Viniyatam Cittam (BG. VI.18)

DHARMASHABADANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
22.10.2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Viniyatam Cittam artinya pikiran sangat berdisiplin. Kedisiplinan diri itu faktornya dari diri, oleh diri, untuk diri. Jangan mendisiplinkan orang lain bila diri saja tidak disiplin.

Dimulai dari disiplin pikiran, dilanjutkan disiplin perkataan, direalisasikan dalam disiplin perbuatan. Mari dimaknai filosofi Viniyatam Cittam untuk menumbuhkan diri menjadi sangat berdisiplin dalam beraktivitas untuk melakoni kehidupan yang bermutu, sukses, dan berdaya saing penuh tanggung jawab.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Panca Vidha dalam Agama Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/07/2026 Umat Se-Dharma, dalam ajaran agama Hindu, taat dan patuh kepada orang tua atau Guru Rupaka, serta berbhakti kepada para leluhur merupakan kewajiban bagi sang anak dalam membangun keluarga Hindu yang bahagia, Sukino Bhawantu, nantinya. Ada lima hal yang menyebabkan sang anak wajib berbhakti kepada orang tua (Guru Rupaka) dan para leluhur, yang…

  • Berbuat dengan Ketanpa-Akuan

    Mutiara Weda Yogyakarta, 13/10/2025 Umat sedharma, dalam śāstra diungkapkan: orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan mendapatkan kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus ibarat air yang masuk ke dalam samudra — walaupun terus-menerus namun tetap tenang tak bergolak. Demikian juga halnya dengan orang yang…

  • Kṛtakṛtya – Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra disebutkan bahwa untuk mencapai kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kebahagiaan (ātmarati), tidak dapat dilepaskan dari penerapan nilai-nilai ajaran dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran dharma dalam diri sebagai jalan menuju Sang Maha Pencipta disebut dharma sādhana. Hal ini juga dikenal sebagai catur dharma sādhana (empat jalan pengamalan dharma)…

  • Filosofi Asakta Buddhih

    Palangka Raya, 21/09/2025 Diuraikan sebuah sajian konteks ekoteologi yakni Asakta Buddhih, artinya kecerdasan yang tidak terikat di mana saja. Mari dimaknai ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.49 yang dikutip berikut ini: असक्तबुद्धिः सर्वत्र जितात्मा विगतस्पृहः ।नैष्कर्म्यसिद्धिं परमां संन्यासेनाधिगच्छति ॥ १८-४९॥ asakta-buddhiḥ sarvatra jitātmā vigata-spṛhaḥ,naiṣkarmya-siddhiṁ paramāṁ sannyāsenādhigacchati Artinya:“Orang yang kecerdasannya tak terikat di mana…

  • Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)3 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74) Aṣṭa Coraḥ dan Ṣaḍātatāyī adalah delapan perbuatan curang dan enam perbuatan kejam. Ada caturdaśa atau empat belas perbuatan curang dan kejam, antara lain: membegal, merampas, merampok, mengamuk, menganiaya, membunuh, menyihir, meracun, mencuri, memfitnah, memancung, menyakiti, merusak, dan menipu….

  • Filosofi Tyàgi

    Palangka Raya, 5.6.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Tyàgi, artinya orang yang meninggalkan pahala perbuatannya. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.11 yang dikutip sebagai berikut: “न हि देहभृता शक्यं त्यक्तुं कर्माण्यशेषतः ।यस्तु कर्मफलत्यागी स त्यागीत्यभिधीयते ॥ १८-११॥na hi deha-bhṛtā śakyaṁ tyaktuṁ karmāṇy aśeṣataḥ,yas tu karma-phala-tyāgī sa tyāgīty abhidhīyate. Artinya:Sesungguhnya, tak…