Jīvātman Śarīram Ca (BG. II.22)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
Tanggal 20.9.2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Jīvātman Śarīram Ca artinya jiwa dan badan, rohani dan jasmani.

Manusia (manuṣya) wajib merawat jiwa dan badan. Merawat salah satunya saja akan membuat kehidupan menjadi pincang. Rohani dirawat, jasmani pun harus dirawat. Bayi (śiśu) dirawat hingga lanjut usia (vṛddha) pun tetap harus dirawat.

Ketika jiwa mengalami sakit (rughna), badan pun dapat merasakan dampaknya. Oleh karena itu, jiwa dan badan wajib dijaga agar tetap harmonis (sundaram).

Jiwa bersifat abadi (nityam), sedangkan badan bersifat tidak abadi (anityam). Jiwa dapat tetap sehat (svastha), sementara badan mengalami sakit (rughna). Dalam pandangan tentang kelahiran kembali, ketika badan berakhir, jiwa melanjutkan perjalanan melalui badan yang baru (punarjanma atau punarbhawa).

Bayi dirawat dengan penuh ketelatenan, demikian pula lansia dirawat dengan tekun, baik secara rohani maupun jasmani. Inilah pentingnya menjaga keharmonisan antara kesehatan jiwa dan kesehatan badan dalam kehidupan.

Salam Sehat (Svastha Abhivādan).
Svāha. Svasti. Śāntiḥ. Dhanyavadam (Suksma).

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Indriya

    Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan bahwa filosofi indriya berarti indra. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra II.96 sebagai berikut: “idānīm indriya-saṃyamopāya mahaḥ, na tathā etāni śakyante saṃniyamantum asevayā; viṣayeṣu prajuṣṭāni, tathā jñānena nityaśaḥ.” Terjemahan: “Indra yang sangat tertambat oleh benda-benda jasmani yang memberi kepuasan itu tidak akan dapat dikendalikan dengan baik…

  • Sanātana Dharma: Kebenaran Sejati

    Rahajeng Hari Raya Galungan Dumogi Ajeg dalam Mengemban Dharma Mutiara WedaYogyakarta, 17/06/2026 Umat sedharma, dalam sesanti Hindu tersurat bahwa kesucian batin akan dapat terwujud manakala seseorang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri, dengan landasan kemampuan serta kejujuran dalam menyinergikan pikiran, perkataan, dan perbuatan (Tri Kaya Sandhi). Dengan kesucian diri, akan dapat dibangun kedamaian dan…

  • Viśuddha Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/03/2026 Umat se-dharma, dalam pustaka suci Weda disebutkan: sesungguhnya semua umat manusia memiliki kebebasan, bebas menentukan kehendaknya, dan sepenuhnya pula bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri, yang disebut svatantra kartā (pelaku yang bebas menentukan tindakan). Demikian pula, tak satu pun manusia dapat luput dari kerja walaupun hanya sesaat; oleh hukum alam, manusia tidak…

  • Nirāhaṃkāra

    Mutiara Weda12/02/2026 Umat se-dharma, dalam ajaran agama Hindu, kelahiran menjelma menjadi manusia sangatlah utama, mulia, dan sangat sulit untuk diperoleh. Menjelma menjadi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dengan Tri Pramāṇa (tiga alat pengetahuan) guna menjalankan Wiweka (viveka, kemampuan membedakan) menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga dapat mengendalikan pengaruh dari…

  • Pancarkan Ajaran Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 4 Juni 2026 Umat se-dharma, dalam sebuah sesanti disebutkan: “Madhu viṣakuśumebhyo jāyate pathyam etat …” dan seterusnya. Madu yang sering dipakai sebagai obat berasal dari lebah yang memiliki sengat berbisa. Begitu pula halnya susu, minuman yang sangat berguna dan bermanfaat bagi tubuh manusia, berasal dari darah dan daging yang diproses secara alami dalam…

  • Filosofi Suvirùdha Mùlam

    Disajikan topik Suvirùdha Mùlam, yang berarti pohon atau tanaman yang berakar dalam dan kuat. Makna ini mengandung nilai-nilai luhur dalam ajaran ekoteologi Hindu — tentang pelestarian lingkungan dan keberlanjutan alam. Penjelasan ini bersumber dari Bhagavad Gītā XV.3, yang dikutip sebagai berikut: न रूपमस्येह तथोपलभ्यते नान्तो न चादिर्न च सम्प्रतिष्ठा ।अश्वत्थमेनं सुविरूढमूलमसङ्गशस्त्रेण दृढेन छित्त्वा ॥ १५-३॥…