Filosofi Apsu

Disajikan Filosofi Apsu artinya air. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-8 yang dikutip sebagai berikut ini:

“मयि सर्वमिदं प्रोतं सूत्रे मणिगणा इव ॥ ७-७॥
रसोऽहमप्सु कौन्तेय प्रभास्मि शशिसूर्ययोः ।

raso ‘ham apsu kaunteya prabhāsmi śaśi-sūryayoḥ,
praṇavaḥ sarva-vedeṣu śabdaḥ khe pauruṣaṁ nṛṣu.

Artinya:
Aku adalah rasa dalam air, wahai Arjuna; Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari, Aku adalah praṇava dalam semua Veda, Aku adalah suara di ether dan kemanusiaan pada manusia.

Adapun makna filosofi Apsu, antara lain:

a) Apsu artinya air. Selain itu disebut Apah. Dewa Wisnu sebagai penguasa air. Air sebagai sumber kehidupan. Sumber air di alam adalah giri. Alam pegunungan sebagai sumber air bersih. Alam dirawat supaya tetap lestari, hijau. Perbukitan jangan sampai gundul. Tanaman, pohon penahan sumber air. Hindari alam tandus. Rawatlah hutan untuk menyimpan air alami yang dialirkan ke danau, mata air mengalir ke sungai. Aliran air ke sungai dimanfaatkan manusia sebagai sumber kehidupan: sebagai air minum, sebagai air untuk mengolah sawah serta air untuk kebutuhan rutin rumah tangga.

Apsu atau Apah, Dewa Wisnu pengendali air demi kemakmuran semua ciptaan dan suburnya alam semesta. Mari manfaatkan air dengan hemat. Rawat sumber air untuk tetap air mengalir sepanjang masa.

b) Prabhā artinya sinar. Sumber panas adalah dari Prabhā Sūrya. Air laut terkena sinar surya menjadi awan. Dalam kondisi Bayu atau angin yang dingin, maka awan atau mega turun menjadi hujan. Air hujan ditampung pada alam pegunungan secara perlahan mengalir lewat aliran sungai.

c) Surya ca Śaśi artinya matahari dan bulan. Maknanya Sūrya sumber teja atau panas atau api alami yang berhawa atau cuaca panas. Saat malam ada Prabhā Śaśi atau bulan yang mengembuskan hawa dingin. Saat malam hari terjadi angin darat, maka hawa dingin menyeimbangkan hawa panas saat siang hari. Siang dan malam merupakan saat perputaran antara angin laut dan angin darat.

Air laut terpompa oleh panas surya lalu angin darat mengembuskan awan dengan turun hujan. Terjadilah air di darat mengalir kembali ke laut. Saat siang air laut pasang dan saat malam air laut surut. Siklus energi Surya dan Śaśi bersinergi sehingga kekuatan niskala tersebut selalu berkolaborasi. Saat dipta Surya dan Śaśi mengarah ke selatan garis katulistiwa, maka musim kemarau tiba. Energi Surya dan Śaśi Jyotir mengarah ke utara, tibalah musim hujan.

Kekuatan atau Śakti Dewa Wisnu bersinergi dengan Dewa Śaṅkara serta Dewa Baruna mengatur tata musim yang harmonis antara musim hujan dan musim kemarau, diperlakukan adil secara Dakṣiṇāyana dan Uttarāyaṇa.

d) Praṇava yaitu huruf AUM yang juga disebut Tri Akṣara, karena terdiri dari tiga huruf dan juga sebagai Akṣara Brahma karena sebagai perwujudan sifat hakikat ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Maknanya bahwa dengan doa suci melafalkan Praṇava tersebut untuk mohon kekuatan hujan dan kekuatan terang. Umat Hindu yang melakoni pawang hujan dan pawang terang, dengan kekuatan Puja Prabhāva tersebut disinergikan sesuai hakikat Praṇava tersebut — puja mohon hujan dan puja mohon terang — sesuai harapan atau permohonan karya yang bersifat niskala dan gaib atau rahasyam.

Intinya bahwa Apsu, Apah, dan Dewa Wisnu serta Dewa Brahma maupun Dewa Śiwa adalah penganugraha hujan dan terang dengan sinergi Dewa Sūrya dan Dewa Candra melalui jñāna Praṇava atau aksara suci yang gaib dengan Taksu Māyā ca Brahma Rahasyam. Perlu fokus Śabda atau suara dan memahami kekuatan Ākāśa atau langit.

Semoga Rahayu. Svāhā. Kṣamā ca Kṣāmi.

Palangka Raya, 19.5.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/05/2025 Umat Se-dharma,Dalam pustaka suci ada mengungkapkan: tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan, begitu juga tidak ada musuh sejahat kemarahan (krodha), pun tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan. Demikian pula halnya, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan…

  • Pentingnya Menjaga Keseimbangan dalam Diri

    Mutiara Weda Yogyakarta, 12/05/2026 Umat se-dharma, tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa sesungguhnya adalah untuk memperoleh rasa cinta kasih dari-Nya yang senantiasa terpancar kepada seluruh ciptaan-Nya. Pancaran kasih sayang Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menerangi bhūmi beserta seluruh alam semesta dan isinya. Namun, mereka yang merasa tidak…

  • Rahasyajñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/06/2026 Umat sedharma, pustaka suci Weda yang menjadi pegangan, pedoman, dan tuntunan bagi umat Hindu sering juga disebut sebagai Kitab Rahasia karena di dalamnya banyak mengandung ajaran yang bersifat rahasia (rahasyajñāna). Untuk memudahkan memahami isi kandungan pustaka suci Weda, Mahaṛṣi Vālmīki melalui karya sastra Rāmāyaṇa dan Mahaṛṣi Vyāsa melalui epos besar Mahābhārata menyampaikan…

  • Karakter Umat Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 16/08/2026 Umat Sedharma, jika direnungkan, betapapun bersih dan indahnya sebuah taman, pasti masih ada sampah-sampah yang tersisa di dalamnya. Demikian pula halnya dengan hati nurani umat manusia. Sebersih dan seindah apa pun hati manusia, masih akan ada benih-benih kekotoran yang tertinggal di dalamnya. Keterbatasan, kekurangan, dan ketidaksempurnaan merupakan salah satu karakter yang melekat…

  • Sinergis Dalam Berpikir

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/08/2025 Umat Sedharma, dalam pustaka suci Weda ada mengungkapkan: Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, pikirkan bersama-sama dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama, mengajarkan kepada kita, umat sedharma, untuk selalu bersinergis dan bersatu guna mencapai tujuan bersama. Sahrdayam sammanasyam, avidvesam krnomi vah… dst. Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan sifat-sifat ketulusikhlasan, mentalitas atau…

  • Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7) Yadā Yadā Dharmasya Glānir mengandung makna bahwa kapan pun Dharma tidak dipatuhi dan mengalami kemerosotan, Hyang Widhi Wasa senantiasa menegakkan Dharma di jagat raya demi terciptanya ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh kehidupan (jagad hita), sehingga terwujud keadaan yang damai dan harmonis. I KETUT SUBAGIASTA…