Filosofi Muni

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan sebuah topik mengenai Muni artinya pertapa, bijaksana, pandita. Mari dipahami dengan saksama ajaran luhur pada pustaka suci
SĀRASAMUCCAYA – SLOKA 505 yang dikutip sebagai berikut ini:

“duhkheṣvanudvignamanāh sukheṣu vigataspṛhah, vītaṣoka bhaya krodhah sthira dhīmuni ruṣyate.
Sang kinahananing kaprajnān ngaranira, tan alara yan panēmu duhkha, tan agirang yan panēmu sukha, tātan kataman krodha, mwang takut, prihati, langgēng mahning juga tuturnira, apar majñāna, muni wi ngaraning majñāna.”
Artinya:
Orang yang ketempatan kearifan budi, tidak bersedih hati jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati jika mendapat kesenangan, tidak kerasukan nafsu marah dan rasa takut serta kemurungan hati, melainkan selalu tetap tenang jernih kesadaran beliau, karena beliau itu memiliki keluhuran budi — muni-lah pula disebut orang yang maha arif bijaksana.

Catatan: “Muni” berarti bijaksana, pertapa, pandita.

Adapun sasana konteks Muni yang melakoni sebagai tapasya atau pertapa, sebagai pandita atau pendeta, sebagai bhiksu atau wiku, sebagai sādhaka atau sulinggih, antara lain:

a) Kaprajñān artinya bijaksana dan berbudi luhur. Maknanya bahwa Sang Bhiksuka memiliki pengetahuan luhung, memiliki pengetahuan suci berupa pengetahuan Veda.
b) Tan Duhkha artinya tidak bersedih hati. Maknanya bahwa Muni sebagai Bhiksuka memiliki pribadi yang tenang, damai, rukun, jiwa harmonis, jiwa tulus, dan tidak larut dalam kedukaan yang mendalam.
c) Tan Agirang artinya tidak bersukaria, tidak bergirang. Maknanya bahwa Muni sebagai Bhiksuka tidak terpengaruh dengan kepribadian yang sukaria yang melebihi jati diri, tidak terpesona dan meluap-luap, namun tampil apa adanya, biasa-biasa saja, tetap tenang penuh dengan kondisi sederhana, dan tampil normal.
d) Akrodha artinya tidak marah. Maknanya bahwa Muni sebagai Bhiksuka tetap tampil tanpa kemarahan, tidak murka, tidak terpancing asutan negatif yang menimbulkan rasa durhaka, tidak menunjukkan pribadi marah, dan selalu stabil, selaras, serasi, harmonis diri secara lahir batin.

Intinya bahwa Muni sebagai pertapa atau tapasya, sebagai orang suci yang bijaksana, sebagai pandita yang berbudi pekerti luhur. Muni merupakan tahapan Bhiksuka yang dapat menempatkan diri selaku Wiku sejati.

Semoga rahayu. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 17.7.2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)2 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7) Śubhakarma adalah melakukan perbuatan mulia. Ada sembilan yang disebut Nava Śubhakarma, sebagai berikut: Asubhakarma adalah menghindari perbuatan kejam. Ada lima yang disebut Pañca Hiṃsā Karma, sebagai berikut: Pañca Hiṃsā Karma atau Pañca Aśubhakarma adalah lima perbuatan kejam yang tidak boleh dilakukan…

  • Filosofi Tyàgi

    Palangka Raya, 5.6.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Tyàgi, artinya orang yang meninggalkan pahala perbuatannya. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.11 yang dikutip sebagai berikut: “न हि देहभृता शक्यं त्यक्तुं कर्माण्यशेषतः ।यस्तु कर्मफलत्यागी स त्यागीत्यभिधीयते ॥ १८-११॥na hi deha-bhṛtā śakyaṁ tyaktuṁ karmāṇy aśeṣataḥ,yas tu karma-phala-tyāgī sa tyāgīty abhidhīyate. Artinya:Sesungguhnya, tak…

  • Pentingnya Menjaga Kesucian Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/07/2025 Umat Se-dharma, kesucian batin itu akan dapat terwujud manakala memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, dengan kesucian diri akan dapat membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi atau Hukum Ṛta ataupun…

  • Filosofi Saṁbandhinaḥ

    Disajikan sebuah topik tentang Saṁbandhinaḥ artinya sanak keluarga atau sanak kandung. Mari dipahami anggota keluarga besar sebagaimana diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gītā I.34 yang dikutip sebagai berikut: “आचार्याः पितरः पुत्राः तथैव च पितामहाः ।मातुलाः श्वशुराः पौत्राः स्यालाः सम्बन्धिनस्तथा ॥ १-३४॥ācāryāḥ pitaraḥ putrās tathāiva ca pitāmahāḥ,mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ śyālāḥ saṁbandhinas tathā.” Artinya:Guru, bapa, anak-anak dan…

  • Filosofi Mahadewa

    Disajikan dengan topik Filosofi Mahadewa: artinya Dewa penganugerah Sarwa Bijaksana yang paling utama. Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Śiva Purāṇa – 1.24.89-90 yang dikutip sebagai berikut: “अकारो गार्हपत्याग्निर्भूधर्मश्च रजोगुणः ।ऋग्वेदश्च क्रियाशक्तिः प्रातःसवनमेव च ॥ ८९ ॥महदेवश्च रेखायाः प्रथमायाश्च देवता ।विज्ञेया मुनिशार्दूलाः शिवदीक्षापरायणैः ॥ ९० ॥akāro gārhapatyāgnirbhūdharmaśca rajoguṇaḥ |ṛgvedaśca kriyāśaktiḥ prātaḥsavanameva ca || 89…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara Weda15/03/2025 Umat Sedharma, dalam susastra ada ungkapan: orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan mendapatkan kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra—walaupun terus-menerus, namun tetap tenang tak bergerak. Demikian pula halnya dengan orang yang berjiwa sabar dan…