Menabur Kebajikan sebagai Bentuk Yadnya Suci

Mutiara Weda
Yogyakarta, 16/04/2025

Umat se-dharma, ketika orang selalu menabur kebencian, itu suatu pertanda bahwa dia hanya memiliki kebencian di dalam dirinya. Akan tetapi, orang yang memiliki kebajikan / Dharma dapat dipastikan akan memancarkan ajaran kebenaran / Dharma Vahini dalam hidupnya.

Hanya orang yang sejuk di dalam hatinya yang bisa menemukan kesejukan, kedamaian, dan keharmonisan di luar. Sulit membayangkan ada orang yang hidupnya menyejukkan, menentramkan, dan damai kalau di dalam hatinya selalu bergejolak rasa iri hati, benci, dan dendam.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu jangan pernah berhenti dalam menabur kebajikan sebagai bentuk Yadnya Suci. Bangun kesejukan dan kedamaian dalam hati dengan selalu mengendalikan indria. Niscaya hidup yang Santih, Manah Santih, dan Parama Santih dapat terwujud.
(Kitab Ramayana & Panca Siskanya Angaji)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dharmādharmā

    Oleh I Ketut Subagiasta Diuraikan bahwa filosofi dharmādharmā berarti ajaran tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra I.26 berikut: “karmaṇāṃ ca vivekārthaṃ dharmādharmau vyavecayat, dvandvair ayojayac cemāḥ sukha-duḥkhādibhiḥ prajāḥ.” Terjemahan: “Lagi pula, untuk membedakan tingkah laku ciptaan-Nya, Ia membedakan tujuan antara dharma dan adharma, serta menjadikan makhluk mengalami…

  • Filosofi Bijam

    Disajikan topik Filosofi Bijam, yang artinya benih. Mari kita pahami dan maknai ajaran luhur dari pustaka suci Bhagavad Gītā VII.10 yang dikutip sebagai berikut: “जीवनं सर्वभूतेषु तपश्चास्मि तपस्विषु ॥ ७-९॥बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ viddhi pārtha sanātanam,buddhir buddhimatām asmi tejas tejasvinām aham.” Artinya:“Ketahuilah, wahai Pārtha, Aku ini adalah benih abadi dari…

  • Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/05/2025 Umat Se-dharma,Dalam pustaka suci ada mengungkapkan: tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan, begitu juga tidak ada musuh sejahat kemarahan (krodha), pun tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan. Demikian pula halnya, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan…

  • Rajasi (BG XVIII.31)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)23 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Rajasi (BG XVIII.31) Rajasi adalah orang yang dikuasai sifat rajas, yaitu pribadi yang keliru dalam memandang dan memahami kehidupan. Orang yang bersifat rajasi tidak mampu membedakan dharmam dan adharmam, yakni antara yang benar dan yang salah. Ia juga tidak mampu membedakan kebijaksanaan dan kebodohan…