Filosofi Arthasya Saṁgrahe

Disajikan sebuah topik dalam konteks rumah tangga, yakni Arthasya Saṁgrahe yang berarti: hendaknya suami melibatkan istrinya dalam hal pengumpulan dan penggunaan harta kekayaan. Mari kita pahami ajaran luhur mengenai Arthasya Saṁgrahe dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra Sloka IX.11 berikut ini:

“अर्थस्य संग्रहे चैनां व्यये चैव नियोजयेत्
शौचे धर्मे ऽन्नपक्त्याञ् च पारिणाह्यस्य वेक्षणे
arthasya saṁgrahe caināṁ vyaye caiva niyojayet
śauce dharme ’nnapaktyāñ ca pāriṇāhyasya vekṣaṇe

Artinya:
Hendaknya suami mengerjakan istrinya dalam pengumpulan dan pemakaian harta kekayaan suaminya — dalam hal menjaga kebersihan, menjalankan kewajiban keagamaan, menyediakan santapan untuk suami, serta menjaga alat-alat rumah tangga.

Makna Arthasya Saṁgrahe diuraikan secara filosofis dalam tiga pokok utama berikut:

  1. Śauce Dharme artinya: dalam urusan upacara suci keagamaan.
    Maknanya, istri adalah pengelola keuangan keluarga yang digunakan untuk hubungan suci dalam konteks keagamaan Hindu. Istri rajin beryajña, tekun sebagai dhārmika, membeli sarana dupa, sarana yajña, merawat sanggah keluarga, rajin melakukan yajñaśeṣa atau saiban, membina anak-anak untuk tekun Tri Sandhyā, serta menyiapkan sarana sembahyang saat Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, Śivaratri, Saraswatī, dan hari-hari suci lainnya.
    Dengan dasar śraddhā bhakti, istri tekun membuat canang sari, kwangen, daksina, segehan, canang raka, rayunan, punjung, gebogan, serta sesajen lain yang sesuai desa kala patra.
    Istri menjadi panutan dalam tat tvam asi, menjadi teladan kasih, panutan moderat, serta setia dalam satya dharma sebagai umat Hindu yang militan.
  1. Annapaktyāñ artinya: dalam hal makanan keluarga.
    Maknanya, istri bertugas mengatur keuangan keluarga agar tercukupi kebutuhan makanan dan minuman yang sehat dan bermanfaat. Istri yang baik tetap bijak membelanjakan keuangan untuk konsumsi keluarga secara teratur.
    Kurangi makan di restoran terus-menerus. Kurangi konsumsi makanan dan minuman berlebihan apalagi yang sampai membuat mabuk.
    Istri juga harus sigap mengatur dapur agar tetap “ngebul” — antara tanggal muda dan tanggal tua.
    Istri tidak manja, bukan hanya bisa minta, tetapi juga mampu mengelola keuangan rumah tangga.
    Istri tidak merokok, tidak boros membeli perhiasan yang mentereng, tidak berjudi, dan mampu menyisihkan keuangan keluarga untuk biaya pendidikan anak.
    Istri mendukung masa depan anak yang mandiri dan sukses secara pendidikan dan spiritual.
  1. Pāriṇāhyasya artinya: dalam hal peralatan rumah tangga.
    Maknanya, istri bertugas mengatur harta keluarga untuk keperluan penting seperti tabungan, deposito, pendidikan anak, pembangunan rumah, hingga pembelian fasilitas penunjang keluarga.
    Istri adalah bendahara keluarga.
    Istri yang bijak mengatur keuangan memahami filosofi: besar pasak daripada tiang itu celaka.
    Istri berperan dalam mengontrol keuangan agar tidak defisit atau terlilit utang.
    Ia hemat, tidak boros, dan membatasi diri dalam membeli perhiasan pribadi yang hanya bersifat sekunder.

Intinya, Arthasya Saṁgrahe adalah konsep istri sebagai pengatur utama keuangan keluarga.
Uang bukan semata-mata berasal dari suami. Di era modern, banyak istri juga memiliki gaji tetap sebagai wanita karier yang dikelola secara jujur dan teratur bersama suami.
Kemajuan, kebahagiaan, dan kesejahteraan keluarga adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri.
Banyak kebutuhan hidup keluarga yang harus diatur secara jujur, terbuka, dan terorganisir.

Semoga rahayu. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Belajar Menyikapi Proses Kehidupan

    Mutiara Weda Yogyakarta, 11/07/2026 Umat Sedharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Begitu pula, tidak ada musuh yang sejahat kemarahan (krodha), tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan, dan tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan pada…

  • Kavaca dan Pañjara dalam Mantra

    Mutiara WedaYogyakarta, 18/04/2026 Umat sedharma, dalam upaya mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, umat Hindu tidak terlepas dari penggunaan doa atau mantra Weda yang berfungsi sebagai kavaca dan pañjara. Pengucapan mantra dengan fungsi kavaca mengandung makna sebagai “pakaian” atau “pelindung diri”, sedangkan pañjara bermakna “benteng”. Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai perlindungan…

  • |

    Rudrāditya (Bhagavadgītā XI.22)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)27 Juni 2026 Oleh I Ketut Subagiasta Rudrāditya melambangkan Sang Hyang Śiva sebagai Rudra Āditya yang memancarkan cahaya kekuning-kuningan sebagai anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta kehadiran Pitara-Pitarī yang menjadi kekuatan suci dalam menegakkan Dharma. Pada Hari Suci Kuningan, umat Hindu memuja dan memuji kebesaran-Nya pada pagi hari sebagai ungkapan…

  • Sinergiskan Unsur Cakra Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15 / 05 /2025 Umat Sedharma,Sifat melayani nilai-nilai Dharma (Dharma Sevanam) merupakan bagian dari etos kerja atau Karma Baik (Subha Karma) sesuai dengan ajaran Etika Hindu. Melayani kebajikan kepada sesama melalui Dharma Sevanam akan membangun kesucian diri serta menjadi pondasi dasar dalam mengarungi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian akan lahir kemuliaan,…

  • Tiga Siklus Hidup Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/12/2025 Umat se-dharma,bila disadari, sesungguhnya setiap umat manusia tidak pernah lepas dari tiga siklus alur proses kehidupan, yaitu utpatti (kelahiran), sthiti (kehidupan), dan pralīna (peleburan/kembali ke asal)—sebagai tiga kemahakuasaan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa yang dikenal sebagai Tri Koṇa (tiga proses kosmis). Setiap manusia yang hidup di dunia ini memiliki tenaga atau kekuatan…

  • Musuh Utama Ada di Dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 12 Juli 2026 Umat Se-Dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kaliyuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri sebagai akibat dari ketidakmampuan mensinergiskan unsur Tri Guna, yaitu Satvam, Rajas, dan Tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (Ksama) merupakan sifat-sifat yang bijaksana dan mulia yang harus tertanam serta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *