Menjaga Kesucian Buddhi

Mutiara Weda
Yogyakarta, 16/06/2026

Umat sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan: tṛṣṇā hi sarvapāpiṣṭhā nityodvegakārī matā; sifat rakus, loba, serakah, dan sejenisnya merupakan sumber berbagai bencana. Segala bentuk bencana atau kejahatan yang ditimbulkan oleh sifat rakus dan serakah yang menyebabkan kebencian serta ketakutan pada orang lain disebut tṛṣṇā (keinginan yang tidak terkendali).

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat memuaskan tṛṣṇā. Orang yang memiliki tṛṣṇā yang sangat kuat tidak ubahnya seperti samudra luas yang selalu mampu menampung air dari mana pun datangnya. Demikian pula halnya dengan kekayaan atau kemewahan yang terus melimpah, sering kali menyebabkan keinginan semakin besar sehingga berkembang menjadi sifat loba, rakus, dan tamak.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu senantiasa menjaga kesucian buddhi (akal budi) melalui pengetahuan suci, sebagaimana diajarkan dalam Buddhir Jñānena Śudhyati (buddhi disucikan oleh pengetahuan). Selain itu, hendaknya kita mengendalikan seluruh indria serta menghilangkan segala bentuk kejahatan yang menimbulkan kebencian dan ketakutan. Niscaya akan terbangun kebahagiaan rohani berupa nistṛṣṇā (terbebas dari keinginan yang berlebihan), yang mengantarkan menuju kebahagiaan sejati, yaitu tṛṣṇākṣaya-sukha (kebahagiaan karena lenyapnya nafsu keinginan).

(SS. 448–485)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Yajñākṣapitakalmaṣāḥ (BG. IV.40)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)23 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Yajñākṣapitakalmaṣāḥ artinya yajña yang melebur dosa-dosa. Ada aneka jenis yajña atau yajñavidah. Ada daun (patram), bunga (puṣpam), buah (phalam), air (toyam/tīrtha), api (agni), dan mantra (mantram). Semua jenis sarana yajña (yajñavidah) merupakan bentuk persembahan yang berfungsi untuk melebur dosa-dosa umat Hindu. Mari kita maknai filosofi…

  • Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)3 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74) Aṣṭa Coraḥ dan Ṣaḍātatāyī adalah delapan perbuatan curang dan enam perbuatan kejam. Ada caturdaśa atau empat belas perbuatan curang dan kejam, antara lain: membegal, merampas, merampok, mengamuk, menganiaya, membunuh, menyihir, meracun, mencuri, memfitnah, memancung, menyakiti, merusak, dan menipu….

  • Bangun Pura dalam Diri

    Mutiara Weda22/03/2026 Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi sesama, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi. Apabila ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar untuk memamerkan diri (rājasika), maka…

  • Belajar Menyikapi Proses Kehidupan

    Umat Se-Dharma, dalam pustaka suci ada mengungkapkan: tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan, begitu juga tidak ada musuh sejahat kemarahan (Krodha), pun tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan. Demikian pula halnya, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (Tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan di zaman ini,…

  • Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/05/2026 Umat Sedharma, dalam susastra diungkapkan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Sesungguhnya kesadaran dan kemampuan digunakan untuk mengekang seluruh indria guna menghasilkan pengetahuan rohani. Membangun sifat kedewataan, yaitu sifat yang penuh dengan kebajikan, dengan menghapus niat buruk menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu membangun kekuatan kedewataan dengan menyelaraskan dan…

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….