Filosofi Suvirùdha Mùlam

Disajikan topik Suvirùdha Mùlam, yang berarti pohon atau tanaman yang berakar dalam dan kuat. Makna ini mengandung nilai-nilai luhur dalam ajaran ekoteologi Hindu — tentang pelestarian lingkungan dan keberlanjutan alam. Penjelasan ini bersumber dari Bhagavad Gītā XV.3, yang dikutip sebagai berikut:

न रूपमस्येह तथोपलभ्यते नान्तो न चादिर्न च सम्प्रतिष्ठा ।
अश्वत्थमेनं सुविरूढमूलमसङ्गशस्त्रेण दृढेन छित्त्वा ॥ १५-३॥

na rūpam asyeha tathopalabhyate nānto na cādir na ca sampratiṣṭhā
aśvattham enaṁ su-virūḍha-mūlam asaṅga-śastreṇa dṛḍhena chittvā

Artinya:
Bentuknya tidak dapat dipahami di dunia ini, tiada awal, tiada akhir, dan tiada dasar pasti. Pohon Aśvattha yang berakar kuat itu ditebang dengan kapak ketidakterikatan yang tajam dan kukuh.

Makna Filosofis Suvirùdha Mùlam

Konsep Suvirùdha Mùlam menyiratkan ajakan untuk:

  • Menanam pohon yang berakar kuat dan dalam,
  • Menopang kelestarian tanah,
  • Menyimpan air secara alami,
  • Mencegah tanah longsor dan banjir bandang,
  • Menghidupkan kembali lahan-lahan gersang.

Menanam pohon yang bermanfaat akan mencegah pohon tersebut ditebang sembarangan. Semakin besar manfaatnya (misalnya menghasilkan buah atau keteduhan), semakin besar pula kesadaran untuk menjaga dan merawatnya.

Contoh Tanaman Suvirùdha Mùlam

Beberapa tanaman yang dianjurkan:

  • Pohon buah: kelapa, durian, manggis, duku.
  • Pohon pelindung bumi: beringin (Bingin), pule, cempaka, cendana, majegau.

Pohon-pohon ini tidak hanya berperan sebagai penjaga lingkungan secara fisik, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Mereka dihormati dalam tradisi Hindu karena diyakini memiliki taksu (daya spiritual), sebagai sthana Sang Hyang Sangkara, dewa penjaga tumbuh-tumbuhan.

Pesan Utama

Mari sebagai umat Hindu:

  • Menanam pohon demi pelestarian alam,
  • Menumbuhkan rasa bhakti kepada Sang Hyang Sangkara,
  • Membangun lingkungan yang asri, sejuk, dan indah,
  • Tidak menebang pohon pelindung bumi secara sembarangan.

Na Chittvā — jangan menebang habis pohon pelindung bumi. Tanamlah pohon sebagai bentuk cinta terhadap alam dan bhakti terhadap Tuhan.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

I Ketut Subagiasta
Palangka Raya, 25 Mei 2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 18 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Jika dilihat dalam pustaka suci Weda, tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melakukan perbuatan baik (śubha karma) serta…

  • Umat Hindu Sembahyang Tiga Waktu

    Mutiara WedaYogyakarta, 19 Juli 2025 Umat Hindu Sembahyang Tiga Waktu Bapak dan Ibu Umat Se-Dharma yang terhormat, Di dalam pustaka suci Yajur Weda Samhitā diungkapkan tentang hakikat dari rasa bhakti. Dalam mengimplementasikan wujud rasa bhakti tersebut, umat Hindu menempuh jalan mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Ida Sang Hyang Parama Kawi…

  • Siklus Samsara

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/05/2025 Umat Se-dharma, lahir kembali menjelma menjadi manusia menjalankan siklus Samsara Punarbhawa sesungguhnya memanfaatkan waktu dan menggunakan kesempatan untuk lahir kembali dengan baik guna memperbaiki diri serta menjadi penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan hidup yaitu Catur Purusa Artha. Jangan sia-siakan waktu & kesempatan dengan melakukan perbuatan hina dan tercela, demikian pulajangan biarkan waktu…

  • Filosofi Om Tat Sat

    Palangka Raya, 13.5.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sebuah topik Filosofi Om Tat Sat, yang berarti tiga aspek lambang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa. Mari dipahami ajaran luhur tentang ketuhanan Hindu pada pustaka suci Bhagavad Gītā XVII-23 yang dikutip sebagai berikut: “ओं तत्सदिति निर्देशः ब्रह्मणस्त्रिविधः स्मृतः ।ब्राह्मणास्तेन वेदाश्च यज्ञाश्च विहिताः पुरा ॥ १७-२३॥oṁ tat sad…

  • Filosofi Naksatranam

    Disajikan topik Naksatranam artinya bintang-bintang. Mari maknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā X-21 yang dikutip sebagai berikut: “आदित्यानामहं विष्णुः ज्योतिषां रविरंशुमान् ।मरीचिर्मरुतामस्मि नक्षत्राणामहं शशी ॥ १०-२१॥ādityānām ahaṁ viṣṇur jyotiṣāṁ ravir aṁśumān,marīcir marutām asmi nakṣatrāṇām ahaṁ śaśi.” Artinya:“Dari para āditya, Aku adalah Viṣṇu; dari benda-benda yang bersinar Aku adalah Matahari; dari para Marut Aku…

  • Jalan Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/11/2025 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda diungkapkan: Svasti panthām anu careṇaṁ… dan seterusnya. Mengikuti jalan Dharma—jalan yang benar, jalan kebajikan—serta selalu mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan kewajiban setiap umat Hindu dalam melangsungkan kehidupan guna memperoleh tuntunan dan kemuliaan hidup. Orang yang memiliki keyakinan dalam menjalankan kebenaran dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *