Meayah Ayah – Ngayah Bentuk Karma Suci

Mutiara Weda
Yogyakarta, 14/09/2025

Umat se-dharma,

Dalam pustaka suci disebutkan: kurvan eveha karmāṇi jijīviṣet śataṁ samāḥ … dan seterusnya. Sesungguhnya hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja — bekerja sebagai suatu kewajiban dan kebajikan.

Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata hasil perbuatan yang selalu terpikirkan. Jangan semata-mata pahala menjadi motifnya. Inilah sebuah konsep ngayah dalam ajaran Ethika Hindu.

Ida Sang Hyang Widhi Wasa menyayangi mereka yang berkarma dengan ketulusan hati, yang memegang konsep bekerja sebagai suatu kewajiban dengan sesanti: ketekunan di tangan kanan dan kejayaan di tangan kiri sebagai suatu inspirasinya.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu jangan pernah berhenti untuk berkarma dengan landasan ketulusan. Konsep ngayah adalah bentuk implementasi karma śuci. Niscaya akan memperoleh keberhasilan dan menikmati kemakmuran nantinya. taraṇir ijjayati kṣeti puṣyati.

(Yajurveda XL.2)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara
(PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Selaras dalam Berpikir

    Mutiara Weda Yogyakarta, 24/01/2026 Umat se-dharma, manah (pikiran) merupakan sinar cahaya yang dapat mengembara ke mana-mana, membimbing dan menuntun seluruh perilaku serta tindakan. Pikiran juga menjadi sumber pengetahuan sekaligus perantara yang paling cepat. Pikiran merupakan penentu baik dan buruknya seseorang. Pikiran sebagai perantara tercepat mengawasi seluruh indriya (alat indra) serta menjadikan niat atau tekad sebagai…

  • Filosofi Amṛtasnātaka

    Disajikan sebuah topik tentang Amṛtasnātaka, artinya seorang yang tekun dalam brata dan taat menjalani brahmacārī. Mari dipahami ajaran suci dalam pustaka Sārasamuccaya, Sloka 255, yang dikutip sebagai berikut: “amāvāsyāṁ caturdaśyāṁ pūrṇamāsyāṣṭamīṣu ca,brahmacārī bhaven nityam amṛtasnātako dvijaḥ.” Nihan tācāranikang sang brāhmaṇa, yan ring amāwāsyā, caturdaśī, ring pūrṇamā, ring aṣṭamīkāla kunēng, brahmacārya juga sira, haywa parēking strī,…

  • Vimatsaraḥ (BG IV.22)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Sabtu, 15 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Vimatsaraḥ (BG IV.22) Vimatsaraḥ berarti tanpa rasa permusuhan, iri hati, atau dengki. Dalam menghadapi berbagai keadaan yang berbeda atau dvandvātīta, seperti sukha ca duḥkha (senang dan sedih), lābha ca alābha (untung dan rugi), siddha ca asiddhau (sukses dan gagal), jaya ca ajaya (menang dan…

  • Jangan Biarkan Benih Kebencian Ada dalam Diri

    Mutiara Weda11/01/2025 Umat se-dharma, jika direnungkan, membangun sebuah hubungan Menyama-Mebraye & ikatan persahabatan dengan sesama umat manusia dan makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa lainnya sangatlah penting. Vasudhaiva Kutumbakam dengan hidup secara berdampingan, saling asah, asih, dan asuh dalam suatu persahabatan. Hubungan akan stabil manakala norma-norma agama, etika, sopan santun, dan tata krama menjadi…

  • Sentuhan Indria Perlu Diatur

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/09/2025 Umat sedharma, sifat keterikatan (rāga) dan kebencian (dveṣa) yang sering menggerogoti jiwa umat manusia sangat dipengaruhi oleh pengaturan sentuhan-sentuhan indria (indriya) dengan obyek indria. Bila tidak dikendalikan, kedua sifat tersebut akan mempermudah terwujudnya kesadaran diri (ātma-jñāna). Bagi mereka yang jiwanya selalu dipengaruhi oleh rasa benci, iri hati, dan sejenisnya, sesungguhnya adalah orang…