Himsa Karma & Unsur Penyupatan

Umat Sedharma,
Dalam susastra ada mengajarkan Ahimsa, ngaranya tanpa mati-mati; menyakiti dan membunuh makhluk hidup dengan semena-mena tidak dibenarkan dalam ajaran agama Hindu. Namun, melakukan Himsa Karma—perbuatan membunuh dengan tujuan kesucian—dapat menjadi suatu kewajiban, sebagaimana disebutkan dalam pustaka suci Weda.

Dalam kitab suci Vrti Sasana tersurat bahwa melakukan perbuatan Himsa Karma atau membunuh makhluk hidup dengan tujuan tertentu dan niat kesucian dapat dilakukan dalam bentuk:

  1. Dewa Puja: untuk persembahan dan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  2. Atithi Puja: untuk perjamuan para tamu atau Nara Yadnya.
  3. Walikrama Puja: untuk Pecaruan.

Di samping itu, melakukan tindakan pembunuhan guna mempertahankan dan menyelamatkan diri, atau membela negara dari berbagai ancaman, gangguan, dan tantangan, merupakan suatu kewajiban suci:
Sang sura amenangi rananggana mamukti sukha wibawa bhoga wiryawan… dst.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu, dalam melakukan korban suci Himsa Karma, kita benar-benar melandasinya dengan niat suci dan ketulusan batin agar mendapatkan kualitas Yadnya yang Satvika, serta disertai dengan unsur-unsur penyupatan di dalamnya. Niscaya, kualitas dalam melakukan Yadnya atau korban suci akan terwujud, serta terbangunnya umat Hindu yang damai, rukun, dan harmonis.

(Nitisastra IV.2 & Slokantara, hal. 195)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kṛtakṛtya–Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/06/2026 Umat sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan bahwa dalam mengarungi kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (ātmarati), seseorang tidak dapat melepaskan diri dari penerapan nilai-nilai ajaran Dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma dalam diri sendiri sebagai jalan menuju Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sādhana atau Catur Dharma Sādhana, yang merupakan…

  • Widvāṅga

    Mutiara WedaYogyakarta, 31 Mei 2026 Umat sedharma, jika dilihat dari dinamika kehidupan pada zaman ini, artha atau uang serta kekayaan seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlap artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan serta sangat dihargai pada zaman ini oleh sebagian umat manusia. Dunia seakan-akan…

  • Amāvāsyāyam (Chāndogya Upaniṣad V.2.4)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Selasa, 12 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Amāvāsyāyam (Chāndogya Upaniṣad V.2.4) Amāvāsyāyam adalah Tilem, yaitu saat bulan gelap atau malam tanpa cahaya bulan. Sebaliknya, Pūrṇimā atau Purnama adalah saat bulan terang. Amāvāsyā dan Pūrṇimā merupakan hari yang baik untuk melaksanakan dīkṣā atau penyucian diri, melakukan melukat, mandi suci, atau snānam. Prati…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/01/2026 Umat se-dharma,orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kali Yuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Hal ini terjadi akibat ketidakmampuan manusia mensinergikan unsur Tri Guṇa—sattva (kemurnian/keseimbangan), rajas (dinamika/nafsu), dan tamas (kegelapan/kemalasan)—di dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan kṣamā (sikap memaafkan dan tahan uji) merupakan sifat bijak dan…

  • Menjaga Kesucian Budhi

    Mutiara Weda15/01/2025 Umat se-dharma, dalam susastra Hindu ada menyebutkan tresna hi sarvapapista nityodvegakari mata; sifat rakus, loba, dan serakah merupakan sumbernya bencana. Segala macam bentuk bencana atau kejahatan yang ditimbulkan oleh sifat rakus dan sejenisnya yang menyebabkan kebencian dan ketakutan orang lain disebut tresna. Tak ada sesuatu di dunia ini yang dapat memenuhi tresna, orang…

  • Filosofi Pandita

    Berbahagia disajikan topik Filosofi Pandita, yaitu menaati Tri Sasana Pandita yang wajib ditaati dengan suci. Mari dimaknai tentang ajaran Tri Sasana Pandita pada pustaka suci Sārasamuccaya – Sloka 61 yang dikutip sebagai berikut ini: “rājā bhirur brāhmanah sarvabhakso vaicyo’nīhāvān hīnavarno’lasaṣco, vidvānacilo vṛttahīnah kulīnah bhrasto brāhmaṇah strī ca duṣþā.Hana pwa mangke kramanya, ratu wēdi-wedi, brāhmana sarwabhaksa,…