Filosofi Niyatam Karma

Palangka Raya, 16.3.3025

Disajikan topik filosofi Niyatam Karma, yakni bekerja sesuai yang telah ditentukan. Dalam sudut pandang manajemen pendidikan, karma atau kerja adalah aktivitas (acting). Maknai ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā III-8 yang dikutip sebagai berikut:

“यतः एवं अतः
नियतं कुरु कर्म त्वं कर्म ज्यायो ह्यकर्मणः ।
शरीरयात्रापि च ते न प्रसिध्येदकर्मणः ॥ ३-८॥

niyataṁ kuru karma tvaṁ karma jyāyo hyakarmaṇaḥ
śarīra-yātrāpi ca te na prasiddhyed akarmaṇaḥ“

Artinya:
Bekerjalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat, dan bahkan tubuh pun tak akan berhasil terpelihara tanpa berkarya.

Makna luhur filosofi Niyatam Karma adalah bekerja sesuai yang telah ditentukan dalam ajaran luhur sesuai ajaran agama. Begitu pula dalam manajemen pendidikan, kerja tersebut merupakan kerja yang terprogram atau kerja terencana. Kerja atau action dalam pola manajemen pendidikan bertujuan mulia untuk mencerdaskan anak bangsa Indonesia.

Kerja tertib, kerja disiplin, kerja bertanggung jawab, kerja taat peraturan, kerja bermutu, dan kerja profesional merupakan ketentuan dalam manajemen pendidikan. Karma jyāyo adalah kerja yang lebih baik. Karma śreyaḥ adalah kerja yang lebih mulia. Jika mampu, lakukan karma uttama, yakni kerja yang terbaik.

Intinya, melakukan Niyatam Karma adalah bekerja sesuai yang ditentukan dalam ajaran agama Hindu dan juga bermakna acting dalam manajemen pendidikan demi terwujudnya tujuan pendidikan yang sukses.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Dharma Pravrtti

    Mutiara Weda02/08/2025 Umat se-dharma, tiga sifat kemahakuasaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menciptakan, memelihara, dan melebur, ketiganya melekat dalam perwujudan Tuhan sebagai Tri Murti. Demikian juga kelahiran (Utpati), kehidupan (Sthiti), dan kembali ke asal (Pralina) atau Tri Kona merupakan hukum kodrat Tuhan (Ŗta) bagi setiap yang hidup di alam semesta ini. Pada dasarnya, hakikat…

  • Sang Yatha Sakti Kayika Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/09/2025 Umat se-dharma, ajaran agama Hindu memiliki konsep jenjang kehidupan yang sangat jelas dan tersusun secara sistematis yang dikenal dengan nama Catur Āśrama, yaitu empat tahapan hidup yang wajib dilalui oleh setiap umat manusia (Brahmacārī, Gṛhastha, Wānaprastha, dan Bhikṣuka). Pada tahapan kedua, Gṛhastha Āśrama, merupakan tahapan sebagai ujian yang sebenarnya, di mana seseorang…

  • Nidhanam (BG III.35)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)8 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Nidhanam (BG III.35) Nidhanam berarti kematian. Menjalankan tugas mulia sebagai tugas utama diri sendiri, meskipun belum sempurna, tetap lebih baik daripada menjalankan tugas orang lain dengan lebih baik tetapi penuh bahaya atau bhayāvaha. Marilah memaknai filosofi Nidhanam (kematian) dalam kaitannya dengan Svadharma (tugas sendiri) dan…

  • Rahasia Perbuatan

    Mutiara WedaYogyakarta, 5 Juni 2026 Umat sedharma, jika direnungkan, sesungguhnya rahasia dari perbuatan sangatlah sulit untuk dimengerti. Apa yang dimaksud dengan perbuatan dan tindakan seperti apakah yang tidak tergolong sebagai perbuatan. Orang yang mampu melihat perbuatan di dalam ketidakberbuatan, serta melihat ketidakberbuatan di dalam perbuatan, sesungguhnya tergolong sebagai orang yang bijak dan mulia. Oleh karena…

  • Paisunyam (SS.75)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)19.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Paisunyam (SS.75) Paisunyam adalah fitnah. Umat Hindu jangan berkata fitnah atau melakukan Paisunyam (Ujar Pisuna). Fitnah adalah dosa besar. Fitnah adalah berkata dusta. Fitnah adalah berkata yang merusak martabat. Fitnah tidak perlu dibalas dengan dendam atau advesa. Fitnah hendaknya diklarifikasi dengan jujur atau arjawa. Dosa fitnah…

  • Jangan Menjadi Jadma Kesasar

    Mutiara WedaYogyakarta, 24 Juni 2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat bahwa manakala memperoleh kesempatan lahir dan hidup menjelma sebagai manusia, namun ingkar terhadap pelaksanaan Dharma, serta hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan nafsu duniawi dengan hati yang tamak, maka orang seperti itu disebut jadma kesasar (manusia sesat). Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat…