Filosofi Shishu Màsà

Disajikan topik Filosofi Shishu Màsà yang artinya masa bayi. Mari dipahami upaya pembelajaran terhadap masa bayi dalam pustaka suci MĀNAVADHARMAŚĀSTRA SLOKA II-34 yang dikutip sebagai berikut ini:

“चतुर्थे मासि कर्तव्यं शिशोर्निष्क्रमणं गृहात्
षष्ठे ऽन्न प्राशनं मासि यद् वेष्टं मङ्गलं कुले
caturthe māsi kartavyaṁ śiśor niṣkramaṇaṁ gṛhāt
ṣaṣṭhe ’nna prāśanaṁ māsi yad veṣṭaṁ maṅgalaṁ kule”

Artinya:
Pada bulan keempat harus dilakukan upacara niṣkramaṇa bagi bayi, dan pada umur enam bulan dilakukan upacara annaprāśana, serta wajib pula melakukan upacara yang biasa dilakukan dalam keluarga itu.

Mengenai makna Shishu Màsà adalah masa bayi sebagai masa pembelajaran pertama kalinya. Masa ini penting dalam keluarga karena merupakan fondasi untuk membentuk anak yang berkualitas dan menjadi penerus keluarga yang tangguh dan berdaya saing, demi kemuliaan keluarga (kula).

Niskramana Màsà artinya masa bayi turun ke tanah untuk pertama kalinya. Bayi berumur tiga sampai empat bulan (Trayo Masi dan Caturthe Masi) mulai dilatih turun ke tanah pertama kalinya.

Saat upacara Netelunin dan upacara tiga bulanan, bayi dikenalkan pada alam. Ia mulai menginjakkan kaki ke bumi, belajar mengenal waktu tidur, menyusu, berbincang ringan, merangkak, duduk, berdiri pelan, menggerakkan tangan dan kaki, memegang benda ringan, dan berpegangan pada titi penuntun dengan pengawasan orang tua.

Bayi mulai mampu mendengarkan celoteh riang ayah ibunya, tersenyum gembira, dan menunjukkan respons aktif. Bayi tidak terus dipangku, juga tidak dibiarkan begitu saja karena masih dalam tahap pengenalan lingkungan awal: mengenali ayah ibu, iklim, dan cuaca sekitar.

Bayi tetap diproteksi secara aman, dari hawa panas dan dingin. Ia tetap mengenakan topong bayi, pakaian yang nyaman, kaus kaki lembut, serta alas kaki khusus bayi. Harapannya, bayi bisa menikmati lingkungan yang lebih terbuka, dengan pendekatan education baby yang leluasa sesuai usianya.

Ayah dan ibu harus konsisten dalam proses pembelajaran lingkungan ini secara bertahap (step by step) yang dinamis dan adaptif.

Annaprāśana Màsà artinya masa bayi mulai menerima makanan pertama kalinya. Saat bayi berumur enam bulan (ṣaṣṭha masi atau 210 hari), ia diberikan pembelajaran makan yang pertama.

Sebelum itu, sejak lahir bayi hanya minum ASI. Setelah memasuki usia enam bulan, dilakukan upacara Ngotonin sebagai simbol dimulainya tahap makan pertama kali demi mendukung pertumbuhan yang lebih optimal.

Makanan yang diberikan harus lembut, seperti bubur saring, bubur halus, atau bubur lembek — karena bayi belum bisa mengunyah. Pembelajaran makanan ini mendukung pertumbuhan fisik (śarīra) dan spiritual (buddhi) secara bersamaan dan seimbang.

Ayah dan ibu sebaiknya menyuapi sendiri dengan rasa cinta, kasih sayang, dan ketulusan. Luangkan waktu untuk menyuapi si buah hati, jangan menyerahkan sepenuhnya kepada baby sitter atau pengasuh.

Sesibuk apapun, menyuapi bayi adalah kewajiban luhur orang tua. Pastikan makanan yang diberikan bergizi, sehat, segar, mudah ditelan, dan sesuai dengan usia bayi. Hindari makanan yang pedas, panas, keras, lengket, basi, dingin, atau tidak layak untuk usia enam bulan.

Kini sudah tersedia banyak makanan bayi instan yang diulek halus, sehingga bayi lebih mudah dan nikmat saat belajar makan.

Intinya, filosofi Shishu Màsà adalah masa penting bagi bayi untuk belajar turun ke tanah pada usia 105 hari (tiga atau empat bulan), melalui upacara Netelunin atau Nelubulanan, dan belajar makan pada usia 210 hari (enam bulan), melalui upacara Ngotonin.

Semoga si bayi kelak menjadi anak Suputra–Suputri, yaitu anak laki-laki dan perempuan yang berkualitas bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia tercinta.

Semoga rahayu selalu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 6.8.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Jangan Pelihara Rasa Dengki dalam Diri

    Mutiara Weda 13/05/2025 Umat Sedharma, menjauhkan diri dari rasa dengki dan rasa iri hati (Matsarya) adalah kewajiban dasar dalam membangun tatanan kehidupan umat Hindu yang Satyam, Sivam, dan Sundaram. Kuatkan perbuatan, perasaan hati, dan cinta kasih kepada sesama (Prema Vahini). Jangan biarkan sifat iri hati dan dengki terlalu lama bercokol dalam diri. Manakala batin selalu…

  • Jalankan Svadharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/09/2025 Umat Se-dharma, Dalam śāstra diungkapkan bahwa manakala hidup menjelma menjadi manusia lalu ingkar terhadap pelaksanaan dharma, bahkan bingung dengan agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak — orang semacam ini disebut jātma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi…

  • Hiṁsa Karma & Unsur Penyupatan

    Mutiara WedaYogyakarta, 30/04/2026 Umat Sedharma, dalam susastra diajarkan: Ahimsa ngaranya tanpa mati-mati; menyakiti dan membunuh makhluk hidup dengan semena-mena tidak dibenarkan dalam ajaran agama Hindu. Namun demikian, melakukan Hiṁsa Karma, yaitu perbuatan membunuh dengan tujuan kesucian tertentu, dapat menjadi suatu kewajiban sebagaimana tersurat dalam pustaka suci Weda. Dalam kitab suci Vṛtti Śāsana tersurat bahwa melakukan perbuatan Hiṁsa Karma atau membunuh makhluk…

  • Belajar Menyikapi Proses Kehidupan

    Mutiara Weda Yogyakarta, 11/07/2026 Umat Sedharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Begitu pula, tidak ada musuh yang sejahat kemarahan (krodha), tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan, dan tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan pada…

  • Kebenaran Dharma Tertinggi

    Mutiara WedaYogyakarta, 21 Juni 2026 Umat sedharma, Dharma merupakan kewajiban suci yang harus didengar, dipahami, dan dilaksanakan apabila ingin mengerti hakikat kehidupan sebagai manusia. Dalam sebuah sesanti Hindu diungkapkan: “Di antara sesama manusia, Brahmana varṇalah yang tertinggi, yaitu mereka yang wruh ring sarwa jñāna (memahami seluruh pengetahuan suci Weda). Apabila dilihat dari sumber cahaya, mataharilah…

  • Pendidikan Hindu Dimulai Sejak Dalam Kandungan

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/11/2025 Umat se-dharma, jika dilihat dari konsep pendidikan, sesungguhnya pendidikan dalam ajaran Hindu telah dimulai sejak adanya benih bayi dalam kandungan melalui rangkaian upacara śarīra-saṁskāra: garbhādhāna-saṁskāra, puṁsavana-saṁskāra, dan sīmantonnayana-saṁskāra. Upacara garbhādhāna-saṁskāra dilaksanakan pada saat terjadinya pembuahan benih bayi dalam kandungan. Upacara puṁsavana-saṁskāra dilakukan ketika usia kandungan memasuki tiga bulan. Sedangkan sīmantonnayana-saṁskāra dilaksanakan saat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *