Filosofi Àmbhasā

Palangka Raya, 8.6.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan topik Àmbhasā, artinya oleh air. Mari dimaknai ajaran luhur tentang Àmbhasā secara ekoteologi dalam pustaka suci Bhagavad Gītā V-10 yang dikutip sebagai berikut:

“ब्रह्मण्याधाय कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा करोति यः ।
लिप्यते न स पापेन पद्मपत्रमिवाम्भसा ॥ ५-१०॥

brahmaṇy ādhāya karmāṇi saṅgaṁ tyaktvā karoti yaḥ
lipyate na sa pāpena padma-patram ivāmbhasā

Artinya:
Mereka mempersembahkan semua kerjanya kepada Brahman, berbuat tanpa motif keinginan apa-apa, tak terjamah oleh dosa (pāpa), laksana daun teratai oleh air.

Adapun makna ekoteologi tentang Àmbhasā adalah:
Brahman adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang ādhāya — setelah menempatkan kerja atau karmāṇi (aktivitas dan segala perbuatan) — sebagai saṅgaṁ atau keterikatan, dan tyaktvā yang berarti setelah meninggalkan. Karoti berarti kerja yang tidak mengutamakan motif atau hasil.

Brahman bekerja tanpa henti, seperti air dalam telaga atau kupam yang menghidupkan ikan, menghidupkan teratai, menghidupkan tanaman. Burung bisa minum air telaga. Air telaga tidak habis mengalir untuk kehidupan ikan dan tanaman teratai.

Intinya, air bermanfaat bagi kolam: menghidupkan teratai, membuat ikan tumbuh besar, dan menjadi sumber air bagi burung untuk mandi dan minum. Semua makhluk bisa beraktivitas. Pemilik kolam bisa menyiram tanaman dengan mengambil air dari kolam.

Penting dimaknai bahwa bunga teratai tidak kotor oleh lumpur di air; ikan tidak mati meskipun air kolam dipakai menyiram tanaman oleh pemilik kolam. Demikian juga, burung-burung tidak memangsa ikan karena kolam penuh dengan air. Begitu sinergi semua kehidupan berkat sumber hidup dari air.

Dengan air, kehidupan menjadi bersih dari pāpena (dosa).
Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Pura dalam Diri

    Mutiara Weda22/03/2026 Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi sesama, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi. Apabila ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar untuk memamerkan diri (rājasika), maka…

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….

  • Konsep Ngayah Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/11/2024 Umat Sedharma,Dalam pustaka suci ada menyebutkan Kurvan eveha karmani, jijiviset satam samah,… dst. Sesungguhnya hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan hanya hasil perbuatan yang selalu terpikirkan, jangan semata-mata pahala menjadi motifnya, sebuah konsep Ngayah dalam…

  • Jangan Menjadi Orang Jahat

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/03/2026 Umat sedharma, dalam sesanti disebutkan bahwa binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya. Demikian pula ular memiliki racun yang sangat berbisa pada taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat; seluruh dirinya diliputi oleh “racun” yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (aśubha karma) dapat dipastikan akan…

  • Meayah Ayah – Ngayah Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/09/2025 Umat se-dharma, Dalam pustaka suci disebutkan: kurvan eveha karmāṇi jijīviṣet śataṁ samāḥ … dan seterusnya. Sesungguhnya hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja — bekerja sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata hasil perbuatan yang selalu terpikirkan. Jangan semata-mata pahala menjadi motifnya. Inilah…

  • Bangun Kebahagiaan Sāttvika

    Mutiara Weda07/07/2025 Umat Sedharma,Tujuan hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, baik kebahagiaan sekala maupun kebahagiaan niskala, dengan menempatkan kesucian pikiran sebagai barometer utama dalam mencapainya. Kebahagiaan, jika dilihat dari sifatnya, dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu: Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, bangunlah kebahagiaan dalam diri, baik manah śānti (ketenangan pikiran) maupun…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *