Vimatsaraḥ (BG IV.22)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
Sabtu, 15 Agustus 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Vimatsaraḥ (BG IV.22)

Vimatsaraḥ berarti tanpa rasa permusuhan, iri hati, atau dengki. Dalam menghadapi berbagai keadaan yang berbeda atau dvandvātīta, seperti sukha ca duḥkha (senang dan sedih), lābha ca alābha (untung dan rugi), siddha ca asiddhau (sukses dan gagal), jaya ca ajaya (menang dan kalah), serta rati ca dveṣa (cinta dan benci), hendaknya kita mampu menyikapinya dengan seimbang (samaḥ).

Marilah berlaku harmonis (Sundaram), tetap bersatu padu, dan senantiasa merasa puas dengan keadaan yang diperoleh (lābhasantuṣṭaḥ). Hadapilah kehidupan di jagat raya yang penuh pasang surut tanpa rasa permusuhan (Vimatsaraḥ), terlebih dalam suasana memperingati kemerdekaan.

Tetaplah menjalin rasa persatuan (Avimatsaraḥ). Jagalah rasa persaudaraan, kekeluargaan, serta keutuhan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Marilah bersama-sama menjalin kedamaian (satatam śāntaḥ). Saling memaafkan dan jadilah pribadi yang pemaaf (Kṣamā ca kṣamī).

Svaha. Dhanyavad.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tri Kaya Sandhi

    Mutiara Weda20/12/2025 Umat sedharma, di dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa umat Hindu, dalam menjalankan proses berpikir, melakukan perbuatan, maupun ketika akan mengeluarkan perkataan, hendaknya selalu berhati-hati serta mempertimbangkan akibatnya, baik maupun buruk dampaknya. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa pahala atau hasil dari buah karma akan diterima oleh orang yang berbuat, demikian pula oleh…

  • Pustaka Suci Weda, Bingkai dalam Kebhinekaan Hindu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 11/05/2026 Umat se-dharma, dalam pustaka suci Weda Saṁhitā disebutkan: “Śrutis tu vedo vijñeyo dharmaśāstraṁ tu vai smṛtiḥ,te sarvārtheṣv amīmāṁsye tābhyāṁ dharmo hi nirbabhau.” Artinya:Yang dimaksud dengan Śruti adalah Weda, sedangkan Smṛti adalah Dharmaśāstra. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya merupakan sumber Dharma. Hindu yang membumi dalam kebhinekaan…

  • Meayah Ayah – Ngayah Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/09/2025 Umat se-dharma, Dalam pustaka suci disebutkan: kurvan eveha karmāṇi jijīviṣet śataṁ samāḥ … dan seterusnya. Sesungguhnya hakikat hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini adalah untuk melakukan kerja — bekerja sebagai suatu kewajiban dan kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata hasil perbuatan yang selalu terpikirkan. Jangan semata-mata pahala menjadi motifnya. Inilah…

  • Filosofi Svadhà

    Disajikan sebuah ajaran luhur tentang Filosofi Svadhà, artinya persembahan terhadap leluhur. Mari dipahami ajaran ketuhanan yang terkait dengan Atma Sudha Dewata atau Leluhur yang menyatu dengan Brahmanpada pada pustaka suci Bhagavad Gītā IX.16 yang dikutip berikut ini: अहं क्रतुरहं यज्ञः स्वधाहमहमौषधम् ।मन्त्रोऽहमहमेवाज्यमहमग्निरहं हुतम् ॥ ९-१६॥ahaṁ kratur ahaṁ yajñaḥ svadhāham ahaṁ auṣadham,mantro ‘ham aham evājyam aham…

  • Sāttvika Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/02/2026 Umat Se-dharma, melaksanakan Pañca Mahā Yajña (lima korban suci besar) merupakan kewajiban suci dari petunjuk pustaka suci Weda Saṃhitā sebagai penyangga bumi, alam semesta beserta isinya, karena alam dan manusia diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui yajña. Ada lima unsur penting dalam meyajña (melaksanakan yajña): Oleh karena itu, sebagai umat Hindu…