Ahning Maneb Manah Nira

Mutiara Weda

Yogyakarta, 09/10/2026

Umat se-dharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan yang kasar (tan ujar ahala), serta tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat dan tercela.

Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada bedanya dengan membidik dan melepaskan anak panah; setiap orang yang terkena pasti akan merasakan sakit yang teramat dalam. Sebaliknya, perkataan yang bermaksud baik dan diucapkan dengan cara yang baik pula hanya akan menimbulkan kesenangan. Namun, apabila maksudnya baik tetapi tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka dapat menimbulkan rasa duka yang teramat dalam.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu untuk selalu berhati-hati dalam perbuatan maupun dalam mengeluarkan perkataan, dengan senantiasa menampakkan nilai kebajikan, kedamaian, serta jiwa yang meneduhkan. Jagalah kesucian pikiran (ahning maneb manah nira) dan berjanjilah pada diri sendiri untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran. Niscaya, akan terbangun umat Hindu yang damai dan bahagia serta memperoleh amerta dalam kehidupannya. (SS 117–124)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sradha Landasan Menuju Sanatana Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/07/2025 Umat Se-dharma, kesucian batin itu akan dapat terwujud manakala memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, dengan kesucian diri akan dapat membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi atau Hukum Ṛta, ataupun…

  • Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) 25 Juni 2026 Oleh I Ketut Subagiasta Martyasya Rakṣa (Yajurveda III.30) Martyasya Rakṣa berarti “selamatkanlah semuanya”. Tekunlah melestarikan lagu-lagu suci keagamaan dan rajin melaksanakan yajña. Hindarkan sikap ego atau ahaṅkāra (keangkuhan diri), serta jauhilah sikap kekerasan dalam hidup atau hiṁsā karma (perbuatan menyakiti). Bagikan ke:

  • Kavaca dan Pañjara dalam Mantra

    Mutiara WedaYogyakarta, 18/04/2026 Umat sedharma, dalam upaya mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, umat Hindu tidak terlepas dari penggunaan doa atau mantra Weda yang berfungsi sebagai kavaca dan pañjara. Pengucapan mantra dengan fungsi kavaca mengandung makna sebagai “pakaian” atau “pelindung diri”, sedangkan pañjara bermakna “benteng”. Keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai perlindungan…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/05/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak bergerak. Demikian pula halnya dengan orang…

  • Yajña Tiang Penyangga Pura

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: yasyāṃ sadoha vṛdhane yūpo yasyāṃ nimīyate… yang mengandung makna bahwa di tempat suci (pura) tempat dipancangkannya yūpa (tiang upacara yajña), di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan hadir menganugerahkan keselamatan jiwa dan ketenangan batin. Melaksanakan yajña suci, khususnya pañca mahā yajña, merupakan sarana bagi umat Hindu…

  • Berkesadaran Berperilaku Bijak

    Mutiara WedaYogyakarta, 20 Juli 2026 Orang yang memiliki kualitas kerohanian pada tingkatan Samyagjñāna serta memahami berbagai pengetahuan suci (Vruh Ring Sarva Jñāna) tidak akan pernah menghiraukan niat-niat jahat maupun berbagai tipu muslihat dari orang yang berhati jahat. Apabila direnungkan, sesungguhnya sumber kejahatan itu terletak pada hati nurani manusia, sebagaimana diungkapkan dalam ajaran rihati ya tonggwanya…