Yajña: Kewajiban Suci

Mutiara Weda
Yogyakarta, 10/04/2026

Umat sedharma, melaksanakan pañca mahā yajña merupakan kewajiban suci berdasarkan petunjuk pustaka suci Weda Saṃhitā sebagai penyangga bumi dan alam semesta beserta isinya. Alam dan manusia diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui yajña.

Dalam pelaksanaan meyajña, terdapat lima unsur penting, yaitu:

Mantra: doa-doa yang diucapkan oleh umat maupun pinandita sesuai dengan tingkatannya.

Yantra: simbol-simbol keagamaan yang diyakini memiliki kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian.

Tantra: kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan sesuai dengan tuntunan kitab suci Weda.

Yajña: korban suci dan pengabdian tulus berdasarkan kesadaran dalam melakukan persembahan sesuai kemampuan.

Yoga: pengendalian gelombang pikiran untuk menjalin hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, mantapkan śraddhā dan bhakti dengan keyakinan bahwa demi kesempurnaan dan kebahagiaan hidup, umat Hindu melaksanakan pañca mahā yajña yang sāttvika, dengan landasan tri pramāṇa (śāstrataḥ, gurutāḥ, dan svataḥ), serta memperhatikan catur dṛṣṭa, yaitu kuna dṛṣṭa, śāstra dṛṣṭa, loka dṛṣṭa, dan deśa dṛṣṭa.

Niscaya, akan terwujud tujuan hidup manusia berupa kebahagiaan sekala (lahir) dan niskala (batin), menuju jagaddhita dan mokṣa (kelepasan).
(Agastya Parwa & Bhagavadgītā III.10)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dvividhā Proktā

    Palangka Raya, 8.11.2025 Diuraikan tentang filosofi Dvividhā Proktā, artinya dua hal disiplin pengetahuan diajarkan konteks brahmacārī āśrama (masa siswa). Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Bhagavad Gītā III.3 yang dikutip sebagai berikut. “श्रीभगवानुवाचलोकेऽस्मिन्द्विविधा निष्ठा पुरा प्रोक्ता मयानघ ।ज्ञानयोगेन साङ्ख्यानां कर्मयोगेन योगिनाम् ॥३–३॥ śrī-bhagavān uvāca:loke ’smin dvi-vidhā niṣṭhā purā proktā mayā’naghajñāna-yogena sāṅkhyānāṁ karma-yogena yoginām Artinya:Śrībhagavān…

  • Nityam (BG II.30)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)30 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Nityam (BG II.30) Nityam berarti kekal, abadi, dan selamanya. Dalam kehidupan, terdapat dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Jiwa bersifat nityam (abadi), sedangkan raga bersifat anityam (tidak abadi). Jiwa yang bersifat kekal pada akhirnya akan kembali kepada Parama Ātman. Sebaliknya, raga atau śarīra (badan)…

  • Acetasah (BG. III.32)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA) 13 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Acetasah (BG. III.32) Acetasah adalah orang yang tidak memiliki kecerdasan untuk memilah. Umat Hindu hendaknya menguasai ilmu pengetahuan tentang kemampuan memilah, yaitu jñāna viveka. Seperti halnya angsa ketika mencari makanan di air yang keruh. Angsa mampu memilah mana makanan yang layak dimakan dan mana…

  • Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7) Yadā Yadā Dharmasya Glānir mengandung makna bahwa kapan pun Dharma tidak dipatuhi dan mengalami kemerosotan, Hyang Widhi Wasa senantiasa menegakkan Dharma di jagat raya demi terciptanya ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh kehidupan (jagad hita), sehingga terwujud keadaan yang damai dan harmonis. I KETUT SUBAGIASTA…

  • Yajña: Wujud Rasa Bhakti

    Mutiara Weda Yogyakarta, 28 Juni 2026 Umat Sedharma, dalam susastra tersurat: Yasyāṁ sadoha vīrdhane yūpo yasyāṁ nimīyate… dst. Artinya, di tempat suci atau pura tempat dipancangkannya yūpa (tiang suci upacara yajña), di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan hadir untuk menganugerahkan keselamatan jiwa dan ketenangan batin. Melaksanakan yajña suci, yaitu Pañca Mahā Yajña, merupakan…