Filosofi Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ

Disajikan sebuah topik Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ yang berarti “istri berwajah cerah”. Mari dimaknai ajaran luhur bagi keluarga dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra sloka V.150 yang dikutip sebagai berikut:

“सदा प्रहृष्टया भाव्यं गृह कार्येषु दक्षया
सुसंस्कृतो पस्करया व्यये चामुक्त हस्तया
sadā prahṛṣṭayā bhāvyaṁ gṛha kāryeṣu dakṣayā
susaṁskṛto paskarayā vyaye cāmukta hastayā“

Artinya:
“Ia hendaknya selalu berwajah cerah, pandai dalam mengatur urusan rumah tangga, cermat dalam membersihkan alat-alat rumah tangga serta hemat dalam pengeluaran biaya.”

Makna Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ diuraikan secara singkat namun penuh manfaat, sebagai jalan menuju keluarga yang giat, semangat, kuat, dan sehat, sebagai berikut:

  1. Gṛha Kāryeṣu artinya pandai mengatur rumah tangga.
    Maknanya, istri berwajah cerah harus diimbangi dengan kepandaian dalam mengelola urusan rumah tangga. Keluarga tampak bahagia berkat kehadiran istri yang menawan dan piawai mengurus keuangan serta dinamika rumah tangga. Istri yang cantik, namun juga cerdik dalam menjaga keharmonisan keluarga — menjadikan rumah tangga rukun, damai, dan harmonis; menuju keluarga sukhinah.
  2. Susaṁskṛto artinya cermat dalam membersihkan alat rumah tangga.
    Maknanya, istri adalah kunci dari keluarga yang bersih, sehat, dan nyaman. Wajah cerah seorang istri seharusnya selaras dengan kondisi rumah tangga yang tidak jorok, tidak kumuh, tidak kotor, tidak berantakan, serta tidak dipenuhi konflik. Istri juga tidak selalu menuntut, tidak bermuka muram, tidak mudah tersinggung, dan tidak manja. Sebaliknya, ia menjadi penyemangat keluarga, pengendali suami agar tidak menyimpang — menjauhi kecurangan, perselingkuhan, perjudian, dan berbagai perilaku negatif lainnya.
  3. Paskarayā artinya hemat dalam mengatur keuangan keluarga.
    Maknanya, istri berwajah cerah diiringi dengan kebijaksanaan dalam mengelola keuangan. Ia tidak menciptakan kondisi sulit, tidak memancing pertengkaran, tidak gelisah, dan senantiasa hemat. Istri mampu berhemat tanpa keluhan berlebihan. Dalam suka duka, senyumnya meneduhkan suasana keluarga. Memang, menjadi istri ideal tidak mudah, tapi suami pun hendaknya tidak bersikap pelit. Bila memperoleh rejeki tambahan, hasil kerja keras tetap diberikan pada istri yang tangkas mengurus rumah tangga. Suami pun mencintai dengan tulus istri yang bersinar dalam cerah wajah dan keluhuran sikap — jauh dari kesulitan dan jauh dari hal-hal negatif.

Intinya, Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ adalah sosok istri berwajah cerah yang siap dan sigap mengurus keluarga sukhinah, sebagaimana tersurat dalam tiga komponen utama di atas.

Semoga rahayu. Svāhā. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 1 Agustus 2025

Oleh: I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kṛtakṛtya–Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/06/2026 Umat sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan bahwa dalam mengarungi kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (ātmarati), seseorang tidak dapat melepaskan diri dari penerapan nilai-nilai ajaran Dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma dalam diri sendiri sebagai jalan menuju Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sādhana atau Catur Dharma Sādhana, yang merupakan…

  • Kesucian Pangkal dari Kebenaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 01/11/2025 Umat se-dharma, seva atau pengabdian merupakan bagian dari kerja (karma). Dari pengabdian itulah akan terbangun kesucian dalam diri yang menjadi pondasi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian diri (śauca) akan lahir kemuliaan; dari kemuliaan akan muncul kehormatan; dan dari kehormatan itulah diperoleh kebenaran (satya). Oleh karena itu, sebagai umat Hindu bangunlah…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/07/2025 Umat Sedharma, dalam sastra ada tersurat bahwa dilahirkan hidup menjelma menjadi manusia, ingkar akan pelaksanaan Dharma, bahkan bingung dengan agamanya, apalagi hanya mengejar kenikmatan, kepuasan duniawi, serta berhati tamak — orang semacam ini disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki / membenahi…

  • Jangan Pelihara Rasa Dengki dalam Diri

    Mutiara Weda 13/05/2025 Umat Sedharma, menjauhkan diri dari rasa dengki dan rasa iri hati (Matsarya) adalah kewajiban dasar dalam membangun tatanan kehidupan umat Hindu yang Satyam, Sivam, dan Sundaram. Kuatkan perbuatan, perasaan hati, dan cinta kasih kepada sesama (Prema Vahini). Jangan biarkan sifat iri hati dan dengki terlalu lama bercokol dalam diri. Manakala batin selalu…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/01/2026 Umat se-dharma,orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kali Yuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Hal ini terjadi akibat ketidakmampuan manusia mensinergikan unsur Tri Guṇa—sattva (kemurnian/keseimbangan), rajas (dinamika/nafsu), dan tamas (kegelapan/kemalasan)—di dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan kṣamā (sikap memaafkan dan tahan uji) merupakan sifat bijak dan…

  • Medharmasanti

    Mutiara Weda21/03/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda diungkapkan: “Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, berpikirlah bersama, dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama.” Ajaran ini mengingatkan kita sebagai umat sedharma untuk selalu bersinergi dan bersatu guna mencapai tujuan bersama.Sahṛdayaṃ saṃmanasyam avidveṣaṃ kṛṇomi vaḥ. Ida Sang Hyang Widhi Wasa menganugerahkan sifat ketulusan, kesamaan batin, serta perasaan…