Filosofi Mahadewa

Disajikan dengan topik Filosofi Mahadewa: artinya Dewa penganugerah Sarwa Bijaksana yang paling utama. Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Śiva Purāṇa – 1.24.89-90 yang dikutip sebagai berikut:

“अकारो गार्हपत्याग्निर्भूधर्मश्च रजोगुणः ।
ऋग्वेदश्च क्रियाशक्तिः प्रातःसवनमेव च ॥ ८९ ॥
महदेवश्च रेखायाः प्रथमायाश्च देवता ।
विज्ञेया मुनिशार्दूलाः शिवदीक्षापरायणैः ॥ ९० ॥
akāro gārhapatyāgnirbhūdharmaśca rajoguṇaḥ |
ṛgvedaśca kriyāśaktiḥ prātaḥsavanameva ca || 89 ||
mahadevaśca rekhāyāḥ prathamāyāśca devatā |
vijñeyā muniśārdūlāḥ śivadīkṣāparāyaṇaiḥ || 90 ||

Artinya:
Kesembilan dewa pada baris pertama adalah: Suku kata ‘A’, api Gārhapatya (api pengorbanan), Bumi, Dharma, sifat Rajas, Ṛgveda, Kriyāśakti (kekuatan untuk melakukan), Prātaḥsavana (upacara pagi hari) dan Mahādewa. Wahai orang bijak yang paling utama, hal ini harus dipahami dengan seksama oleh mereka yang diinisiasi dalam pemujaan Śiva.

Adapun makna luhur filosofi Mahadewa adalah pemahaman sembilan Dewa yang wajib dipahami dengan bijaksana, yaitu:

  1. Dewa Agni (Brahma): kekuatan api Gārhapatya, api pengorbanan dalam rumah tangga.
  2. Dewa Rudra: kekuatan menerangi alam, kekuatan Āditya, Surya untuk menerangi seluruh bumi.
  3. Dewa Pasupati (Giri atau Sangkara): kekuatan Dharma sejati, disebut Sang Hyang Dharma.
  4. Dewa Wisnu: pemelihara ciptaan, bersifat netral (Rajas) untuk menetralisir tamak mencapai Sattwam.
  5. Dewa Iswara: kekuatan karya seni, dengan doa Ṛgveda, kekuatan estetika.
  6. Dewa Mahadewa: kebijaksanaan tertinggi, bijaksana terhadap seluruh ciptaan semesta.
  7. Dewa Sambhu: pengantar kebajikan, kebaikan, menuju alam Sunyata atau alam niskala.
  8. Dewa Maheswara: pengendali kekuatan doa suci yang maha karya.
  9. Dewa Siva: kekuatan tertinggi yang mengatasi segalanya.

Intinya, sembilan kekuatan Tuhan ini dikenal sebagai Nava Sanga, sembilan kekuatan dari Aṣṭa Dala Ca Madhya (delapan kekuatan semesta dan satu di tengah). Semoga semua Dewa melindungi bhuwana ca sarwa prani.

Rahayu. Svaha. Kṣama ca Kṣami.

Palangka Raya, 12.5.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dīptam

    Disajikan topik Dīptam, artinya sinar cahaya yang cemerlang. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā XI-24 yang dikutip sebagai berikut: “नभःस्पृशं दीप्तमनेकवर्णं व्यात्ताननं दीप्तविशालनेत्रम् ।दृष्ट्वा हि त्वां प्रव्यथितान्तरात्मा धृतिं न विन्दामि शमं च विष्णो ॥ ११-२४॥nabhaḥ-spṛśaṁ dīptam aneka-varṇaṁ vyāttānanaṁ dīpta-viśāla-netram,dṛṣṭvā hi tvāṁ pravyathitāntar-ātmā dhṛtiṁ na vindāmi śamaṁ ca viṣṇo. Artinya:“Wahai Viṣṇu, setelah melihat…

  • Filosofi Yajñàrtham Nidhanam

    Palangka Raya, 24.9.2025Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sajian Yajñàrtha Nidhanam artinya tumbuhan yang dipakai untuk upacara agama, sesuai pustaka suci MĀNAVA DHARMAŚĀSTRA – SLOKA V-40 yang dikutip berikut ini: “ओषध्यः पशवो वृक्षास्तिर् यञ्चः पक्षिणस् तथायज्ञार्थं निधनं प्राप्ताः प्राप्नु वन्त्युच्छ्रितीः पुनःoṣadhyaḥ paśavo vṛkṣāstir yañcaḥ pakṣiṇas tathāyajñārthaṁ nidhanaṁ prāptāḥ prāpnu vantyucchritīḥ punaḥ” Terjemahan:Tumbuh-tumbuhan, semak, pepohonan, ternak, burung-burung…

  • Ngayah – Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 22 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Dalam pustaka suci disebutkan:Kurvan eveha karmāṇi, jijīviṣet śataṁ samāḥ,… dst. Sesungguhnya hakikat hidup sebagai manusia yang terlahir di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja adalah suatu kewajiban dan bentuk kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata-mata karena hasil perbuatan yang diinginkan. Jangan pula pahala menjadi satu-satunya motif….

  • Sat, Cit, Ānanda Brahman

    Mutiara Weda31/12/2025 Umat se-dharma,dalam pustaka suci Weda diajarkan untuk selalu setia, jujur, dan memegang teguh kebenaran sebagai jalan menuju ketenangan dan kedamaian batin, Parama Śāntiḥ (kedamaian tertinggi). Kebenaran dan kejujuran merupakan sifat sekaligus hakekat ketuhanan, yaitu Sat, Cit, Ānanda Brahman, sebagai bagian dari dasar keyakinan (śraddhā) dalam ajaran agama Hindu. Kesetiaan dan kejujuran itu tidak…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/03/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang berkeinginan untuk berbuat tanpa keakuan (ahaṃkāra) akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus diibaratkan seperti air yang mengalir ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak meluap. Demikian pula orang yang berjiwa sabar dan…

  • Perkuat Nurani dengan Nilai Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 20 Juni 2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: “Hendaknya seseorang mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang lain.” Perkuatlah hati nurani dengan memperkuat nilai-nilai kebenaran, yaitu Satyam. Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran semu yang menyakitkan, dan jangan pula mengucapkan kebohongan yang menyenangkan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat…