkan tekad mulia. Teguhkan pikiran luhur. Berkembang luhung penuh dedikasi. Bangkit, bangun, bangga, raih prestasi. Mari dimaknai filosofi Krta Niscayah, yakni bulatkan tekad dengan pikiran luhur. Bagikan ke:

  • Daivasura Sampad

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/10/2025 Umat se-dharma, ada dua macam makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di dunia ini, yaitu yang bersifat mulia dan yang bersifat jahat. Ciptaan yang bersifat bijak dan mulia disebut Daivī Sampad. Karakternya adalah penuh kebijaksanaan, memiliki kemurnian hati, serta mampu menguasai dan mengendalikan indriya. Sedangkan ciptaan yang berperilaku jahat disebut…

  • Pentingnya Membangun Kedamaian dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 27 Mei 2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan pentingnya menyingkirkan niat-niat kotor dan niat-niat jahat yang bersemayam dalam diri, “āpma hato na somaḥ.” Dengan lebih menampakkan nilai-nilai kebajikan dan kemuliaan, serta menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela dan jahat terhadap sesama, seseorang akan mampu menuju kebaikan, kemuliaan dalam berperilaku, serta terbangunnya kesucian…

  • Berkesadaran Perilaku Bijak

    Mutiara Weda 14/10/2025 Umat Sedharma,orang yang memiliki kualitas kerohanian samyag-jñāna dan memahami berbagai pengetahuan suci, vruh ring sarva-jñāna, tidak akan pernah menghiraukan niat-niat jahat serta berbagai tipu muslihat dari mereka yang berhati gelap. Jika direnungkan, sesungguhnya sumber kejahatan itu terletak pada hati nurani manusia — ri hati ya tonggwanya, tan madoh ri awak (akar kejahatan…