Filosofi Catur Tapas

Oleh I Ketut Subagiasta

Diuraikan topik filosofi Catur Tapas yang berarti empat pengekangan. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci MĀNAVADHARMAŚĀSTRA SLOKA I-25 yang dikutip berikut ini.

“तपो वाचं रतिं च इव कामं च क्रोधम् एव च
सृष्टिं ससर्ज चैवेमां स्रष्टुम् इच्छन्निमाः प्रजाः
tapo vācaṁ ratiṁ ca eva kāmaṁ ca krodham eva ca
sṛṣṭiṁ sasarja caivemāṁ sraṣṭum icchannimāḥ prajāḥ.

Terjemahan:
Tapas (pengekangan), vaca (perkataan), ratī (kesenangan), kāma (nafsu), dan krodha (kemarahan), beserta seisi alam ini diciptakan-Nya ketika Ia ingin menciptakan makhluk.”

Makna filosofi Catur Tapas berkaitan dengan masa wanaprastha (masa menahan diri menuju kehidupan bhiksuka). Dalam masa ini, seorang manusia mengekang diri, mengontrol diri, sadar diri, dan menggembleng diri menuju kesucian. Kunci keberhasilan menjalani wanaprastha adalah kemampuan melaksanakan empat pengekangan suci, yaitu vaca, rati, kāma, dan krodha, sebagai berikut.

  1. Vaca (perkataan)
    Pada masa wanaprastha diupayakan pengekangan perkataan secara terkontrol. Tidak berkata kasar, sombong, menyakiti, menyinggung, menghina, menistakan, atau berbohong. Pengekangan ini bertujuan mencegah bhaya (bencana diri) dan menghindari akibat buruk terhadap orang lain.
  2. Rati (kesenangan)
    Masa wanaprastha memerlukan pengekangan terhadap kesenangan duniawi, seperti: senang judi online (judol), pinjaman online (pinjol), narkoba (māda), minuman keras (śurā), mencuri (asteya), berutang (ṛṇam), atau menyakiti (hiṁsā). Semua kesenangan negatif itu perlu dikendalikan agar berubah menjadi kesucian perilaku, seperti: asteya (tidak mencuri), ahiṁsā (tidak menyakiti), hidup tanpa beban utang, dan tidak terjerat kenikmatan yang menjerumuskan.
  3. Kāma (nafsu)
    Nafsu perlu dikendalikan dengan disiplin, seperti: mengendalikan nafsu seksual, hura-hura, ambisi berlebihan, kemalasan, dan kerakusan harta. Nafsu diarahkan menjadi kebajikan, misalnya mencari artha (penghidupan) atas dasar dharma (kebenaran), serta bertanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga, bukan larut dalam syahwat, kemewahan, atau perilaku tanpa batas.
  4. Krodha (kemarahan)
    Kemarahan dikendalikan menjadi akrodha (tanpa amarah). Tidak marah kepada orang tua (pitṛ-mātṛ), anak, suami atau istri, sahabat (mitra), guru, peserta didik, maupun kepada seluruh makhluk (sarvabhūteṣu). Marah mendatangkan dosa dan melahirkan adharma, karena itu pengekangan diri dari krodha menjadi laku yang wajib.

Yang utama, Catur Tapas hendaknya dipahami dan diamalkan dengan tulus pada masa wanaprastha asrama: mengekang vaca, rati, kāma, dan krodha. Semoga masa wanaprastha berhasil dan meningkat menuju kesucian hidup bhiksuka asrama.
Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 17.10.2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tri Maṅgalaning Yajña

    Mutiara Weda27/02/2026 Umat sedharma, umat Hindu di dalam melaksanakan yajña tidak bisa lepas dari tiga komponen penting sebagai unsur utama yang menentukan keberhasilan, kesakralan, dan sahnya sebuah pelaksanaan upacara yajña di dalam agama Hindu. Ketiga unsur itu bersifat integral sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, meliputi: Sang Maṅgala Upacara atau Pemuput (pendeta/pinandita), Sang Sārati Banten…

  • Filosofi Paksinam

    Palangka Raya, 12 Juni 2025 Oleh: I Ketut Subagiasta Disajikan topik Paksinam, yaitu nama-nama burung. Secara ekoteologis, burung memiliki peran sebagai penolong kehidupan. Makna ajaran luhur ini juga tercermin dalam pustaka suci Bhagavad Gītā X.30 yang dikutip sebagai berikut: “प्रह्लादश्चास्मि दैत्यानां कालः कलयतामहम् ।मृगाणां च मृगेन्द्रोऽहं वैनतेयश्च पक्षिणाम् ॥ १०-३०॥prahlādaś cāsmi daityānāṁ kālaḥ kalayatām aham,mṛgāṇāṁ…

  • Tri Guna dalam Tri Sarira

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/10/2025 Umat Se-dharma, jika direnungkan dalam sususastra Hindu, tubuh manusia sebenarnya dibentuk oleh tiga lapisan dan memiliki fungsi serta kualitas berbeda-beda yang disebut Tri Sarira. Tiga unsur lapisan dalam diri manusia (Tri Sarira) meliputi: A. Sthūla Sarira / Rāga SariraBadan kasar atau jasmani yang terbentuk dari unsur Pañca Mahā Bhūta dan Pañca Māyā…

  • Filosofi Āpah Prakṛti

    Palangka Raya, 13.9.2025 Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Āpah Prakṛti, artinya sifat alami air, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā. Artinya:Tanah, air, api,…

  • Mebrata: Bentuk Janji atas Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/11/2025 Umat se-dharma, jika kita renungkan, selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpanya, sehingga tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Akan tetapi, manakala ketulusan hati (ārjava) menjadi dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berperbuatan, dapat dipastikan ia akan memperoleh kekuatan pikiran. Sesungguhnya tidak…

  • Filosofi Candramasi

    Disajikan uraian dengan topik Filosofi Candramasi, artinya yang ada dalam bulan. Mari dipahami dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā – XV-12 yang dikutip sebagai berikut: “यदादित्यगतं तेजो जगद्भासयतेऽखिलम् । यच्चन्द्रमसि यच्चाग्नौ तत्तेजो विद्धि मामकम् ॥ १५-१२॥ yad āditya-gataṁ tejo jagad bhāsayate ‘khilam, yac candramasi yac cāgnau tat tejo viddhi māmakam. Artinya: Cahaya,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *