Prathisthita (BG. II.68)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
2.10.2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Prathisthita artinya perkasa, teguh, kokoh, kuat, dan mantap.

Jadikanlah diri, lahir dan batin, senantiasa Prathisthita, tetap perkasa dalam menghadapi segala objek keinginan dalam kehidupan. Jangan biarkan diri dibimbangkan oleh berbagai godaan dan keinginan duniawi.

Mari kita membangun keteguhan diri, lahir dan batin, agar tetap kokoh dalam menjalani kehidupan.

Svasti ca sukhinah. Na kāma-kāmī. Svāhā.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kṛtakṛtya-Ātmarati

    Mutiara Weda20/01/2025 Umat Se-dharma, dalam Susastra disebutkan bahwa untuk mengarungi kehidupan yang sempurna (Kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (Ātmarati), penerapan nilai-nilai ajaran Dharma adalah hal yang tidak terpisahkan. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sadhana atau Catur Dharma Sadhana, yang merupakan Sesarining Dharma….

  • Filosofi Dvividhā Proktā

    Palangka Raya, 8.11.2025 Diuraikan tentang filosofi Dvividhā Proktā, artinya dua hal disiplin pengetahuan diajarkan konteks brahmacārī āśrama (masa siswa). Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Bhagavad Gītā III.3 yang dikutip sebagai berikut. “श्रीभगवानुवाचलोकेऽस्मिन्द्विविधा निष्ठा पुरा प्रोक्ता मयानघ ।ज्ञानयोगेन साङ्ख्यानां कर्मयोगेन योगिनाम् ॥३–३॥ śrī-bhagavān uvāca:loke ’smin dvi-vidhā niṣṭhā purā proktā mayā’naghajñāna-yogena sāṅkhyānāṁ karma-yogena yoginām Artinya:Śrībhagavān…

  • Sistācāraḥ (Sarasamuccaya 40)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Sistācāraḥ adalah orang yang mengajarkan Dharma, mengajarkan Śruti dan Smṛti, serta berperilaku jujur, setia, dan mulia. Jadilah seorang Sistācāraḥ di jagat raya, yaitu pribadi yang senantiasa menebarkan kebenaran, kebajikan, dan kemuliaan hidup secara bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh I Ketut Subagiasta Bagikan ke:

  • Filosofi Asakta Buddhih

    Palangka Raya, 21/09/2025 Diuraikan sebuah sajian konteks ekoteologi yakni Asakta Buddhih, artinya kecerdasan yang tidak terikat di mana saja. Mari dimaknai ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.49 yang dikutip berikut ini: असक्तबुद्धिः सर्वत्र जितात्मा विगतस्पृहः ।नैष्कर्म्यसिद्धिं परमां संन्यासेनाधिगच्छति ॥ १८-४९॥ asakta-buddhiḥ sarvatra jitātmā vigata-spṛhaḥ,naiṣkarmya-siddhiṁ paramāṁ sannyāsenādhigacchati Artinya:“Orang yang kecerdasannya tak terikat di mana…

  • Himsa Karma yang Diperbolehkan

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/12/2025 Umat sedharma, dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa ahiṁsā berarti tidak menyakiti dan tidak membunuh makhluk hidup secara sewenang-wenang. Tindakan menyakiti atau membunuh tanpa alasan yang benar tidak dibenarkan dalam ajaran Hindu. Namun demikian, melakukan hiṁsā karma—perbuatan membunuh dengan tujuan tertentu—diperbolehkan sebagai kewajiban suci apabila dilandasi niat kesucian dan dilaksanakan sesuai…

  • Krodha, Sang Penyebab Runtuhnya Nilai Kesabaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 18/06/2026 Umat sedharma, kesabaran merupakan kekayaan yang paling mulia dan tidak ternilai harganya. Ibarat emas dan permata, kesabaran mampu memerangi kekuatan hawa nafsu, sehingga tiada yang melebihi kemuliaannya. Tatkala kesabaran dan ketenangan hati berkurang, tidak akan pernah ada kepastian dalam persahabatan. Sebaliknya, jiwa murka akan menyelubungi kehidupan seseorang sehingga pertengkaran, perkelahian, permusuhan, dan…