Krodha, Cermin Pudarnya Nilai Kesabaran

Mutiara Weda

Yogyakarta, 21/05/2026

Umat se-dharma, kesabaran merupakan kekayaan yang paling mulia dan tak ternilai harganya, ibarat emas dan permata yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsu; tiada yang melebihi kemuliaannya.

Tatkala kesabaran dan ketenangan hati mulai berkurang, tidak akan pernah ada kepastian akan terjalinnya persahabatan. Sebaliknya, yang muncul adalah jiwa murka yang menyelubungi diri, yang pada akhirnya berujung pada perkelahian, permusuhan, serta saling membenci.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu untuk selalu menumbuhkan nilai kesabaran dalam diri dengan mengikis habis serta menghilangkan sifat-sifat pemarah (krodha), ibarat ular yang meninggalkan kulit luarnya (kulit/kuleṣa-nya) dan tidak akan kembali lagi. Mengingat, orang yang dikuasai oleh nafsu kemarahan, segala bentuk harta benda, tapa, serta persembahan yang dilakukannya tidak akan pernah memperoleh hasil ataupun pahala. Niscaya, kesabaran akan terpancar dalam hati sehingga mampu menampilkan karakter umat Hindu yang berbudi luhur. (SS 104–114)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tri Maṅgalaning Yajña

    Mutiara Weda27/02/2026 Umat sedharma, umat Hindu di dalam melaksanakan yajña tidak bisa lepas dari tiga komponen penting sebagai unsur utama yang menentukan keberhasilan, kesakralan, dan sahnya sebuah pelaksanaan upacara yajña di dalam agama Hindu. Ketiga unsur itu bersifat integral sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, meliputi: Sang Maṅgala Upacara atau Pemuput (pendeta/pinandita), Sang Sārati Banten…

  • Nilai Praksis & Nilai Dasar dalam Penerapan Ajaran Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 2 Juni 2026 Umat se-dharma, dalam pustaka suci disebutkan: “Śrutis tu vedo vijñeyo dharmaśāstraṃ tu vai smṛtiḥ, te sarvārtheṣv amīmāṃsye tābhyāṃ dharmo hi nirbabhau.” Artinya: Yang dimaksud dengan Śruti adalah Weda dan yang dimaksud dengan Smṛti adalah Dharmaśāstra. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya merupakan sumber Dharma. Hindu…

  • Filosofi Brahman

    Palangka Raya, 15.5.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sebuah topik tentang Filosofi Brahman, yang berarti Sang Hyang Siva sebagai pencipta, pemelihara, dan pengembali segala sesuatu ke asal-Nya. Mari kita pahami ajaran luhur tentang ketuhanan Hindu dalam pustaka suci Śiva Purāṇa 1.6.20-22 yang dikutip sebagai berikut: “सृष्टिः स्थितिश्च संहारस्तिरो भावोप्यनुग्रहः ।यस्मात्प्रवर्तते तस्मै ब्रह्मणे च त्रिशूलिने ॥…

  • Widvāṅga: Perilaku Semu

    Mutiara WedaYogyakarta, 05/03/2026 Umat Sedharma, jika dilihat dinamika kehidupan di zaman ini, artha (harta/uang) ataupun kekayaan seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlap artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan serta sangat dihargai pada zaman ini oleh sebagian umat manusia. Dunia terasa diselubungi oleh kegelapan dan…

  • Vimatsaraḥ (BG IV.22)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Sabtu, 15 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Vimatsaraḥ (BG IV.22) Vimatsaraḥ berarti tanpa rasa permusuhan, iri hati, atau dengki. Dalam menghadapi berbagai keadaan yang berbeda atau dvandvātīta, seperti sukha ca duḥkha (senang dan sedih), lābha ca alābha (untung dan rugi), siddha ca asiddhau (sukses dan gagal), jaya ca ajaya (menang dan…