Panca Yajñāḥ (BG. IV.28)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
10 September 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Panca Yajñāḥ artinya lima jenis Yajna yang terkendali dan luhur. Adapun lima pelaksanaan Yajna yang terkendali, terkontrol, dan tertata secara manajemen luhur, antara lain:

  1. Dravya Yajñās — Yajna berupa persembahan benda atau material yang luhur.
  2. Tapa Yajñā — Yajna melalui tapa, yaitu pengendalian dan kontrol diri secara stabil.
  3. Yoga Yajñās — beryajna dengan yoga, yaitu melalui fokus, konsentrasi, samadhi, dan meditasi suci.
  4. Svādhyāya Yajñās — beryajna melalui kegiatan belajar dan pengekangan diri, serta belajar dengan tekun untuk meraih kesuksesan sebagai bentuk Yajna.
  5. Jñāna Yajñās — beryajna melalui ilmu pengetahuan, yaitu menyebarluaskan ide-ide suci dan ajaran agama Hindu kepada publik sebagai Yajna yang luhur.

Intinya, Panca Yajñāḥ yang terkendali merupakan lima jenis Yajna yang luhur dalam tata manajemen Hindu. Ayo dimaknai filosofi Panca Yajñāḥ demi terwujudnya umat Hindu yang terkelola secara luhur.

Svasti. Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Apsu

    Disajikan Filosofi Apsu artinya air. Mari dimaknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-8 yang dikutip sebagai berikut ini: “मयि सर्वमिदं प्रोतं सूत्रे मणिगणा इव ॥ ७-७॥रसोऽहमप्सु कौन्तेय प्रभास्मि शशिसूर्ययोः ।raso ‘ham apsu kaunteya prabhāsmi śaśi-sūryayoḥ,praṇavaḥ sarva-vedeṣu śabdaḥ khe pauruṣaṁ nṛṣu. Artinya:Aku adalah rasa dalam air, wahai Arjuna; Aku adalah cahaya pada bulan dan…

  • Jalankan Svadharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/09/2025 Umat Se-dharma, Dalam śāstra diungkapkan bahwa manakala hidup menjelma menjadi manusia lalu ingkar terhadap pelaksanaan dharma, bahkan bingung dengan agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak — orang semacam ini disebut jātma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi…

  • Ngajegang Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/08/2026 Umat Sedharma, jika direnungkan, emas walaupun dipanaskan dan ditempa berkali-kali akan tetap memancarkan cahaya dan sinarnya. Demikian pula kayu cendana, walaupun digosok berulang-ulang, akan tetap mengeluarkan bau wangi dan harum. Begitu pula halnya dengan nilai-nilai kebajikan dan kebenaran yang tidak akan pernah luntur serta tidak akan berubah sepanjang zaman. Perlu disadari bahwa…

  • Ahaṅkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2026 Umat sedharma, jika direnungkan, manah (pikiran) sesungguhnya merupakan penyebab dari penderitaan dan kesengsaraan tatkala pikiran dicemari oleh hawa nafsu serta berbagai kekotoran Ahaṅkāra Jñāna. Apabila pikiran itu bersih dan suci, tidak dihinggapi kekacauan, tidak dibelenggu oleh hawa nafsu serta berbagai kecemaran, melainkan dipenuhi Sāttvika Vidyā (pengetahuan yang suci), itulah sesungguhnya hakikat kedamaian…

  • Jadikan Doa Sebagai Benteng

    Mutiara WedaYogyakarta, 16/09/2025 Umat se-dharma, umat Hindu memiliki keyakinan bahwa memuja kebesaran, keagungan, dan kemuliaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Ida Sang Hyang Parama Kawi adalah suatu kewajiban (Nama Smaraṇam). Serta, selalu mendekatkan dan berpasrah diri ke hadapan-Nya dengan memancarkan doa-doa pujaan sebagai Kavaca (pagar pelindung) dalam diri masing-masing. Pengucapan doa-doa pujaan atau…