Paricaryātmakam (BG. XVIII.44)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
12 September 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Paricaryātmakam artinya kegiatan dalam bentuk pelayanan. Umat Hindu ada di seluruh pelosok Tanah Air Indonesia. Lembaga keagamaan Hindu wajib memberikan kegiatan yang berdampak dalam bentuk pelayanan.

Apa pun profesinya, ayo memberikan pelayanan yang berdampak. Misalnya:

a. Brahmana/Rohaniwan memberikan pelayanan spiritual secara merata.

b. Ksatrya/Pengaman memberikan pelayanan dalam menjaga ketertiban publik agar tercipta kondisi yang aman dan nyaman.

c. Waisya/Pelaku ekonomi kerakyatan memberikan pelayanan demi kesejahteraan rakyat melalui pertanian, peternakan, perkebunan, perdagangan, dan wirausaha yang berdampak pada svasti atau kesejahteraan rakyat yang layak.

d. Sudra/Pelaku kerja atau karta karma memberikan pelayanan kerja yang berkualitas, tanpa kecurangan, profesional, dan kompetitif di era digital.

Mari dimaknai filosofi Paricaryātmakam. Semoga rakyat di akar rumput semakin terlayani dengan lebih baik (sreyan).

Rahayu. Svaha. Suksma. Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dharmādharmā

    Oleh I Ketut Subagiasta Diuraikan bahwa filosofi dharmādharmā berarti ajaran tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra I.26 berikut: “karmaṇāṃ ca vivekārthaṃ dharmādharmau vyavecayat, dvandvair ayojayac cemāḥ sukha-duḥkhādibhiḥ prajāḥ.” Terjemahan: “Lagi pula, untuk membedakan tingkah laku ciptaan-Nya, Ia membedakan tujuan antara dharma dan adharma, serta menjadikan makhluk mengalami…

  • Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

    Mutiara WedaYogyakarta, 25/04/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Tidak ada musuh yang lebih jahat daripada kemarahan (krodha), tidak ada kesengsaraan yang melebihi kerakusan (lobha), dan tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan seseorang dalam melepaskan ikatan nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan, terlebih…

  • Bersahabat dengan Kesabaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 31/10/2025 Umat se-dharma, jika direnungkan, hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini ibarat cakramanggilingan (roda kehidupan yang terus berputar), silih berganti—kadang di atas, kadang di bawah—penuh tantangan dan ujian hidup. Tanpa ombak yang ganas, tak akan pernah diketahui kemampuan seorang peselancar; demikian pula tanpa cobaan, tantangan, dan godaan hidup, tidak akan tampak kualitas…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/04/2026 Umat sedharma, para bijak mengatakan bahwa di zaman kaliyuga ini, musuh utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri, akibat ketidakmampuan mensinergikan unsur triguṇa, yaitu sattva, rajas, dan tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (kṣamā) merupakan sifat bijak dan mulia yang harus tertanam dalam diri setiap umat Hindu guna meningkatkan kualitas rohani…

  • Filosofi Pùjayitvà Grhasthah

    Oleh I Ketut Subagiaata Disajikan sebuah uraian dengan Pùjayitvà Grhasthah, artinya kewajiban kepala rumah tangga melakukan pemujaan suci berupa panca yajña. Mari dimaknai dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suciMĀNAVADHARMAŚĀSTRA – SLOKA III-117, yang dikutip sebagai berikut: “देवानृषीन् मनुष्यांश्च पितन् गृह्याश्च देवताःपूजयित्वा ततः पश्चाद् गृहस्थः शेषभुग्भवेत्”devānṛṣīn manuṣyāṁśca pitan gṛhyāśca devatāḥpūjayitvā tataḥ paścād gṛhasthaḥ śeṣabhugbhavet Artinya:Setelah…

  • Mohanya Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/11/2025 Umat sedharma, hukum karma mengatur dinamika kehidupan semua makhluk hidup di alam semesta, yang mengakibatkan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi), baik kelahiran di sorga maupun kelahiran di neraka, dengan Karma-veśanā (jejak karmic/impuls karma) sebagai pengikut setianya. Ketidakmampuan mengendalikan nafsu indriya (indra) sebagai Mohanya Karma menyebabkan kaburnya kesadaran umat manusia. Hal ini dapat…