Damai Dalam Berpikir
Umat Sedharma, Manah atau pikiran merupakan sinar cahaya yang dapat mengembara ke mana-mana.
Umat Sedharma, Manah atau pikiran merupakan sinar cahaya yang dapat mengembara ke mana-mana.
Umat sedharma, jika dilihat dinamika kehidupan di zaman ini, artha/uang ataupun kekayaan seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlapan artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan dan sangat-sangat dihargai di zaman ini oleh sebagian umat manusia.
Umat Sedharma, dalam pustaka suci Weda Saṁhitā diungkapkan ajaran: “Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, berpikirlah bersama-sama, dan rumuskanlah sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.”
Umat se-Dharma, menaburkan benih-benih kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian pula.
Takdir atau nasib itu sesungguhnya menunjukkan kepada umat manusia bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur semuanya, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Ida Sang Hyang Parama Kawi.
Sesungguhnya, tidak mementingkan diri sendiri itulah Dharma yang utama. Sifat tangguh, jujur, dan ulet serta tahan uji merupakan kesaktian umat manusia yang mahadahsyat. Begitu pula, kepandaian dan kemampuan mengendalikan diri merupakan hakikat dari ajaran Brata dan menjadi janji atas diri.
Hakikat Meyadnya sesungguhnya mengajarkan umat Hindu agar tidak hanya berpikir tentang apa yang dapat diterima, tetapi juga menyadari apa yang dapat dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Ida Sang Hyang Parama Wisesa, kepada sesama, kepada leluhur, para guru, dan alam semesta.
Umat se-Dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa di zaman Kaliyuga ini, musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan ada di dalam diri sendiri akibat ketidakmampuan menyinergikan unsur Tri Guna, yaitu Sattvam, Rajas, dan Tamas, dalam diri.
Umat se-Dharma, kesabaran merupakan kekayaan yang paling mulia dan tak ternilai harganya. Ibarat emas dan permata, kesabaran memiliki kemuliaan yang tiada ternilai dan mampu menjadi kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu.
Sesungguhnya, hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja merupakan suatu kewajiban dan kebajikan.