Filosofi Kham Prakṛti

Palangka Raya, 16.9.2025

Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Kham Prakṛti, artinya sifat alami langit atau eter. Ajaran mulia pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 dikutip sebagai berikut:

भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।
bhūmir āpo ’nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,
ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.

Artinya:
Tanah, air, api, udara, eter, pikiran, buddhi, dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah.

Adapun makna ekoteologi filosofi Kham Prakṛti antara lain disajikan sederhana sebagai berikut. Kham yakni langit atau eter. Maknanya, langit tetap dijaga kondisinya, jangan sampai tertutup kabut asap tebal, demi langit cerah yang bermanfaat untuk lintasan udara yang segar. Langit dikuasai atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dalam murti sebagai Sang Hyang Ākāśa atau Sang Hyang Indra, penguasa langit atau eter atau angkasa luar.

Umat manusia berusaha dari bumi dengan memelihara bumi ini supaya tetap hijau, subur, makmur, serta terhindar dari musibah atau bencana kebakaran hutan yang berdampak pada kabut asap. Kabut asap menjadikan langit gelap, langit biru sirna, tertutup asap pekat. Sebaliknya, langit berawan atau mendung menandakan saat hujan turun, maka langit kembali cerah.

Pada langit ada surya, candra, dan tārā (bintang). Mega atau awan sebagai warna langit pertanda akan hujan. Pada langit ada pelangi yang indah, ada petir saat tanda hujan, ada gemuruh keras pertanda akan turun hujan. Saat siang surya bercahaya, saat malam ada bulan dan bintang yang bersinar. Pada saat tilem atau amāvāsya bulan menghilang, sedangkan pada śukla pakṣa terjadi bulan penuh terang (pūrṇimā). Pada kṛṣṇa pakṣa terjadi tilem atau amāvāsya.

Surya melintas di sebelah utara garis khatulistiwa (Uttarāyaṇa), bermakna saat subha dewasa sarwa ulācara. Saat surya melintas ke selatan garis khatulistiwa dinamai Dakṣiṇāyaṇa, yang dalam tradisi dipandang sebagai dauh ala atau hari tidak baik untuk upacara agama.

Sradha Hindu meyakini ilmu perbintangan (Jyotiṣa) untuk menentukan konteks kehidupan beragama Hindu, yang lazim disebut subha dewasa (hari baik) dan asubha dewasa (hari buruk). Begitu luhurnya ilmu Kham Prakṛti, sifat langit yang alami, sebagai tuntunan praktik beragama Hindu.

Secara aparāvidyā, para vidvān (ilmuwan) telah memanfaatkan langit sebagai jalur teknologi, seperti internet, pesawat (plane), roket (Apollo), nuklir, dan ilmu dirgantara dalam monitoring TNI Angkatan Udara. Jaringan langit juga dimanfaatkan untuk siaran RRI (on air), penyiaran televisi (broadcast), dan lainnya. Namun pecinta layang-layang tetap waspada di dekat area bandara, karena bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat udara.

Intinya, ada makna luhur filosofi Kham Prakṛti, yakni sifat alami langit atau eter yang wajib dijaga secara ekoteologi, supaya manusia dianugerahi langit cerah, langit biru, dan langit mendung yang mencurahkan hujan bagi kesuburan serta kemakmuran bumi, termasuk kelestarian alam yang indah dan asri.

Semoga semua rahayu oleh kehendak Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menuju damai lahir batin. Semoga semua bahagia dan sejahtera lahir batin.

Ksama ca Ksami.
Om Santih Santih Santih Om.

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tiga Siklus Hidup Manusia

    Mutiara Weda Yogyakarta, 8 Juli 2026 Umat Se-dharma, jika disadari, sesungguhnya setiap umat manusia tidak akan pernah lepas dari tiga siklus alur proses kehidupan, yaitu utpatti, sthiti, dan pralina; kelahiran, kehidupan, dan akhirnya menuju kematian atau kembali ke asal sebagai tiga kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yaitu Tri Kona. Setiap manusia yang hidup di…

  • Dharma Śāsana

    Mutiara Weda Yogyakarta, 12/10/2025 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda Saṁhitā ada menyebutkan: “Satyabrūyat priyaṁ, priyaca nānṛta brūyād eṣa dharma sanātanam.” Hendaknya ia mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang; dengan ajaran Ethika Hindu menjadi pijakannya Dharma Śāsana. Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran yang semu dan menyakitkan serta jangan pula…

  • Filosofi Naksatranam

    Disajikan topik Naksatranam artinya bintang-bintang. Mari maknai ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā X-21 yang dikutip sebagai berikut: “आदित्यानामहं विष्णुः ज्योतिषां रविरंशुमान् ।मरीचिर्मरुतामस्मि नक्षत्राणामहं शशी ॥ १०-२१॥ādityānām ahaṁ viṣṇur jyotiṣāṁ ravir aṁśumān,marīcir marutām asmi nakṣatrāṇām ahaṁ śaśi.” Artinya:“Dari para āditya, Aku adalah Viṣṇu; dari benda-benda yang bersinar Aku adalah Matahari; dari para Marut Aku…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara Weda27/09/2025 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapapun. Melakukan perbuatan baik (Subha Karma) serta mensinergiskan pikiran, perkataan, dan perbuatan, sambil…

  • Filosofi Ambuvegàh

    Palangka Raya, 10/6/2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sebuah topik Ambuvegàh yang artinya aliran air yang deras. Ajaran ekoteologi ini dikutip dari pustaka suci Bhagavad Gītā XI.28 sebagai berikut: “यथा नदीनां बहवोऽम्बुवेगाः समुद्रमेवाभिमुखा द्रवन्ति ।तथा तवामी नरलोकवीरा विशन्ति वक्त्राण्यभिविज्वलन्ति ॥ ११-२८॥”yathā nadīnāṁ bahavo ‘mbu-vegāḥ samudram evābhimukhā dravanti,tathā tavāmī nara-loka-vīrā viśanti vaktrāṇy abhivijvalanti. Artinya:Bagaikan sungai-sungai banjir,…

  • Orang Tua: Dewa dalam Keluarga

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/07/2025 Umat se-Dharma, dalam ajaran agama Hindu, kedua orang tua (bapak dan ibu) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan membimbing sang anak diibaratkan sebagai Dewa dalam keluarga — Pitṛ Deva Bhava. Orang tua merupakan sarana terciptanya tubuh ini dan menjadi Dewa sekala bagi sang anak. Maka,…