Filosofi Īśvaraḥ

Disajikan topik Filosofi Īśvaraḥ, artinya Tuhan Yang Maha Esa, penguasa semua makhluk hidup. Mari dimaknai ajaran suci dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XV-8 yang dikutip sebagai berikut:

“शरीरं यदवाप्नोति यच्चाप्युत्क्रामतीश्वरः ।
गृहीत्वैतानि संयाति वायुर्गन्धानिवाशयात् ॥ १५-८॥

śarīraṁ yad avāpnoti yac cāpy utkrāmatīśvaraḥ,
gṛhītvaitāni saṁyāti vāyur gandhān ivāśayāt.

Artinya:
“Bila Tuhan mengenakan suatu badan jasmani dan apabila Ia meninggalkannya, Ia juga membawa serta mereka dan berlalu, bagaikan angin yang membawa bau harum dari sumbernya.”

Makna luhur Filosofi Īśvaraḥ adalah bahwa Tuhan Yang Maha Esa merupakan sumber hidup dari semua makhluk yang hidup di bumi, di air, dan di udara. Īśvaraḥ adalah sumber kehidupan dari semua kehidupan. Īśvaraḥ memiliki kekuatan Vāyu atau Bāyu (angin) yang menjadikan makhluk hidup bisa bergerak, bernapas, dan berkembang, dengan spirit jīva (jiwa) dan śarīra (badan), sehingga kehidupan terjadi di seluruh jagat raya. Di darat ada kehidupan, di air ada kehidupan, di udara pun ada kehidupan.

Intinya, Īśvaraḥ berlaku adil dengan memberikan Vāyu atau angin kepada semua makhluk, agar ciptaan-Nya dapat hidup di seluruh komponen alam semesta. Makhluk hidup bisa bergerak, berjalan, berenang, dan terbang. Īśvaraḥ sebagai Tuhan Yang Maha Adil—menciptakan segalanya, memelihara semuanya, dan pada saatnya, mengembalikan semuanya. Jiwa kembali ke asal-Nya, sedangkan śarīra (tubuh) dikembalikan ke asalnya, yaitu unsur Pañca Mahā Bhūta:

  • Pṛthivī (unsur padat)
  • Agni atau Teja (unsur panas)
  • Āpah (unsur air)
  • Vāyu (unsur udara atau angin)
  • Ākāśa (unsur ether)

Secara ekoteologis, Īśvaraḥ adalah sumber dari kehidupan, diwujudkan dalam bentuk Pañca Mahā Bhūta.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 2.7.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Berbuat dengan Ketanpa-Akuan

    Mutiara Weda Yogyakarta, 13/10/2025 Umat sedharma, dalam śāstra diungkapkan: orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan mendapatkan kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra — walaupun terus-menerus namun tetap tenang tak bergolak. Demikian juga halnya dengan orang yang…

  • Filosofi Saraswati, Pañcami Bhavati

    Oleh I Ketut Subagiasta Palangka Raya, 8 Februari 2025 Hari Saniscara Umanis Watugunung adalah hari suci Saraswati, di mana terdapat lima hal yang dihormati. Ajaran luhur ini dapat dimaknai melalui pustaka suci Mānava Dharmaśāstra – Sloka II-136 yang dikutip berikut ini: “वित्तं बन्धुर्वयः कर्म विद्या भवति पञ्चमीएतानि मान्यस्थानानि गरीयो यद् यदुत्तरम्” “Vittaṁ bandhurvayaḥ karma vidyā…

  • Sat, Cit, Ananda Brahman

    Mutiara WedaYogyakarta, 05/08/2026 Umat Sedharma, Pustaka Suci Weda mengajarkan agar kita senantiasa setia, jujur, dan memegang teguh kebenaran dalam menapaki jalan menuju ketenangan serta kedamaian batin (Parama Śānti). Satyam eva jayate nānṛtam.Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Kebenaran dan kejujuran merupakan sifat serta hakikat Ketuhanan, yaitu Sat, Cit, Ananda Brahman, yang menjadi bagian dari dasar…

  • Cakra Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 2 Agustus 2026 Umat Sedharma, Sifat melayani nilai-nilai Dharma (Dharma Sevanam) merupakan bagian dari etos kerja atau Subha Karma yang sesuai dengan ajaran etika Hindu. Sikap melayani dalam menegakkan nilai-nilai kebajikan kepada sesama (Dharma Sevanam) akan membangun kesucian diri serta menjadi fondasi utama dalam mengarungi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian akan…

  • Filosofi Asakta Buddhih

    Palangka Raya, 21/09/2025 Diuraikan sebuah sajian konteks ekoteologi yakni Asakta Buddhih, artinya kecerdasan yang tidak terikat di mana saja. Mari dimaknai ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.49 yang dikutip berikut ini: असक्तबुद्धिः सर्वत्र जितात्मा विगतस्पृहः ।नैष्कर्म्यसिद्धिं परमां संन्यासेनाधिगच्छति ॥ १८-४९॥ asakta-buddhiḥ sarvatra jitātmā vigata-spṛhaḥ,naiṣkarmya-siddhiṁ paramāṁ sannyāsenādhigacchati Artinya:“Orang yang kecerdasannya tak terikat di mana…

  • Membangun Kualitas Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/01/2026 Umat Sedharma, bila cinta kasih mengisi pikiran manusia, maka akan menjelma menjadi kebenaran Satya (kebenaran). Tatkala cinta kasih menyatakan dirinya dalam bentuk kegiatan, maka ia menjadi Dharma (kebajikan). Demikian pula, bila perasaan diliputi oleh cinta kasih, maka ia akan menjadi perwujudan kedamaian Santih (damai). Pada hakikatnya, melaksanakan cinta kasih itu adalah perbuatan Dharma (kebajikan), berpikir cinta kasih sesungguhnya adalah Satya (kebenaran), dan…