Filosofi Dewa Agni

Disajikan sebuah topik Dewa Agni, artinya Dewa Api. Mari dimaknai isi ajaran luhur dari pustaka suci Bhagavad Gītā VIII.24 yang dikutip sebagai berikut:

अग्निर्ज्योतिरहः शुक्लः षण्मासा उत्तरायणम् ।
तत्र प्रयाता गच्छन्ति ब्रह्म ब्रह्मविदो जनाः ॥ ८-२४॥
agnir jyotir ahaḥ śuklaḥ ṣaṇ-māsā uttarāyaṇam,
tatra prayātā gacchanti brahma brahma-vido janāḥ.

Artinya:
Api, cahaya, siang hari, purnama dan enam bulan waktu matahari ada di Utara khatulistiwa. Apabila pada saat itu ajal tiba, orang yang mengetahui Brahman akan pergi kepada Brahman.

Adapun makna Dewa Agni adalah dewa yang menguasai api. Nilai luhur tentang Dewa Agni, antara lain:

a) Agni artinya api. Dewa Agni adalah penguasa api. Api bumi saat siang hari adalah Sang Surya, dan cahaya api bumi di siang hari disebut Jyotir Ahah yang berarti cahaya siang hari.

b) Jyotir Śukla artinya api bumi yang menyala dan menerangi saat malam hari, disebut juga terang bulan, bulan purnama, atau Purnima.

c) Ṣaṇmāsā artinya selama enam bulan sinar Surya dan sinar Candra sebagai api bumi berada pada posisi Uttarāyaṇam, yaitu sebelah utara khatulistiwa. Ini merupakan makna luhur karena posisi Surya dan Candra pada sebelah utara dianggap sebagai waktu suci yang penuh berkah.

d) Prayātāḥ artinya mereka yang menemui ajal saat sinar Surya dan sinar Candra berada di utara khatulistiwa. Saat ini disebut śubha dewasa atau hari baik untuk menempuh jalan menuju Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

e) Gacchanti Brahman artinya bagi umat Hindu yang meninggal pada saat Uttarāyaṇam, mereka menempuh jalan menuju Brahman. Di antara dua jalan, Uttarāyaṇam dan Dakṣiṇāyaṇam, maka dipilihlah jalan Uttarāyaṇam sebagai jalan utama kembali ke Brahman.

f) Brahmavido artinya orang (janāḥ) yang memahami atau mengetahui Brahman. Maknanya, bagi umat Hindu yang memahami jati diri, saat pralina (kematian), dirinya dipahami secara bijak. Rahasia tubuh (rahasya śarīra) dikendalikan secara satyam. Jalan kematian pun dipilih pada saat Uttarāyaṇam. Hal ini diimbangi dengan pemahaman Para Vidyā Ātman, yaitu pemahaman kerohanian dalam konteks Brahma Vidyā atau jñāna ketuhanan. Paham Tattwa Jñāna Brahman adalah memahami hakikat Tuhan. Umat datang dari Brahman dan kembali ke Brahman. Saat Uttarāyaṇam tersebut sebagai galah melah mulih ke tanah wayah (kembali ke asal). Dasarkan pada Karma Dharma, Subha Karma, Susila, dan Sukṛta. Taat pada Śraddhā dan taat pada Bhakti. Astungkara, ya Brahma Nirvāṇa.

Intinya, bahwa Dewa Agni, api bumi berupa Surya dan Candra, dimanfaatkan sebagai api bumi untuk ngeseng śarīra menuju mārga Brahman. Pahami hakikat Brahman. Pahami hakikat Uttarāyaṇam.
Semoga Siddha Mukti ya Gacchanti Brahman. Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 17.5.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kanyācora (Slokantara 75)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA) 12 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Kanyācora (Slokantara 75) Kanyācora adalah orang yang mencuri atau melarikan secara paksa seorang gadis perawan. Perlu diingat, apabila seseorang melarikan seorang gadis, kemudian gadis tersebut garbhata atau hamil, lalu pelakunya lari dari tanggung jawab, perbuatan itu tergolong paradara. Jika setelah gadis itu hamil kemudian…

  • Nirāhaṃkāra

    Mutiara Weda12/02/2026 Umat se-dharma, dalam ajaran agama Hindu, kelahiran menjelma menjadi manusia sangatlah utama, mulia, dan sangat sulit untuk diperoleh. Menjelma menjadi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dengan Tri Pramāṇa (tiga alat pengetahuan) guna menjalankan Wiweka (viveka, kemampuan membedakan) menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga dapat mengendalikan pengaruh dari…

  • Filosofi Āpah Prakṛti

    Palangka Raya, 13.9.2025 Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Āpah Prakṛti, artinya sifat alami air, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā. Artinya:Tanah, air, api,…

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 04/01/2026 Umat se-dharma,pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu—citta-vṛtti-nirodhaḥ (penghentian gelombang-gelombang pikiran)—menjadi faktor penting dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, di alam saṃsāra (lingkaran kelahiran dan penderitaan). Orang yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh indria dan hawa nafsu bagaikan seekor penyu yang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya….

  • Pūrwa Gama Śāsana

    Mutiara Weda Yogyakarta, 13/05/2026 Umat se-dharma, setiap umat Hindu wajib mempelajari, memahami, dan memancarkan isi Kitab Suci Weda sebagai Dharma Vāhinī, serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci (andrayuga). Demikian pula, umat Hindu berkewajiban mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk melalui wiweka dalam menjalani kehidupan di māyāpada ini. Dalam mempraktikkan dan mengamalkan setiap perbuatannya,…

  • Filosofi Punyakarmanam

    Palangka Raya, 3/6/2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Punyakarmanam yang artinya manusia yang berbuat kebajikan. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dari pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.71, dikutip sebagai berikut: “श्रद्धावाननसूयश्च श‍ृणुयादपि यो नरः ।सोऽपि मुक्तः शुभांल्लोकान्प्राप्नुयात्पुण्यकर्मणाम् ॥ १८-७१॥”śraddhāvān anasūyaś ca śṛṇuyād api yo naraḥ,so ‘pi muktaḥ śubhāṁl lokān prāpnuyāt puṇya-karmaṇām. Artinya:Orang yang mempunyai keyakinan dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *