Mebrata: Bentuk Janji atas Diri

Mutiara Weda
Yogyakarta, 10/11/2025

Umat se-dharma, jika kita renungkan, selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpanya, sehingga tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Akan tetapi, manakala ketulusan hati (ārjava) menjadi dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berperbuatan, dapat dipastikan ia akan memperoleh kekuatan pikiran.

Sesungguhnya tidak mementingkan diri sendiri (anṛśaṁsya) itulah Dharma yang utama, dan sifat tahan uji merupakan kesaktian yang maha dahsyat. Demikian pula kepandaian dan kemampuan mengendalikan diri adalah hakikat dari ajaran brata (laku disiplin spiritual) dan menjadi “janji atas diri”.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu bangunlah ketenangan hati—dama (pengendalian indria)—dan tampakkan kesucian diri, lahir maupun batin—danta (pengendalian diri). Niscaya umat Hindu akan selalu sadar, sabar, dan mampu mengendalikan diri—suluh nikang prabha (cahaya penuntun hidup)—sehingga tidak mengalami kesesatan dalam menjalankan Tri Kaya Sandhi (tiga keselarasan pikiran, kata, dan perbuatan).

(Sarasamuccaya 65–66)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN)
Yogyakarta


Bagikan ke:

Similar Posts

  • Karma Wesana Sang Pengikut Setia

    Mutiara Weda22/09/2025 Umat se-dharma, kualitas karma itu sangat menentukan kehidupan umat manusia, baik dalam kehidupan terdahulu (atīta [masa lalu]), kehidupan sekarang (vartamāna [masa kini]) maupun kehidupan yang akan datang (nāgata [masa depan]) dalam Tri Samaya (tiga dimensi waktu). Proses kehidupan yang selalu berputar-putar atau berulang-ulang: lahir (utpatti [kelahiran]), hidup (sthiti [kehidupan]), dan mati (pralīna [kematian])…

  • Bhoga-Svātantrya

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Mei 2026 Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya. Manusia tidak memiliki…

  • Meayah Ayah – Ngayah Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/09/2025 Umat se-dharma, Dalam pustaka suci disebutkan: kurvan eveha karmāṇi jijīviṣet śataṁ samāḥ … dan seterusnya. Sesungguhnya hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja — bekerja sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata hasil perbuatan yang selalu terpikirkan. Jangan semata-mata pahala menjadi motifnya. Inilah…

  • Menjaga Kesucian Buddhi

    Mutiara WedaYogyakarta, 16/06/2026 Umat sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan: tṛṣṇā hi sarvapāpiṣṭhā nityodvegakārī matā; sifat rakus, loba, serakah, dan sejenisnya merupakan sumber berbagai bencana. Segala bentuk bencana atau kejahatan yang ditimbulkan oleh sifat rakus dan serakah yang menyebabkan kebencian serta ketakutan pada orang lain disebut tṛṣṇā (keinginan yang tidak terkendali). Tidak ada sesuatu pun di…

  • Shreshthas (BG. III.21)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)18.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Shreshthas (BG. III.21) Krta Shreshthas adalah yang terbaik. Umat Hindu, tampillah menjadi yang terbaik. Abhyasa, atau berlatihlah menjadi yang terbaik dari pikiran luhur (manah shreshthas), jadilah yang terbaik dalam perkataan santun (vacika shreshthas), dan jadilah yang terbaik dalam tindakan sopan (kayika shreshthas). Ayo, abhayam shreshthas, yaitu…

  • Sāttvika Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/02/2026 Umat Se-dharma, melaksanakan Pañca Mahā Yajña (lima korban suci besar) merupakan kewajiban suci dari petunjuk pustaka suci Weda Saṃhitā sebagai penyangga bumi, alam semesta beserta isinya, karena alam dan manusia diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui yajña. Ada lima unsur penting dalam meyajña (melaksanakan yajña): Oleh karena itu, sebagai umat Hindu…